TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Harga telur ayam ras di sejumlah pedagang eceran di Kota Jambi kembali mengalami kenaikan.
Dalam beberapa hari terakhir, harga telur naik sekitar Rp200 per butir, kondisi yang dikeluhkan pedagang karena berdampak pada penurunan daya beli masyarakat.
Salah seorang pedagang telur di Kota Jambi, Yana, mengatakan kenaikan harga dari distributor membuat pedagang eceran terpaksa menyesuaikan harga jual kepada konsumen.
"Naiknya sekitar Rp200 per butir. Kami ikut menaikkan harga karena memang harga dari pemasok juga naik," kata Yana, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, kenaikan harga tersebut membuat sebagian pelanggan mengurangi jumlah pembelian.
Jika sebelumnya banyak pembeli membeli satu papan telur, kini sebagian memilih membeli setengah papan atau bahkan satuan.
"Pembeli jadi berpikir dua kali. Ada yang biasanya beli satu papan sekarang hanya setengah papan. Dampaknya tentu ke penjualan kami," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Astrid. Ia mengaku kenaikan harga telur justru membuat pedagang kecil berada pada posisi sulit karena keuntungan semakin menipis, sementara omzet ikut menurun.
"Kami sebenarnya ikut rugi. Harga naik memang ada penyesuaian, tetapi pembeli berkurang. Jadi barang lebih lama terjual," kata Astrid.
Astrid menjelaskan, informasi yang diterimanya dari pemasok menyebutkan kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan telur sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali beroperasi usai libur sekolah berakhir.
Selain itu, pasokan ke pedagang eceran juga berkurang karena sebagian pemasok memilih menyalurkan telur langsung dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.
"Supplier bilang sekarang banyak permintaan untuk MBG. Mereka lebih banyak memasok dalam jumlah besar sehingga stok ke pedagang kecil berkurang. Akibatnya harga di tingkat eceran ikut naik," jelasnya.
Para pedagang berharap pasokan telur kembali normal sehingga harga dapat stabil. Mereka khawatir apabila harga terus meningkat, daya beli masyarakat akan semakin menurun dan berdampak pada pendapatan pedagang eceran.
Sementara itu, sejumlah konsumen mengaku mulai mengurangi pembelian telur akibat kenaikan harga tersebut. Mereka berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok agar tetap terjangkau di tengah meningkatnya permintaan.
Baca juga: Desis Terdengar dari Lubang Berisi Delapan Telur Kobra di Kota Baru Jambi