Kesaksian Warga Saat Banjir Bandang Terjang Kampung Lelipang Sangihe: Lari dan Selamatkan Anak
Chintya Rantung July 25, 2026 02:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Banjir bandang yang menerjang Kampung Lelipang, Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe, pada Rabu (22/07/2026) meninggalkan pengalaman mencekam bagi warga yang terdampak.

Salah satunya dialami Siska Tahulending (44), warga Kampung Lelipang, yang harus menyelamatkan diri bersama anak-anak dan keluarganya saat air mulai memasuki rumah mereka.

Dalam wawancara dengan Tribunmanado, Sabtu (25/07/2026), Siska menceritakan detik-detik saat banjir bandang menerjang kampungnya setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak malam hingga pagi hari.

Menurutnya, saat hujan terus turun tanpa henti, dirinya dan keluarga awalnya lebih mengkhawatirkan kondisi orang tua mereka yang tinggal di bagian bawah kampung yang selama ini lebih rentan terdampak banjir.

"Kalau ada banjir, dari dulu kami cuma khawatir orang tua yang tinggal di bawah. Jadi kami panggil suami untuk membantu mereka, angkat barang-barang karena takut air masuk ke rumah orang tua," ungkap Siska.

Saat itu, dirinya bersama suami berupaya membantu mengamankan barang-barang milik orang tua mereka. Namun situasi berubah begitu cepat ketika debit air terus meningkat.

"Kurang lebih setengah jam kemudian, suami bilang coba lihat dulu rumah yang di atas. Waktu saya ke atas, ternyata air sudah masuk ke dalam rumah," katanya.

"Saya kembali ke bawah panggil suami. Saya bilang cepat ke atas karena air sudah masuk rumah," ujarnya.

Di tengah kepanikan, Siska masih sempat masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan sejumlah dokumen penting sebelum akhirnya memilih menyelamatkan diri bersama keluarga.

"Kami sempat ambil beberapa berkas penting di dalam rumah, lalu langsung lari bersama anak-anak dan keluarga," tuturnya.

Ketika kondisi semakin berbahaya dan air terus naik, warga diminta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Kami lari ke gereja. Ibu pendeta panggil kami supaya cepat mengungsi ke gereja," katanya.

Siska mengungkapkan peristiwa banjir bandang tersebut terjadi sekitar pukul 08.00 Wita pada Rabu pagi, setelah hujan deras mengguyur Kecamatan Tamako sejak malam sebelumnya.

"Itu sekitar jam 8 pagi. Hujan deras dari malam sampai pagi tidak berhenti," ujarnya.

Ia mengaku bersyukur bencana tersebut terjadi pada pagi hari sehingga warga masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri dan mengamankan sebagian dokumen penting.

"Kalau mungkin kejadiannya malam hari, habis semuanya. Tidak ada yang tersisa," katanya dengan nada haru.

Banjir bandang yang menerjang Kampung Lelipang dan sejumlah wilayah lainnya di Kecamatan Tamako menyebabkan rumah-rumah warga terendam air dan lumpur. Material banjir juga masuk ke dalam rumah, merusak perabotan serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Hingga kini, warga masih berupaya membersihkan sisa lumpur dan material yang terbawa arus banjir, sementara pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, relawan, dan berbagai pihak terus melakukan penanganan serta menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.