SURYAMALANG.COM, MADIUN - Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan tantangan menjaga ketahanan pangan, seorang inovator dan peneliti asal Madiun, Jawa Timur, Cahya Yudi Widianto, mengembangkan riset mengenai produksi biodiesel melalui teknologi yang ia sebut sebagai "De Novo & Ex Novo".
Penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan Marolis Biodiesel 100 (MB-100), yaitu bahan bakar diesel berbasis 100 persen non-fosil, sebagai salah satu alternatif energi terbarukan yang diharapkan dapat mendukung kemandirian energi Indonesia.
Riset yang dikembangkan merupakan bagian dari perjalanan penelitian yang telah dilakukan selama lebih dari dua dekade.
Berawal dari penelitian di bidang mikrobiologi, bakteri, dan enzim, Cahya terus mengembangkan pendekatan ilmiah yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya hayati untuk menjawab berbagai tantangan strategis nasional, khususnya di bidang energi dan pertanian.
Baca juga: Sebut Wartawan Londo Ireng, FJTB Desak Prabowo Minta Maaf: Introspeksi, Bukan Cari Kambing Hitam
Menurut Cahya Yudi Widianto, kebutuhan Indonesia terhadap energi alternatif semakin mendesak seiring meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil serta tuntutan transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
"Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang sangat besar. Melalui penelitian ini, kami berupaya mengembangkan teknologi yang mampu memanfaatkan potensi tersebut menjadi bahan bakar alternatif yang lebih berkelanjutan, dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas," ujar Cahya melalui keterangan yang diterima SURYAMALANG.COM, Sabtu (25/7/2026).
Pengembangan Marolis Biodiesel 100 (MB-100) ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam memperkuat bauran energi nasional.
Dengan memanfaatkan sumber daya nonfosil, inovasi ini diarahkan untuk mendukung berbagai upaya pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, serta memperluas pemanfaatan energi terbarukan.
Apabila melalui tahapan pengujian, standardisasi, dan regulasi yang berlaku teknologi ini dapat diterapkan secara luas, keberadaannya berpotensi memberikan manfaat bagi berbagai sektor yang bergantung pada bahan bakar diesel, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, logistik, hingga industri.
Baca juga: Aturan Camping di Pantai Mutiara Trenggalek Viral: Wisatawan Kesal Diminta Bongkar Tenda Jam 8 Pagi
Selain berpotensi mendukung ketahanan energi, penelitian ini juga memiliki keterkaitan erat dengan upaya memperkuat kemandirian pangan nasional.
Pasalnya, sektor pertanian Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan bahan bakar diesel untuk mengoperasikan traktor, pompa air, mesin panen, alat pengolahan hasil pertanian, hingga kendaraan distribusi.
Gangguan terhadap pasokan atau tingginya harga solar dapat memengaruhi biaya produksi dan kelancaran rantai pasok pangan.
Dalam konteks tersebut, ketersediaan biodiesel alternatif seperti Marolis Biodiesel MB-100, apabila memenuhi standar mutu, keamanan, serta memperoleh persetujuan regulator, berpotensi memberikan sejumlah manfaat strategis:
Dengan demikian, energi dan pangan menjadi dua sektor yang saling berkaitan.
Ketersediaan energi yang andal dapat mendukung produktivitas pertanian, sementara sektor pertanian yang produktif menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional.
Perjalanan penelitian Cahya Yudi Widianto sendiri telah dimulai sejak tahun 2003.
Berbagai penelitian mengenai mikroorganisme, bakteri, enzim, dan bioteknologi dilakukan secara berkesinambungan sebagai upaya mencari solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Baca juga: Ancam Kenyamanan, Warga Mulyorejo Surabaya Tolak Pembangunan Kos-kosan Didukung Aturan Ketat Perda
Salah satu yang menarik, menurut Cahya, inspirasi penelitian tidak hanya berasal dari kajian ilmiah modern, tetapi juga dari perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur'an yang dipahami sebagai dorongan untuk terus mengeksplorasi fenomena alam melalui pendekatan ilmiah.
Pendekatan tersebut menjadi landasan dalam mengembangkan berbagai inovasi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
Ke depan, Cahya berharap hasil riset yang dikembangkannya dapat menjadi bagian dari ekosistem inovasi nasional melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dunia usaha, serta berbagai pihak terkait.
Cahya menilai, pengembangan teknologi energi alternatif memerlukan proses yang melibatkan pengujian ilmiah, validasi independen, sertifikasi, dan dukungan kebijakan agar dapat diimplementasikan secara luas dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Baca juga: Apa Itu B50? BBM Jenis Baru yang Resmi Diluncurkan Prabowo Hari Ini untuk Setop Impor Solar
"Kami berharap penelitian ini dapat terus dikaji, diuji, dan dikembangkan bersama berbagai pemangku kepentingan. Inovasi akan memberikan dampak yang lebih besar apabila dibangun melalui kolaborasi yang kuat," ujar Cahya.
Sebagai informasi, penelitian mengenai produksi biodiesel melalui teknologi "De Novo & Ex Novo" berfokus pada pengembangan biodiesel berbasis sumber daya nonfosil sebagai alternatif bahan bakar diesel.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat terus melalui tahapan pengembangan, pengujian, dan evaluasi sesuai ketentuan ilmiah dan regulasi yang berlaku sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.