TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Bank Sampah Kodya Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) mampu memilah sekitar 900 kilogram sampah plastik setiap bulannya.
Lokasi bank sampah ini berada di Lorong Kodya, Kelurahan Watu-Watu, Kecamatan Kendari Barat tak jauh dari SMAN 1 Kendari.
Bank sampah yang mulai beroperasi sejak akhir 2022 itu kini memiliki sekitar 150 nasabah aktif.
"Sampai hari ini nasabah Bank Sampah Kodya kurang lebih 150 orang," kata Kepala Administrasi sekaligus Ketua RT, Gebye Marini, Sabtu (25/7/2026).
90 persen nasabah maupun pengurusnya merupakan perempuan yang memanfaatkan sampah sebagai sumber tambahan penghasilan.
Hingga saat ini, nilai tabungan tertinggi yang dimiliki salah seorang nasabah telah mencapai Rp3 juta.
Bank Sampah Kodya menerima 15 jenis sampah yang masih memiliki nilai ekonomi mulai dari besi tebal, besi tipis, aluminium, kertas HVS putih, kertas warna, koran, kardus.
Hingga berbagai jenis plastik seperti botol dan gelas air mineral, baskom bocor, gelas minuman, gelas capcin, kaleng, jeriken, serta botol oli.
Baca juga: Cerita Nasabah Bank Sampah Kodya Kendari Ubah Barang Bekas Jadi Cuan, Tabungan Capai Rp3 Jutaan
Harga beli sampah plastik berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram.
Sementara kertas, besi, dan aluminium dihargai mulai Rp150 hingga Rp6.000 per kilogram, tergantung jenisnya.
Penimbangan sampah dilakukan setiap Sabtu pukul 08.00-12.00 Wita.
Hasil penjualan dapat langsung dicairkan atau disimpan sebagai tabungan oleh para nasabah.
Untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah, bangunan Bank Sampah Kodya baru saja direvitalisasi.
Sehingga mampu menampung lebih banyak sampah, terutama plastik dan kardus bekas.
Revitalisasi tersebut merupakan dukungan dari Raja Fondation melalui Program Perempuan Mandiri Tanggap (Permata).
Waste Management Leader Nature Evolution Indonesia, Setiawan mengatakan, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengelolaan sampah.
Tetapi juga mendorong ekonomi sirkular sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pengelolaan lingkungan.
Selain merevitalisasi bangunan bank sampah, program itu juga memberikan buku tabungan kepada nasabah.
Serta perlengkapan pendukung bagi pengurus untuk kegiatan pengelolaan sampah dan kebun organik.
"Ada dua unit perahu untuk nelayan plastik di Talia dan Petoaha, bangunan Bank Sampah Kodya, juga beberapa fasilitas untuk kebun organik," ujarnya.
Pria akrab disapa Wawan itu menilai, meski volume sampah yang dikelola belum mencapai satu ton, namun administrasi di Bank Sampah Kodya sudah berjalan dengan baik.
Menurutnya, model pengelolaan tersebut akan diperluas ke wilayah lain di Kota Kendari untuk meningkatkan pengurangan sampah berbasis masyarakat.
Dia menjelaskan, syarat utama membentuk bank sampah adalah adanya komitmen warga untuk memilah dan mengumpulkan sampah dari rumah masing-masing.
"Kalau sudah terkumpul sekitar 100 sampai 200 kilogram, kami datang melakukan penimbangan dan pembayaran langsung," jelas Wawan. (*)
(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)