Masih Ada Sawah di Tengah Kota Ciamis, Ternyata Simpan Sejarah Kanjeng Prebu dan Mata Air
Dedy Herdiana July 25, 2026 06:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Di tengah pesatnya pembangunan kawasan perkotaan, masih terdapat hamparan sawah hijau seluas sekitar empat hektare yang bertahan di kawasan Situs Jambansari, Kabupaten Ciamis.

Sawah yang berada di jantung Kota Ciamis itu bukan sekadar lahan pertanian. 

Kawasan tersebut juga menyimpan sejarah peninggalan Bupati Galuh RAA Kusumadiningrat atau Kanjeng Prebu, sekaligus menjadi sumber mata air yang hingga kini tak pernah kering.

Saat siang atau sore hari, kawasan Jambansari kerap menjadi tempat warga bersantai. 

Hamparan sawah hijau dengan semilir angin menjadi pemandangan yang kontras di tengah padatnya bangunan dan lalu lintas perkotaan.

Juru Kunci Situs Jambansari, Nandang Sembada, mengatakan nama Jambansari memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan banyak mata air di kawasan tersebut.

"Jambansari itu identik dengan mata air. Bukan satu, tetapi jumlahnya belasan. Karena itulah Kanjeng Prebu menamakan kawasan ini Jambansari," kata Nandang, Sabtu (25/7/2026).

Baca juga: Penyuluh Pertanian di Ciamis Temukan Cara Tingkatkan Hasil Panen Padi, Naik Jadi 7 Ton per Hektare

Menurut dia, pada masa lalu terdapat sumber mata air terbesar di sebelah barat makam Kanjeng Prebu. 

Air dari sumber tersebut mengalir ke sebuah kolam besar atau situ yang menjadi penampungan air.

Ia menjelaskan, kawasan Jambansari dahulu jauh lebih luas dibandingkan sekarang, bahkan membentang hingga kawasan belakang Green Hotel dan seberang SMAN 2 Ciamis.

"Dulu Situ Jambansari ini seperti bank air. Airnya dialirkan ke kantor-kantor pemerintahan," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, situ tersebut berubah menjadi areal persawahan dan kebun. 

Dari total sekitar empat hektare sawah yang ada, sebagian dikelola petani dan hasilnya digunakan untuk mendukung perawatan Situs Jambansari.

Sementara itu, sekitar 250 bata sawah di bagian utara menjadi lahan bengkok bagi juru kunci. 

Lahan tersebut merupakan amanat Kanjeng Prebu sebagai pengganti gaji dan hingga kini masih dikelola secara turun-temurun.

Nandang mengatakan, salah satu keistimewaan Jambansari adalah pasokan airnya yang tidak pernah habis meski memasuki musim kemarau.

Di kawasan tersebut terdapat tiga sumur dengan kedalaman sekitar dua hingga tiga meter yang tetap mengeluarkan air sepanjang tahun.

"Alhamdulillah, air di sini tidak pernah habis. Warga sering datang mengambil air untuk kebutuhan konsumsi," katanya.

Selain dikenal sebagai kawasan bersejarah, Jambansari juga masih mempertahankan tradisi turun mandi yang merupakan amanat Kanjeng Prebu. 

Tradisi tersebut dahulu dilakukan bagi anak-anak yang akan menjalani khitan.

"Sekarang masih ada, tetapi tidak sesering dulu. Biasanya untuk menghibur anak yang akan disunat. Yang datang juga dari berbagai daerah di Ciamis yang mengetahui sejarahnya," ucap Nandang.

Menurutnya, keberadaan Jambansari menjadi bukti bahwa ruang hijau, sumber air, dan warisan sejarah masih dapat bertahan di tengah perkembangan Kota Ciamis serta menjadi kearifan lokal yang terus dijaga hingga sekarang.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.