Siasat Agroforestri Petani Muara Kilis: Kebun Jeruk Jadi Naungan Kopi demi Mitigasi Konflik Gajah
Mareza Sutan AJ July 25, 2026 06:49 PM

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA TEBO – Upaya memulihkan ekosistem sekaligus menjaga roda ekonomi terus digaungkan oleh masyarakat di sekitar Bentang Alam Bukit Tigapuluh (BABT).

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Bambang, seorang Kepala Dusun sekaligus anggota kelompok tani di Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, Jambi.

Sebagai salah satu petani dampingan WWF, Bambang dan kelompoknya tengah menerapkan sistem agroforestri (tumpang sari) dengan memanfaatkan komoditas hortikultura sebagai tanaman naungan untuk budidaya kopi di lahan mereka.

Saat ini, Bambang mengelola lahan seluas 4 hektar, di mana 3 hektar ditanami jeruk siam madu dan 1 hektar sisanya ditanami cengkIh. 

Kebun jeruk siam madu miliknya kini telah memasuki masa produktif yang menjanjikan.

"Ini sudah masuk tahun ketiga. Sebenarnya saat umur 2,5 tahun sudah mulai belajar berbuah karena kami sudah tidak sabar, dan ini adalah buah kedua," ujar Bambang saat menunjukkan kondisi kebunnya.

Siasati Cuaca Ekstrem dan Ruang Kosong

Meski menunjukkan hasil positif, fase awal penanaman jeruk di wilayah tersebut diakui tidak mudah akibat karakteristik cuaca lokal Jambi yang ekstrem.

"Waktu kita tanam itu sebenarnya di musim banyak hujan. Tapi di Jambi ini, ketika panas terik terjadi meski hanya 1 jam, itu rasanya sangat menyengat. Akibatnya tanaman bisa kering lalu mati," kenang Bambang.

Untuk mengoptimalkan lahan, Bambang memanfaatkan lorong-lorong di antara tegakan pohon jeruk yang masih luas untuk ditanami kopi.

Strategi ini sejalan dengan karakteristik tanaman kopi yang membutuhkan intensitas cahaya tersaring atau naungan.

"Harapan besar kami ada di kopi ini, karena lorong di antara tanaman jeruk kan luas sekali. Katanya kopi itu bagus kalau ada naungan, dan nantinya naungan itu adalah pohon jeruk kita ini setelah kopinya di-stek atau diokulasi. Kalau untuk kopi kami tidak ragu, karena buah kopi itu tidak pernah berhenti berproduksi, mirip seperti jeruk," tambahnya optimis.

Bagian dari Restorasi Berbasis Masyarakat WWF

Aktivitas pertanian yang dilakukan Bambang merupakan bagian dari Program Restorasi Berbasis Masyarakat yang diinisiasi oleh WWF di lanskap Bukit Tigapuluh.

Program ini hadir sebagai jawaban atas tantangan ekologis dan sosial secara terpadu di kawasan BABT.

Berdasarkan kajian WWF, Bentang Alam Bukit Tigapuluh merupakan hutan tropis dataran rendah di Pulau Sumatera yang memiliki nilai konservasi tinggi sebagai habitat penting bagi spesies kunci seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Namun, beberapa dekade terakhir tutupan hutannya menyusut drastis, kini hanya tersisa sekitar $191.400 per hektare atau sekitar 40 persen dari total luas awal yang mencapai lebih dari $450.000 per hektare.

Penyusutan ini didominasi oleh adanya 5 konsesi, perambahan, dan perubahan tutupan lahan yang menyebabkan fragmentasi habitat. 
Dampak fatalnya adalah meningkatnya interaksi negatif atau konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya gajah Sumatera, yang kerap merusak tanaman sawit warga sehingga memicu kerugian ekonomi.

Melalui pendekatan berbasis komoditas agroforestri ini, WWF mendampingi petani untuk memperkaya jenis tanaman di lahan mereka, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sawit yang selama ini dikenal sangat menarik gajah sebagai sumber pakan.

Agroforestri Sebagai 'Pagar Alami' dari Gajah

Secara ekologis, model agroforestri di Desa Muara Kilis dirancang sedemikian rupa untuk menjadi natural barrier atau penghalang alami guna membangun koeksistensi (hidup berdampingan) yang damai antara manusia dan gajah.

Berdasarkan data pergerakan gajah BKSDA tahun 2018–2024, wilayah desa dampingan ini merupakan koridor yang cukup sering dilalui gajah.

Sebagai solusinya, tanaman kayu seperti Gaharu, Meranti, dan Pulai ditanam di bagian tepi atau batas kebun sebagai pagar alami karena jenis pohon ini tidak disukai gajah. 
Sementara itu, tanaman buah dan komoditas seperti kopi atau kakao ditanam di sela-sela kebun inti untuk menyokong ekonomi warga.

Strategi natural barrier ini juga menjadi edukasi penting pasca-tragedi Mei 2024 yang menunjukkan fatalnya penggunaan pagar kawat berlistrik (electric fencing) tanpa pengetahuan yang mumpuni, yang tidak hanya membahayakan satwa terlindungi tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial antarwarga.
Indikator Keberhasilan dan Digitalisasi Lewat 'Reconnect+'

Hingga Juni 2026, Program Restorasi Berbasis Masyarakat ini telah menunjukkan perkembangan yang sangat positif.

Program ini berhasil melibatkan 7 kelompok masyarakat di dua desa (Desa Suo-suo dan Desa Muara Kilis) dengan total 112 warga yang terlibat aktif.

Dari target awal penanaman 30.000 bibit, aplikasi pemantau Reconnect+ mencatat sebanyak 30.523 bibit tanaman dari 23 jenis berbeda telah berhasil diverifikasi dan terdokumentasi hidup di lapangan, mencakup luasan lahan masyarakat sebesar 163,62 hektare.

Untuk menjaga keberlanjutan pasca-fase awal, WWF menargetkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) minimal 80 % .

Menyadari adanya risiko kematian tanaman akibat faktor alam—seperti banjir lumpur pada Maret-April 2026 lalu maupun kekeringan—petani diwajibkan menyediakan 20 % bibit sulaman mandiri guna meningkatkan rasa kepemilikan (ownership) terhadap proyek restorasi ini.

Menariknya, seluruh pertumbuhan dan koordinat pohon kini dipantau secara semi real-time menggunakan aplikasi digital Reconnect+.

Melalui teknologi geo-spasial ini, setiap pohon dijepret dan dicatat titik koordinatnya secara akurat agar program dapat dipertanggungjawabkan secara transparan kepada donor, publik, dan pemerintah.

Meskipun di lapangan para petani tradisional sempat menghadapi tantangan gawai dengan kapasitas RAM rendah (2 GB) serta keterbatasan sinyal, kendala tersebut dapat diatasi berkat fitur offline pada aplikasi serta solidaritas antar-petani muda yang saling meminjamkan gawai demi menyukseskan pendataan restorasi demi masa depan hijau Jambi.

 

Baca juga: Petani Bukit Tigapuluh Pilih Agroforestri: Solusi Pemulihan Lingkungan dan Penopang Ekonomi

Baca juga: Bayi Gajah 15 Bulan di Bukit Tigapuluh Tebo Luka-luka Kena Jerat Sling Baja 2 Pekan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.