SERAMBINEWS.COM, BAGHDAD – Seorang pemimpin kelompok bersenjata di Irak menyatakan dukungannya terhadap ancaman kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, pemimpin kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran itu menegaskan bahwa mereka mendukung setiap langkah Houthi yang bertujuan menekan pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam konflik di kawasan, termasuk melalui penguasaan jalur pelayaran strategis.
Kelompok Houthi sebelumnya mengancam akan memperluas operasi militernya di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb apabila konflik regional terus berlanjut.
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran komunitas internasional karena selat itu merupakan jalur penting bagi perdagangan dunia dan distribusi energi.
Baca juga: Serangan Houthi Hantam 2 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi, Ketegangan Laut Merah Meningkat
Selat Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Jalur tersebut menjadi lintasan utama kapal-kapal dagang yang berlayar menuju Terusan Suez.
Sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi rantai pasok global, pengiriman minyak, serta meningkatkan biaya logistik internasional.
Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan Laut Merah telah menjadi lokasi sejumlah serangan terhadap kapal komersial yang diklaim dilakukan kelompok Houthi.
Serangan-serangan itu mendorong Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya meningkatkan patroli militer untuk menjaga keamanan pelayaran internasional.
Hingga kini belum ada indikasi penutupan total Selat Bab al-Mandeb.
Baca juga: Iran Laporkan tak Ada Serangan Baru dari AS, Ketegangan di Kawasan Teluk Masih Tinggi
Namun, dukungan dari kelompok bersenjata Irak terhadap ancaman Houthi dinilai dapat meningkatkan risiko meluasnya konflik di kawasan dan menambah tekanan terhadap jalur perdagangan internasional.
Sejumlah negara terus menyerukan penahanan diri kepada seluruh pihak yang terlibat agar ketegangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas dan mengganggu stabilitas kawasan maupun perekonomian global.(*)