TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Wajah Zainal masih tampak tegang ketika mengingat detik-detik dirinya nyaris kehilangan nyawa akibat tertimpa pohon tumbang di Jalan Soekarno Hatta, Desa Tarempa Selatan, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Sabtu (25/7/2026).
Sopir perusahaan ekspedisi nasional itu mengaku hingga kini masih dihantui rasa trauma setelah mobil yang dikendarainya tiba-tiba dihantam pohon berukuran besar saat melintas di jalan tersebut.
Kepada TribunBatam.id, Zainal menceritakan, peristiwa itu terjadi sekira pukul 14.15 WIB.
Saat itu ia bersama rekannya, Andika, baru saja mengambil mobil Daihatsu Grand Max bernomor polisi BM 8086 QN di kawasan Puskesmas Tarempa dan hendak pulang ke rumah.
Perjalanan yang awalnya berlangsung normal berubah menjadi mimpi buruk hanya dalam hitungan detik.
Tidak ada hujan deras maupun firasat yang membuatnya curiga sebelum musibah itu terjadi.
"Dari ambil mobil di Puskesmas Tarempa. Tidak ada firasat apa-apa. Enggak tahunya pas melintas di jalan ini, tiba-tiba pandangan saya langsung gelap," kata Zainal.
Saat pandangannya menghitam, Zainal mengaku belum mengetahui penyebabnya.
Benturan keras yang mengguncang mobil membuatnya sempat mengira dirinya pingsan atau mengalami pitam.
Ia tetap berusaha mengendalikan kendaraan dengan menekan pedal gas. Namun mobil sama sekali tidak bergerak.
Baru setelah terdengar teriakan warga dari luar, ia menyadari sebuah pohon besar telah roboh dan menimpa hampir seluruh bagian mobil yang ditumpanginya.
"Saya kira saya pitam. Badan juga enggak terasa sakit. Jadi saya tetap paksa injak gas mobil, tapi tetap enggak bisa jalan. Baru tahu setelah ada warga teriak kalau mobil kami tertimpa pohon," ujar Zainal.
Kepanikan pun langsung menyelimuti Zainal dan Andika.
Keduanya berusaha membuka pintu untuk menyelamatkan diri, tetapi seluruh sisi kendaraan tertutup batang pohon, ranting, daun, hingga akar yang berserakan di atas mobil.
Dari dalam kabin, mereka hanya bisa saling memanggil dan memastikan kondisi masing-masing tetap sadar.
Ruang gerak yang sempit membuat keduanya kesulitan keluar, sementara beban pohon yang menekan atap mobil terus menimbulkan rasa khawatir.
"Sempat terjebak di dalam mobil, enggak bisa keluar sekitar 15 menitan. Saya sama kawan cuma bisa saling menguatkan. Kami sudah pasrah, takut atap mobil enggak kuat menahan beban pohon lalu roboh menimpa kami," ungkap Zainal.
Selama terjebak, kondisi di dalam mobil semakin tidak nyaman.
Kendaraan tersebut tidak dilengkapi pendingin udara sehingga suhu di dalam kabin terasa panas dan pengap.
Udara segar pun semakin sulit masuk karena seluruh badan mobil tertutup dedaunan dan ranting.
Zainal mengatakan dirinya sempat memaksa membuka sedikit jendela meski terhalang ranting pohon.
Celah kecil itu menjadi satu-satunya jalan agar udara dapat masuk ke dalam kabin sambil menunggu bantuan datang.
"Di dalam mobil panas sekali, napas juga mulai terasa sesak. Saya coba buka sedikit jendela walaupun susah, yang penting ada udara masuk supaya kami tetap kuat menunggu bantuan," tuturnya.
Beruntung, sejumlah warga dan pengendara yang melintas bergerak cepat memberikan pertolongan.
Dengan peralatan seadanya, mereka memotong ranting menggunakan parang, mengangkat dahan, lalu membersihkan tumpukan daun yang menutup pintu kendaraan.
Setelah akses ke pintu sebelah kiri berhasil dibuka, Zainal dan Andika akhirnya dapat dievakuasi dalam keadaan selamat. Kehadiran warga yang bergotong royong itu menjadi penyelamat bagi keduanya.
"Warga yang bantu kami. Mereka bersihkan daun dan ranting pakai parang. Begitu pintu sebelah kiri sudah bisa dibuka, kami langsung keluar dari mobil," kata dia.
Meski selamat tanpa mengalami luka serius, Zainal mengaku sempat diliputi kecemasan karena khawatir perusahaan tempatnya bekerja akan meminta dirinya mengganti kerugian akibat kerusakan kendaraan.
Namun kekhawatiran itu perlahan mereda setelah warga menenangkan dan menjelaskan bahwa kejadian tersebut murni disebabkan faktor alam.
"Saya sempat kepikiran bagaimana nasib saya di tempat kerja. Takut diminta ganti rugi. Tapi warga bilang ini musibah dan murni karena pohon tumbang, jadi saya sedikit lebih tenang," ujar Zainal.
Akibat tertimpa pohon, Daihatsu Grand Max yang dikendarai mengalami kerusakan cukup parah.
Bagian atap mobil ringsek akibat tertimpa batang pohon, kaca depan retak.
Sementara bemper depan rusak setelah tertusuk dahan besar yang bahkan menembus hingga mengenai ban depan sebelah kiri.
Kondisi kendaraan itu menjadi bukti kerasnya benturan yang terjadi, sekaligus menggambarkan betapa tipisnya jarak antara keselamatan dan maut yang dialami Zainal bersama rekannya. (TribunBatam.id/Ihsan Imaduddin)