Jelang Muktamar Ke-35 NU, Ketua PCNU Kotim Sebut Ketum Harus Berilmu, Mampu Bertransformasi
Sri Mariati July 25, 2026 08:07 PM

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), harapan terhadap sosok Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang terus mengemuka.  

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, pemimpin NU dinilai harus mampu menjaga tradisi sekaligus membawa organisasi beradaptasi dengan tantangan baru. 

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kyai Achmad Robita, mengatakan sosok Ketua Umum PBNU ke depan setidaknya harus memiliki keilmuan yang luas, figur kepemimpinan yang kuat, serta mampu mentransformasikan organisasi agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. 

"Ketua Umum PBNU harus memiliki keilmuan yang luas, figur yang kuat, transformatif, serta mampu membawa jam'iyah beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain itu, juga harus mampu mengayomi seluruh Warga Nahdliyin, baik yang berada di struktur organisasi maupun kultural," ujarnya, saat dikonfirmasi, Sabtu (25/7/2026). 

Menurutnya, tantangan yang akan dihadapi PBNU ke depan tidak hanya datang dari luar organisasi, tetapi juga dari dalam tubuh NU sendiri.  

Tantangan internal terbesar adalah menjaga soliditas organisasi, mempersatukan seluruh unsur kepengurusan, serta menghilangkan ego sektoral dan konflik kepentingan. 

Selain itu, pembenahan tata kelola organisasi, penguatan kaderisasi, hingga menjawab persoalan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan di akar rumput juga menjadi pekerjaan besar yang harus dituntaskan. 

Sementara dari sisi eksternal, NU dinilai perlu mampu beradaptasi dengan era disrupsi digital tanpa kehilangan identitas sebagai organisasi yang berakar kuat pada tradisi keislaman. 

Baca juga: Sejumlah Calon Nama Ketum PBNU Muncul Muktamar Ke-35 NU, PCNU Kotim Ajak Jaga Kesatuan

Baca juga: Hibah Lahan untuk PCNU Kotim Masih Dikaji, DPRD Minta Kelengkapan Administrasi

"Tantangan eksternal adalah bagaimana NU mampu bertransformasi dari era manual menuju era digital, tetapi tetap menjaga akar budaya dan tradisi. NU juga harus mampu menyikapi pergeseran otoritas keagamaan yang kini terjadi melalui dunia maya maupun dunia nyata," jelasnya. 

Robita menilai regenerasi kepemimpinan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi.  

Menurutnya, regenerasi bukan sekadar pergantian figur, melainkan proses kaderisasi untuk melahirkan gagasan yang lebih adaptif terhadap dinamika zaman. 

"Regenerasi penting untuk menjaga eksistensi organisasi. Selain itu, regenerasi merupakan keniscayaan dalam sistem kaderisasi yang menjadi spirit dalam berjam'iyah," tandasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.