Perbekel Sidetapa Sesalkan Warganya Tewas Diduga Dikeroyok Massa di Tabanan: Kita Negara Hukum
Ngurah Adi Kusuma July 25, 2026 09:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Aksi main hakim sendiri yang menewaskan seorang warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, usai diduga mencuri ayam di wilayah Kabupaten Tabanan menuai keprihatinan dari Perbekel Sidetapa, I Made Sutama. 

Ia menilai kemarahan warga tidak seharusnya berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.

Korban diduga tewas setelah dikeroyok massa usai kepergok mencuri seekor ayam di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, pada Jumat (24/7/2026) dini hari. 

Berdasarkan informasi kepolisian, aksi massa itu dipicu keresahan warga yang belakangan kerap kehilangan ayam aduan.

Baca juga: Keluarga Terduga Pelaku Pencuri Ayam Aduan yang Tewas Dihajar Massa di Tabanan Bali Belum Melapor

Sutama mengatakan, setiap dugaan tindak pidana semestinya diserahkan kepada aparat penegak hukum. 

Menurutnya, kesalahan seseorang tidak seharusnya dibalas dengan tindakan yang menghilangkan nyawa.

"Kesalahan orang pasti ada, tetapi janganlah gara-gara hanya mencuri ayam sampai menghilangkan nyawa orang," kata Sutama, Sabtu (25/7/2026).

Ia berharap masyarakat tidak lagi melakukan aksi main hakim sendiri apabila memergoki seseorang diduga melakukan tindak pidana. 

Baca juga: Dihajar Massa hingga Tewas Saat Diduga Mencuri Ayam Aduan di Tabanan, Keluarga Belum Lapor Balik

Menurutnya, pelaku cukup diamankan lalu diserahkan kepada pihak kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

Sutama mengaku memahami keresahan masyarakat akibat maraknya kasus kehilangan ayam. 

Namun, menurutnya, keresahan tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan hingga menyebabkan seseorang meninggal dunia.

"Kalau semua orang mempunyai pemikiran seperti itu, tentu akan banyak orang meninggal hanya karena persoalan pencurian. Negara kita adalah negara hukum," ucapnya.

Baca juga: Diduga Curi Ayam Aduan, Pelaku Dikeroyok Massa di Baturiti Hingga Tewas, Motor di Bakar

Ia juga mengaku terpukul saat menjemput jenazah korban. Kesedihannya bertambah ketika melihat anak-anak korban menangis kehilangan sosok ayah.

Korban diketahui meninggalkan tiga orang anak. Anak sulung telah berkeluarga, sedangkan anak kedua masih duduk di bangku kelas 1 SMA dan anak bungsunya masih bersekolah di kelas 1 SD.


Di sisi lain, Sutama mengatakan pihak keluarga telah memilih mengikhlaskan kepergian korban dan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah. 

Menurutnya, keluarga juga tidak berencana melaporkan balik dugaan pengeroyokan yang dialami korban.

"Orangnya sudah meninggal. Saya sampaikan kepada keluarga agar mengikhlaskan kepergiannya,”

“Soal yang terjadi, biarlah menjadi urusan hukum dan Tuhan yang memberikan jalan terbaik," katanya.

Sementara itu, kepolisian masih melakukan pendalaman untuk mengungkap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia. (mer)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.