TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Video yang menarasikan dugaan pungutan liar (pungli) parkir di kawasan TPU Bergota, Mugassari, Semarang Selatan, Kota Semarang, viral di media sosial dan menuai perhatian warganet.
Dalam video tersebut, seorang warga mengeluhkan diminta membayar parkir meski kendaraan hanya berhenti sebentar dan masih dijaga langsung oleh pemiliknya.
Unggahan tersebut juga mendapat respons dari akun resmi Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang meminta Dinas Perhubungan Kota Semarang melakukan pengecekan."Mohon dilakukan pengecekan dan penindakan jika terdapat pungutan liar di lokasi tersebut," tulis Agustina melalui akun Instagram resminya @agustinawilujengp dengan menyebut akun Dishub Kota Semarang.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Parkir Dinas Perhubungan Kota Semarang, Andreas Caturady mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut dengan mendatangi lokasi bersama UPTD Pemakaman.
"Itu kan kemarin ada aduan itu. Kemudian kita sudah ke UPTD Pemakaman terus sama teman-teman, itu yang jukir itu terus disambangi, ditegur," kata Andreas melalui sambungan telepon.
Menurutnya, para juru parkir yang berada di lokasi belum memiliki izin resmi.
"Karena juga mereka itu belum berizin ya. Enggak ada izin di situ," ujarnya.
Andreas menegaskan, kawasan TPU Bergota pada dasarnya tidak menjadi lokasi penarikan retribusi parkir oleh Dishub Kota Semarang.
"Itu temporer sih. Kayak gitu seperti itu kan artinya tidak ada yang parkir, jarang, kalau tidak ada event-event seperti Lebaran gitu-gitu kan jarang."
"Jadi tidak ada penarikan di situ. Dari kami pun tidak ada penarikan di situ," tuturnya.
"Kita enggak ada narik retribusi di sana, karena juga belum berizin," lanjutnya.
Ia menyebut dugaan pelaku merupakan warga sekitar.
"Akamsi, Akamsi," ujarnya.
Terkait tindak lanjut, Andreas memastikan pihaknya sudah memberikan teguran.
"Sudah ditindaklanjuti," ucapnya.
Ia menyebut peristiwa yang terekam dalam video terjadi pada Kamis lalu.
"Kamis. Orang yang memvideo ambil jalan gitu kan? Kamis, nggih Kamis," tuturnya.
Saat petugas mendatangi lokasi, terdapat dua orang yang diduga melakukan pengaturan parkir.
"Itu kemarin ada dua orang, tapi rata-rata itu yang di pinggir jalan itu kan kebanyakan kalau yang ada bus itu, bus (rombongan) ziarah ya. Yang di makam (Kiai Sholeh Darat)," jelasnya.
Menurut Andreas, persoalan parkir di kawasan TPU Bergota lebih sering muncul ketika ada bus rombongan peziarah yang datang.
"Itu kalau ada ziarah situ ada bis yang masuk di situ," katanya.
Menurutnya, Dishub sebenarnya telah mengarahkan bus-bus peziarah agar tidak parkir di sekitar TPU Bergota, melainkan di kawasan Museum Mandala Bhakti.
"Sebenarnya busnya itu sudah kami arahkan ke museum.
"Jadi dropping terus kemudian busnya harusnya parkirnya di Museum Mandala Bhakti," bebernya.
Ia menilai praktik penarikan parkir kerap terjadi karena bus-bus berhenti di sekitar lokasi makam.
"Kebanyakan terus dicegati sama orang-situ untuk parkir situ," tuturnya.
Menurutnya, Dishub akan kembali memberikan imbauan kepada pengelola maupun rombongan peziarah agar bus diparkir di lokasi yang telah ditentukan.
"Iya, nanti kita berikan imbauan lah supaya bus-bus itu bisa parkir di museum," imbuhnya. (idy)