TRIBUNJOGJA.COM – Yogyakarta resmi menjadi pusat perhatian dunia medis nasional pekan ini (25/7/2026).
Tiga organisasi besar pakar pencernaan dan hati yakni Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), dan Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) bersatu menggelar Kongres Nasional (Konas) dan Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) 2026 di The Alana Hotel & Convention Center pada 23–26 Juli 2026.
Acara ini tak sekadar menjadi ajang kumpul ilmiah, tapi juga menyoroti isu penting soal makin tingginya ancaman penyakit pencernaan di Indonesia.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, antusias menyambut terpilihnya Yogyakarta sebagai tuan rumah.
Ia berharap kongres ini tidak hanya memajukan ilmu kedokteran, tetapi juga membawa dampak nyata bagi kesehatan warga Yogyakarta, terutama agar masyarakat lebih peduli pada deteksi dini penyakit hati dan pencernaan.
Kanker Usus dan Kecerdasan Buatan
Salah satu isu paling krusial yang dibahas dalam kongres ini adalah kanker usus besar yang menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia.
Data menunjukkan sekitar 3 persen dari 2.000 kasus yang ditemukan ternyata menyerang kelompok usia di bawah 30 tahun.
Ketua Umum Pengurus Besar PGI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD, KGEH, FACP, FACG, FINASIM, menjelaskan bahwa kanker usus besar jika ditemukan sedari awal maka angka keselamatan pasien bisa tinggi.
"Jika ditemukan stadium awal, angka survival rate-nya bisa sampai 95 persen dalam 5 tahun. Tapi kalau ditemukan di stadium 4, angka survival rate-nya hanya 5 persen," ujarnya.
Menyikapi hal ini, dr. Ahmad Fauzi, SpPD, KGEH, FINASIM, menyoroti penggunaan kecerdasan buatan yang diintegrasikan dengan alat endoskopi.
"Teknologi ini membantu karena AI sifatnya robotik, tidak akan lelah. Berbeda dengan manusia yang terkadang jika lelah, polip-polip kecil bisa terlewat," ungkapnya.
Teknologi yang berasal dari luar negeri ini sudah masuk ke Indonesia dan saat ini mulai diujicobakan, dengan harapan dapat dimanfaatkan secara luas.
Silent Killer dan Inovasi Probiotik
Selain kanker usus, penyakit hati kronis juga menjadi perhatian serius.
Ketua Umum PPHI, Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD, KGEH, FINASIM, menyoroti pentingnya kolaborasi untuk menuntaskan masalah hepatitis di Indonesia.
Penyakit hepatitis B dan C ibarat silent killer atau pembunuh senyap.
Banyak pasien yang tidak merasakan gejala, padahal fungsi hati sudah jauh menurun.
"Ini yang berbahaya. Tanpa disadari, saat diperiksa ternyata sudah menjadi sirosis atau pengerutan hati. Bahkan banyak kasus yang gejalanya tidak muncul, namun baru terasa ketika fungsi hati turun hingga 20 persen," ungkapnya.
Untuk itu, kongres ini juga dimanfaatkan untuk menggalakkan kampanye eliminasi hepatitis bertepatan dengan Hari Hepatitis Sedunia pada 26 Juli 2026.
Rencananya, akan ada skrining kesehatan gratis dan edukasi publik untuk memutus rantai stigma dan penyebaran penyakit ini.
Tidak hanya soal deteksi, Dr. Putut Bayupurnama, SpPD, KGEH, FINASIM, selaku Ketua Panitia Pelaksana, juga membagikan inovasi terbaru yang diperkenalkan.
"Ada tiga obat asam lambung generasi baru yang kini bisa diakses. Kami juga me-launching probiotik buatan dalam negeri dari susu sapi Indonesia. Probiotik ini dapat digunakan untuk mengobati infeksi atau inflamasi usus hingga irritable bowel syndrome," jelasnya.
Dengan hadirnya pakar-pakar top internasional dari Jepang dan Malaysia, serta ratusan dokter dari penjuru Nusantara, Konas dan PIN 2026 diharapkan menjadi titik balik pelayanan kesehatan pencernaan di Indonesia.
"Ini bukan hanya soal kecanggihan teknologi, tapi tentang aksi nyata agar masyarakat bisa mendapatkan akses penanganan yang lebih cepat," tutup Dr. Putut.
(MG Fauzan Ardana)