Laporan Kontributor Tribunjabar.id M Rizal Jalaludin
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUKABUMI - Duka mendalam menyelimuti masyarakat adat di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Musibah kebakaran hebat melahap habis kawasan permukiman adat yang merupakan Cagar Budaya tersebut pada Sabtu (25/7/2026) siang sekitar pukul 14.00 WIB.
Atap rumah warga yang mayoritas terbuat dari bahan ijuk kering serta tiupan angin kencang membuat kobaran api mengamuk dahsyat.
Hanya dalam kurun waktu kurang dari 20 menit, puluhan bangunan kayu, tempat tinggal warga, hingga simbol adat berupa Imah Gede dan Leuit ( lumbung padi) rata dengan tanah.
Dugaan Penyebab dan Kronologi
Berdasarkan penghimpunan data dan saksi mata di lapangan, amukan si jago merah disinyalir dipicu oleh adanya korsleting listrik di fasilitas umum Mandi, Cuci, Kakus (MCK).
"Api berawal dari MCK yang disaksikan oleh anak-anak yang berteriak 'Api! Api! Api!'. Kemungkinan besar dari korsleting listrik. Karena bangunan Kasepuhan ini kebanyakan beratap ijuk, api menyebar dengan sangat cepat dibantu angin," terang Staf Rehab Rekon BPBD Kabupaten Sukabumi, Kuswan Hermawan, Sabtu malam.
Salah seorang warga terdampak, Alma, menceritakan betapa cepatnya musibah tersebut merenggut tempat tinggalnya saat ia tengah bekerja di bengkel.
"Hanya 15 menitan sudah habis semua. Alhamdulillah keluarga saya selamat, anak dan istri langsung lari ke bawah melewati gang kecil," tutur Alma pilu.
Ketua Adat: "Abah Cuma Sisa Badan, Imah Gede dan Leuit Ludes"
Peristiwa memilukan ini turut merenggut Imah Gede (rumah utama adat) serta sarana ketahanan pangan adat berupa lumbung padi (Leuit).
Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah E. Suhendri Wijaya (Abah Hendrik), mengungkapkan rasa dukanya.
Saat musibah melanda, Abah sedang tidak berada di Imah Gede.
"Imah Gede habis semua, Abah juga cuma sisa pakaian di badan. Pas Abah sama istri pulang, semuanya sudah habis. Diduga dari korslet kabel di MCK merambat ke rumah Gede lalu ke rumah warga," ungkap Abah Hendrik.
Abah Hendrik menambahkan bahwa lumbung penyimpanan padi adat beserta milik warga juga ikut hangus terbakar.
Untuk sementara waktu, Abah Hendrik mengungsi di kediaman Kepala Desa Sirnaresmi yang berada tepat di depan lokasi kejadian.
70 KK Mengungsi, Tidak Ada Korban Jiwa
Meski melahap habis bangunan permukiman adat, koordinasi dan mitigasi mandiri warga berhasil mencegah timbulnya korban jiwa.
"Korban jiwa dan luka alhamdulillah tidak ada. Kekeluargaan di Kasepuhan ini sangat kuat, jadi mereka saling bahu-membahu menyelamatkan diri," tambah Kuswan.
Respons Pemkab Sukabumi dan Penanganan Darurat
Menanggapi musibah nasional di kawasan Cagar Budaya adat ini, Bupati Sukabumi Asep Japar tampak mendatangi langsung lokasi kejadian pada Sabtu malam.
Bupati Asep Japar langsung menemui Abah Hendrik di rumah Kepala Desa Sirnaresmi guna menyampaikan rasa duka sekaligus berkoordinasi terkait langkah tanggap darurat.
Petugas Damkar, BPBD, Dinas Sosial, bersama aparat gabungan dan warga setempat terus melakukan proses pendinginan (cooling down) mengingat kepulan asap tebal masih membumbung dari sisa-sisa padi yang terbakar.
BPBD Kabupaten Sukabumi mengonfirmasi bahwa tenda-tenda darurat pengungsian serta bantuan logistik tengah didistribusikan ke lokasi, sembari para korban selamat sementara ini ditampung di rumah kerabat dan tetangga sekitar. (*)