SERAMBINEWS.COM - Intoleransi laktosa dan alergi protein susu sapi merupakan dua kondisi yang berbeda, meskipun sama-sama dapat muncul setelah anak mengonsumsi susu.
Intoleransi laktosa terjadi karena tubuh kekurangan enzim laktase sehingga sulit mencerna laktosa, sedangkan alergi susu sapi disebabkan oleh reaksi sistem imun terhadap protein susu sapi.
Perbedaan penyebab tersebut membuat penanganan kedua kondisi juga tidak sama.
Gejala intoleransi laktosa umumnya berupa gangguan pencernaan, sedangkan alergi susu sapi dapat disertai ruam kulit, gangguan pernapasan, hingga masalah pencernaan.
Alergi protein susu sapi lebih sering terjadi pada bayi, terutama yang sistem pencernaannya belum matang.
Orangtua tidak dianjurkan menyimpulkan sendiri bahwa semua keluhan setelah minum susu merupakan alergi.
Baca juga: Hubungan Tidak Sehat Bukan Hanya Soal Selingkuh, Kenali 15 Tanda yang Perlu Diwaspadai
Pemeriksaan dan diagnosis dari tenaga medis sangat penting untuk menentukan penyebab yang sebenarnya.
Dengan penanganan yang tepat, kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap dapat terpenuhi secara optimal.
Keluhan pada saluran cerna setelah anak mengonsumsi susu kerap membuat orangtua bingung.
Tidak sedikit yang menganggap semua reaksi tersebut sebagai alergi susu sapi, padahal kondisi itu belum tentu disebabkan oleh alergi.
Dalam dunia medis, terdapat dua kondisi yang berbeda, yaitu intoleransi laktosa dan alergi protein susu sapi.
Meski sama-sama dapat muncul setelah mengonsumsi susu, penyebab, mekanisme, hingga gejalanya tidaklah sama.
Baca juga: Aturan Baru, Calon Penerima Bedah Rumah Tak Harus Miliki Sertifikat Tanah
Oleh karena itu, orangtua perlu memahami perbedaan keduanya agar anak mendapatkan penanganan yang sesuai.
Dokter Konsultan Gastroentero Hepatologi Anak dari Eka Hospital MT Haryono, Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A. (K), menjelaskan bahwa intoleransi laktosa dan alergi susu sapi merupakan dua kondisi yang berbeda, baik dari penyebab maupun gejala yang ditimbulkan.
Ia menambahkan, intoleransi laktosa terjadi karena tubuh mengalami kesulitan mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat di dalam susu.
Kondisi tersebut berkaitan dengan kekurangan enzim laktase yang berfungsi memecah laktosa di saluran pencernaan.
"Intoleransi laktosa itu beda dengan alergi susu sapi.
Kalau intoleransi laktosa itu artinya tubuh tidak tahan terhadap kandungan laktosa dalam susu, yang umumnya 7 persen," kata dr. Eva dalam Media Meet Up Eka Hospital MT Haryono di Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).
Sementara itu, alergi susu sapi muncul melalui mekanisme yang berbeda.
Reaksi tersebut bukan disebabkan oleh kandungan laktosa, melainkan oleh protein yang terdapat di dalam susu sapi.
"Sementara itu, di dalam susu sapi ada kandungan protein juga. Alergi ini muncul karena reaksi dari protein susu sapi yang tidak cocok di tubuh," ujarnya.
Karena penyebabnya berbeda, penanganan yang diberikan pada kedua kondisi tersebut juga tidak dapat disamakan.
Oleh sebab itu, diagnosis dari tenaga medis diperlukan apabila anak menunjukkan keluhan setelah mengonsumsi susu.
Selain penyebabnya berbeda, dr. Eva mengatakan bahwa gejala intoleransi laktosa dan alergi protein susu sapi juga memiliki karakteristik yang berbeda.
Pada intoleransi laktosa, keluhan umumnya berpusat pada saluran pencernaan karena tubuh tidak mampu memecah kandungan laktosa secara optimal.
"Gejala keduanya pun berbeda. Intoleransi laktosa biasanya perutnya kembung, keluar gas lebih banyak dari biasanya, dan terkadang saat buang air muncul bau asam," ungkap dr. Eva.
Keluhan tersebut dapat muncul setelah anak mengonsumsi susu atau produk olahannya.
Apabila terjadi berulang, orangtua disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan penyebabnya.
Sementara itu, anak yang memiliki alergi protein susu sapi biasanya ditandai dengan munculnya ruam merah di kulit, gangguan napas, hingga masalah pencernaan.
Alergi susu sapi sering muncul pada bayi di bawah usia satu tahun
Sementara itu, alergi protein susu sapi lebih sering ditemukan pada bayi, terutama pada usia di bawah satu tahun.
Menurutnya, kondisi ini berkaitan dengan belum matangnya sistem pencernaan bayi.
"Kalau alergi protein susu sapi pada anak biasanya muncul di bayi di bawah usia 1 tahun, karena ibu-ibu itu enggak percaya diri saat menyusui anaknya," tutur dia.
Sebagian bayi mendapatkan susu formula sejak usia sangat dini.
Padahal, pada usia tersebut, sistem pencernaan bayi masih belum berkembang secara optimal untuk menerima protein susu sapi.
"Alhasil sang anak diberi ASI dengan susu formula. Anak di bawah 6 bulan yang diberi susu formula dapat merangsang alergi susu sapi, karena usus bayi belum matang untuk mencerna susu sapi," kata dr. Eva.
Karena itu, ia mengingatkan orangtua agar tidak menyamakan semua keluhan setelah minum susu sebagai alergi.
Mengenali perbedaan antara intoleransi laktosa dan alergi protein susu sapi penting untuk membantu dokter menentukan penyebab keluhan sekaligus memilih penanganan yang tepat.
Dengan diagnosis yang sesuai, tumbuh kembang anak dapat tetap terjaga tanpa mengabaikan kebutuhan nutrisi hariannya. (*)
Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/07/25/201045720/intoleransi-laktosa-vs-alergi-susu-sapi-ketahui-perbedaan-gejalanya