TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Detik-detik kebakaran di Rusunawa Kudu, Kota Semarang, Jawa Tengah disaksikan salah satu penghuni, Rismawati (28)
Kebakaran yang terjadi di Blok G tersebut terjadi sekira pukul 08.00 WIB.
Titik api berasal dari ruang berisi rongsok yang kemudian merembet tiga lantai ke atas.
Namun hawa panas terasa hingga lantai lima rusunawa.
Baca juga: BREAKING NEWS: Kebakaran Rusunawa Kudu Semarang, Diduga Berawal dari Jalur Sampah
Baca juga: Tol Pejagan KM 248 Diselimuti Asap Tebal Dampak Kebakaran Lahan
Pantauan Tribun Jateng sekira pukul 09.00 WIB, tampak tiga unit armada pemadam kebakaran sudah berada di lokasi. Sementara gedung tempat kebakaran tampak sudah disterilkan.
Satu di antara warga, Rismawati (28) tinggal di Blok G lantai 5 mengaku awalnya hendak membuang sampah di depan rumah. Ia mengaku tiba-tiba merasakan hawa panas yang tidak biasa dari bawah bangunan.
Risma mengatakan dirinya tinggal tepat di unit pojok yang berdekatan dengan lokasi kebakaran. Awalnya, ia mengira bau asap yang tercium berasal dari aktivitas pembakaran sampah seperti biasanya.
"Awalnya saya di dalam rumah, biasa pas mau bersih-bersih ya, cuma kok kecium bau asep kayak orang bakar-bakar ya. Terus aku dari jendela belakangku kan memang biasane kan ada yang bakar-bakar sampah dari warga setempat ya. Nah, terus tak lihat kok enggak ada," kata Risma ditemui Tribun Jateng di lokasi.
Karena tidak melihat sumber asap, Rismawati mengaku sempat mengabaikannya. Namun saat hendak membuang sampah, ia justru merasakan sesuatu yang janggal.
"Terus pas aku mau buang sampah tanganku kok kayak panas banget dari bawah," ucapnya.
Ia kemudian mengajak suaminya untuk mengecek kondisi tersebut. Namun karena belum terlihat adanya api, suaminya menganggap tidak ada masalah. Rismawati pun memutuskan turun mencari bantuan warga.
"Aku kan bilang sama masnya tadi, 'Mas ketoke kok sampah kok kayak ono sing kobong, opo ono sing kobong-kobong?' Dijawab 'Ora-ora' 'Tidak, tidak," katanya menirukan.
Saat turun, ia mengaku bertemu warga lain. Keduanya kemudian mengecek lokasi tempat pembuangan sampah di lantai dasar.
"Lah terus terus jalan ke sana ternyata memang sampah sudah full api semua," bebernya.
Menurut Rismawati, saat pertama kali turun belum banyak warga yang menyadari adanya kebakaran. Setelah memastikan sumber api berasal dari tempat sampah, ia kembali naik untuk memberi tahu penghuni lain.
Warga kemudian bergotong royong memadamkan api menggunakan ember berisi air. Sebagian menyiram dari bawah, sementara penghuni di lantai atas membantu dari koridor.
"Yang bawah ngurusi bawah yang atas nyiramin dari atas itu," tuturnya.
Namun api terus membesar hingga menjalar melalui saluran tempat pembuangan sampah dan mencapai lantai tiga.
"Dari sampah. Itu apinya dari tempat buka tutup sampah itu udah dari lantai 3," sebutnya.
Meski sempat disiram, kobaran api dan asap membuat warga tidak lagi berani naik ke lantai atas.
Sebagai penghuni unit yang paling dekat dengan titik kebakaran di sisi pojok bangunan, Rismawati mengaku asap sudah mulai masuk ke area kamar mandi dan wastafel rumahnya.
"Aku enggak sempet megang tembok, cuma memang dari kamar mandi wastafel pojok-pojok itu asapnya itu udah keluar semua," katanya.
Saat situasi semakin berbahaya, ia mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang di dalam rumah karena asap sudah terlalu tebal. Menurutnya, yang dilakukan adalah menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran.
"Udah enggak berani soale posisinya rumahku juga paling pojok," ungkapnya.
Di tengah kondisi kebakaran itu, Risma mengaku tidak tersedianya alat pemadam api ringan (APAR) di Blok G saat kebakaran terjadi. Menurutnya, warga sempat mencari APAR di beberapa titik, tetapi tidak menemukannya.
"Enggak ada. Kebetulan di blok ini enggak ada APAR," keluhnya.
Sementara itu, warga Blok I yang berada tepat di depan Blok G, Kurniawan (53) mengatakan dirinya mengetahui kejadian setelah api sudah membesar.
Warga dari sejumlah blok langsung berdatangan untuk membantu memadamkan api secara manual sebelum petugas tiba.
"Tahu-tahu itu sudah ada api. Nah, kebetulan kan warga ada yang banyak nih dari Blok I, Blok G ada yang (kebakaran) langsung lari membantu memadamkan," katanya.
Menurut Kurniawan, upaya pemadaman sempat terkendala karena warga tidak mampu mengoperasikan hidran yang tersedia.
Saat itu, kobaran api sudah membesar dan menjalar di jalur pembuangan sampah hingga lantai atas.
"Berhubung peralatan kita kan enggak mampu tuh, Mbak, untuk pakai hidran itu. Habisnya sudah tembus api yang paling besar tuh lantai 3 dan lantai 5 yang terbakarnya," katanya.
Ia menjelaskan, titik yang terbakar merupakan jalur pembuangan sampah yang terhubung dari lantai dasar hingga lantai lima. Pada bagian atas, ruangan tersebut dimanfaatkan sebagai gudang penyimpanan, termasuk untuk kegiatan pemilahan sampah.
"Ini kan jalurnya sampah, Mbak. Di bawah itu jalur sampah. Sampai ke atas itu biasanya gudang untuk penyimpanan biasa, kalau kita ada program pilah sampah," tuturnya.
Kurniawan mengatakan api mengenai jalur sampah dan ruang gudang di setiap lantai, namun tidak sampai merambat ke unit hunian warga.
"Semuanya, lantai ini semuanya kena. Dari 1, 2, 3, 4, 5 semua kena," ucapnya.
Bhabinkamtibmas Kelurahan Kudu, Aipda Sutikno mengatakan, kebakaran diduga berasal dari jalur pembuangan sampah yang menghubungkan lantai satu hingga lantai lima di Blok G. Kobaran api melalap saluran sampah di setiap lantai, namun tidak sampai merembet ke unit hunian warga.
"Kemungkinan dari sampah, dari lantai 1 sampai lantai 5. Yang kena sampah semua. Satu saluran," tuturnya.
Menurutnya, kerusakan akibat kebakaran hanya terjadi pada bagian fasilitas bangunan, seperti jendela dan plafon di sekitar jalur pembuangan sampah. Sementara barang-barang milik penghuni maupun unit rumah tidak terdampak.
"Barang-barang yang lain dan rumah tidak kena. Yang kena jendela dan plafon-plafon," jelasnya.
Saat proses penanganan awal, sebelum armada Damkar datang, Sutikno menyebut dirinya bersama lima warga mencari alat APAR dari blok lain karena APAR di sekitar lokasi tidak tersedia.
"Nyari APAR Blok A sampai I, bawa ke sini saya langsung naik," ujarnya.
Hingga saat ini, nilai kerugian akibat kebakaran tersebut masih dalam pendataan dan belum dapat dipastikan.
"Kerugiannya belum dihitung. Untuk korban, nihil," imbuhnya. (idy)