TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah terus mendorong pengurangan ketergantungan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan internasional dengan memperluas penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) bersama sejumlah negara.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Ferry Iriawan, mengatakan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan alternatif agar transaksi perdagangan tidak selalu bergantung pada dolar AS.
Hal itu disampaikan Ferry dalam Sidang Pleno IX bertema 'Tantangan dan Agenda Pertumbuhan dan Ketahanan Ekonomi yang Berkeadilan, Inklusif, dan Berkelanjutan' pada Kongres KUII ke-8 di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Mulanya Ferry mengakui hingga kini dolar AS masih menjadi mata uang yang paling banyak digunakan dalam perdagangan global karena memiliki tingkat likuiditas yang tinggi.
Baca juga: Kurs Dolar AS Tak Stabil, Berinvestasi Emas dan Perak Batangan Makin Menguntungkan
"Jadi faktanya memang sampai saat ini mata uang yang banyak dipergunakan itu dolar. Karena tadi, likuid, gitu ya. Kita di mana pun bisa menggunakan dolar untuk melakukan transaksi, itu kelebihannya," ujar Ferry.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat pemerintah berhenti mencari alternatif untuk mengurangi dominasi dolar dalam transaksi lintas negara.
"Tapi bukan berarti kemudian pemerintah tidak mencari alternatif lain. Kita dengan Bank Indonesia punya yang namanya skema Local Currency Transaction," ucap Ferry.
Ia menjelaskan, Indonesia telah menerapkan skema LCT dengan sejumlah mitra dagang utama, seperti China, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, dan Thailand.
Melalui skema tersebut, transaksi perdagangan dapat dilakukan menggunakan mata uang masing-masing negara tanpa harus dikonversi terlebih dahulu ke dolar AS.
"Jadi berapa negara yang jadi mitra utama perdagangan kita, contohnya Cina, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Thailand, itu kita bisa melakukan perdagangan dengan mata uang masing-masing, tidak menggunakan dolar, gitu ya," ungkap Ferry.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.014 per Dolar AS, Dibayangi Defisit APBN dan Memanasnya Konflik AS-Iran
Ferry berharap implementasi penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional dapat terus diperluas sehingga semakin banyak transaksi yang tidak lagi bergantung pada dolar AS.
"Jadi faktanya betul, tapi tadi kita juga berupaya untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap mata uang dolar," ucap dia.
Sebagai informasi, skema Local Currency Transaction merupakan mekanisme pembayaran perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal masing-masing negara.
Kebijakan ini bertujuan meningkatkan efisiensi transaksi, mengurangi biaya konversi valuta asing, serta memperkuat stabilitas sistem keuangan di tengah fluktuasi nilai tukar mata uang global.