Liputan6.com, Jakarta - Kabupaten Pesisir Barat dan Tanggamus, Lampung, diguncang lebih dari 46 kali gempa bumi sejak Sabtu (25/7/2026) dini hari hingga siang. Meski terjadi hampir bersamaan, BMKG memastikan rangkaian gempa di dua wilayah tersebut berasal dari sumber berbeda dan tidak saling berkaitan.
Berdasarkan catatan BMKG Stasiun Geofisika Kotabumi, magnitudo gempa yang terjadi berkisar antara M1,1 hingga M4,7. Gempa terkuat mengguncang wilayah Pesisir Barat pada pukul 00.28 WIB dengan magnitudo 4,7 dan sempat dirasakan warga.
Sementara itu, di Kabupaten Tanggamus tercatat lebih dari 45 kali gempa dengan kekuatan lebih kecil. Hingga Sabtu siang, BMKG tidak menerima laporan adanya masyarakat yang merasakan guncangan tersebut.
Analis BMKG Stasiun Geofisika Kotabumi, Teguh, menjelaskan hasil analisis menunjukkan gempa M4,7 di Pesisir Barat berpusat di laut pada koordinat 5,72 Lintang Selatan dan 103,90 Bujur Timur atau sekitar 59 kilometer selatan Pesisir Barat, dengan kedalaman 31 kilometer.
"Benar, sejak tadi malam kami mencatat aktivitas gempa di dua kabupaten, yakni Pesisir Barat dan Tanggamus. Namun, untuk Tanggamus tidak ada laporan masyarakat yang merasakan guncangan," kata Teguh, Sabtu (25/7/2026).
Dia menambahkan, setelah gempa utama M4,7 di Pesisir Barat, BMKG juga mencatat adanya sejumlah gempa susulan. Adapun aktivitas gempa di Tanggamus berlangsung di sekitar koordinat 5,38 hingga 5,42 Lintang Selatan.
Teguh menegaskan gempa di Pesisir Barat dan Tanggamus tidak memiliki keterkaitan meski terjadi dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.
Menurutnya, gempa di Pesisir Barat dipicu aktivitas sesar bawah laut, yakni retakan pada kerak bumi di dasar laut akibat pergerakan lempeng tektonik.
"Gempa di Pesisir Barat dipicu aktivitas sesar bawah laut yang terbentuk akibat pergerakan dan tumbukan lempeng tektonik," jelasnya.
Sedangkan rangkaian gempa di Tanggamus berasal dari aktivitas Sesar Semangko dengan kekuatan relatif kecil, berkisar antara M1,1 hingga M3.
"Untuk gempa di Tanggamus dipicu aktivitas Sesar Semangko. Magnitudonya lebih kecil dan tidak dirasakan masyarakat. Jadi kedua kejadian ini tidak saling berhubungan," jelas Teguh.
BMKG juga memastikan seluruh rangkaian gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mudah percaya informasi yang belum terverifikasi, serta terus memantau perkembangan melalui kanal resmi BMKG.