TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - Hamparan laut biru yang mengelilingi Pulau Pahat, Kecamatan Siantan Utara, Kabupaten Kepulauan Anambas, menjadi saksi upaya penyelamatan ekosistem bawah laut.
Komunitas Konservasi Mangrove, Penyu, Karang, dan Alam (KOMPAK) melaksanakan rehabilitasi terumbu karang sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi karang yang semakin terancam, Minggu, (26/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program rehabilitasi terumbu karang yang kini memasuki tahun kedua.
Program itu difokuskan untuk memulihkan ekosistem laut sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir Anambas.
Sejak pagi, para pemuda tempatan yang menjadi anggota KOMPAK berkumpul di Tarempa untuk mempersiapkan seluruh perlengkapan.
Mereka memastikan setiap peralatan tersusun rapi sebelum diberangkatkan menuju Pulau Pahat.
Perjalanan menuju lokasi rehabilitasi ditempuh menggunakan kapal selama kurang lebih 90 menit.
Sepanjang perjalanan, gelombang laut yang tenang mengiringi rombongan menuju kawasan perairan yang menjadi lokasi penanaman terumbu karang.
Di atas kapal, berbagai perlengkapan konservasi dibawa dengan hati-hati.
Mulai dari alat selam, tabung oksigen, tali pengaman, hingga rangka terumbu karang buatan yang nantinya akan diturunkan ke dasar laut sebagai media tumbuh karang baru.
Setibanya di Pulau Pahat, para peserta langsung menyiapkan seluruh perlengkapan.
Rangka-rangka karang buatan dipindahkan secara perlahan agar tidak mengalami kerusakan sebelum dipasang di bawah permukaan laut.
Satu per satu penyelam kemudian turun ke dasar laut.
Mereka menempatkan rangka karang buatan di titik-titik yang telah ditentukan sebagai lokasi rehabilitasi.
Karang buatan tersebut diharapkan menjadi tempat menempel bibit karang baru.
Dalam beberapa tahun mendatang, struktur itu diproyeksikan berkembang menjadi habitat berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya.
Mentor KOMPAK, Arpandi mengatakan rehabilitasi terumbu karang menjadi langkah penting karena kondisi ekosistem laut Anambas terus mengalami penurunan akibat praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan pada masa lalu.
"Dulu terumbu karang di pesisir Anambas sangat baik dan menjadi habitat berbagai jenis ikan. Namun seiring waktu, aktivitas penangkapan ikan yang merusak membuat ekosistem laut mengalami penurunan. Karena itu, rehabilitasi karang menjadi langkah penting untuk mengembalikan fungsi ekosistem laut," kata Arpandi.
Menurutnya, kerusakan terumbu karang bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat pesisir yang menggantungkan penghasilan dari hasil laut.
Ia menjelaskan, berkurangnya terumbu karang membuat populasi ikan ikut menurun.
Kondisi itu menyebabkan nelayan harus melaut lebih jauh dan lebih lama dibandingkan beberapa dekade yang lalu untuk mendapatkan hasil tangkapan yang sama.
"Kalau terumbu karangnya rusak, ikan juga kehilangan tempat hidup dan berkembang biak. Dampaknya langsung dirasakan nelayan karena hasil tangkapan semakin sedikit," ujar Komandan Pemuda Pancasila Kepulauan Anambas itu.
Arpandi menilai upaya rehabilitasi tidak akan berhasil tanpa dukungan berbagai pihak.
Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk menjaga laut harus terus ditumbuhkan agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi.
Ia berharap kegiatan rehabilitasi terumbu karang dapat terus berlanjut setiap tahun sehingga proses pemulihan ekosistem bawah laut berjalan secara berkesinambungan.
"Harapan kami, program ini menjadi langkah awal untuk mendukung konservasi penyu sekaligus pengembangan ekowisata berbasis lingkungan di Pulau Pahat. Kalau lautnya sehat, manfaatnya akan kembali kepada masyarakat," ungkapnya.
Melalui rehabilitasi yang dilakukan KOMPAK, harapan baru mulai ditanam di dasar laut Pulau Pahat.
Di balik rangka-rangka karang buatan yang perlahan tenggelam ke dasar perairan, tersimpan harapan agar terumbu karang Anambas kembali hidup, ikan-ikan kembali berkembang, dan kekayaan laut yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat tetap terjaga untuk generasi mendatang. (TRIBUNBATAM.id/Ihsan Imaduddin)