Beyond Regeneration, Karya Seni di Jakarta Provoke! tentang Bayi yang Menenggak Rudal
Satrio Sarwo Trengginas July 26, 2026 01:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Seniman Bambang Winaryo menyampaikan kritik sosial melalui karya seni berjudul Beyond Regeneration yang ditampilkan dalam gelaran Jakarta Provoke! 2026 di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

Melalui karya tersebut, Bambang mencoba mengajak masyarakat melihat kembali bagaimana proses tumbuh dan berkembangnya generasi anak-anak saat ini.

Menurut Bambang, berbagai hal yang dikonsumsi anak-anak tersebut nantinya dapat memengaruhi proses regenerasi dan membentuk cara mereka melihat dunia.

Dalam karya Beyond Regeneration, ia menggambarkan sosok bayi yang tengah menggunakan dot.

Namun, bukan susu yang berada di dalam dot tersebut, melainkan sebuah rudal yang menjadi simbol peperangan dan kekerasan.

"Saya melihat regenerasi ke depan, kita harus memikirkan apa yang harus dilakukan. Sekarang kita melihat bayi dan balita sebagai generasi penerus. Dalam karya ini, saya menggambarkan bayi yang sedang mengisap dot, tetapi yang dikonsumsi bukan susu melainkan rudal," kata Bambang.

Kritik terhadap Konsumsi Anak

Bambang menjelaskan, rudal yang digambarkan dalam karya tersebut merupakan simbol dari peperangan.

Ia melihat, berbagai tayangan mengenai konflik dan peperangan kini begitu mudah dikonsumsi masyarakat melalui media massa maupun media lainnya.

Menurut dia, kondisi tersebut secara tidak langsung juga dapat menjadi tontonan anak-anak.

Padahal, peperangan tidak lepas dari gambaran kekerasan dan pembunuhan yang seharusnya tidak menjadi konsumsi bagi anak-anak, terutama mereka yang masih berada dalam tahap pertumbuhan.

Bambang menilai, paparan semacam itu menjadi salah satu persoalan yang ingin ia sampaikan melalui Beyond Regeneration.

Namun, kritik yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan tayangan peperangan.

Ia juga menyoroti pola pengasuhan orang tua yang terkadang memberikan kebebasan kepada anak tanpa disertai arahan maupun pengawasan yang cukup.

Menurut Bambang, kondisi tersebut dapat membuat anak-anak terpapar berbagai hal yang sebenarnya belum sesuai dengan usia mereka.

"Kadang-kadang orang tua memberikan kebebasan kepada anak tanpa arahan dan pengawasan. Akhirnya anak-anak bisa mengonsumsi atau melihat berbagai hal yang sebenarnya belum sesuai dengan usia mereka," katanya.

Salah satu contohnya, kata Bambang, adalah penggunaan gawai pada anak-anak yang masih berusia sangat dini.

Ia mengaku kerap melihat anak-anak yang bahkan masih balita sudah diberikan gadget oleh orang tuanya agar tidak rewel.

Bambang tidak memungkiri bahwa teknologi memiliki manfaat. 

Namun, menurutnya, penggunaan gawai oleh anak-anak tetap perlu disesuaikan dengan usia dan berada dalam pengawasan orang tua.

"Kadang-kadang kita melihat anak-anak yang masih kecil, bahkan belum bisa berdiri, sudah diberikan gadget. Mungkin orang tua tidak ingin anaknya rewel sehingga diberikan gadget. Padahal, kita tidak tahu apa yang mereka lihat dan itu belum tentu sesuai dengan usia mereka," tuturnya.
Perhatian Orang Tua dan Kekerasan di Rumah

Selain paparan media dan penggunaan gawai, Bambang juga mengangkat persoalan lain yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak.

Ia menyinggung masih adanya anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tua hingga akhirnya mengalami berbagai bentuk penelantaran.

Di sisi lain, terdapat pula anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang diwarnai kekerasan dalam rumah tangga.

Berbagai persoalan tersebut menjadi bagian dari refleksi Bambang dalam melihat bagaimana generasi berikutnya dibentuk.

"Kadang ada anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tua sehingga akhirnya terlantar. Ada juga anak-anak yang disuguhi kekerasan di dalam rumah tangga. Jadi, yang saya gambarkan adalah apa yang dikonsumsi anak-anak dan bagaimana hal itu akan berpengaruh terhadap regenerasi ke depan," jelasnya.

Melalui karya tersebut, Bambang seolah ingin melempar pertanyaan kepada masyarakat mengenai apa yang sebenarnya diberikan kepada anak-anak sebagai bekal mereka tumbuh.

Apakah anak-anak akan terus disuguhi berbagai gambaran kekerasan dan konflik, atau justru diberikan ruang untuk menikmati dunia mereka yang penuh keindahan.
Kupu-kupu Jadi Simbol Keindahan

Pesan tersebut kemudian diperkuat dengan kehadiran bentuk kupu-kupu yang berada di bagian atas karya Beyond Regeneration.

Bambang menyebut kupu-kupu tersebut sebagai simbol yang menggambarkan sosok malaikat sekaligus keindahan.

Ia berharap, generasi anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang memberikan ruang bagi mereka untuk menikmati dunia anak-anak secara utuh.

"Di bagian atas ada gambaran seperti malaikat yang saya buat dalam bentuk kupu-kupu. Kupu-kupu itu kan identik dengan keindahan. Saya ingin memproyeksikan agar anak-anak bisa mendapatkan dunia mereka yang sebenarnya, dunia yang penuh keindahan dan estetika," ungkap Bambang.

Dengan demikian, karya Beyond Regeneration tidak hanya menghadirkan kritik, tetapi juga menawarkan refleksi mengenai bagaimana generasi masa depan seharusnya diperlakukan.

Bambang berharap anak-anak tidak sekadar menjadi objek yang menerima berbagai hal dari lingkungan sekitarnya.

Sebaliknya, mereka perlu mendapatkan pendampingan, perhatian, serta ruang tumbuh yang sesuai dengan kebutuhan dan usia mereka.

Dibuat Selama Tiga Bulan

Untuk menghasilkan karya tersebut, Bambang mengaku membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Ia menjelaskan, material yang digunakan dalam karya Beyond Regeneration sebenarnya berbeda dengan material yang idealnya digunakan untuk karya yang ditempatkan di luar ruangan atau outdoor.

Menurutnya, karya tersebut seharusnya dibuat menggunakan material logam agar lebih kuat dan tahan terhadap berbagai kondisi.

Namun, karena keterbatasan waktu persiapan, Bambang akhirnya membuat karya tersebut dalam bentuk master menggunakan bahan fiberglass.

"Kalau untuk outdoor, sebenarnya material yang ideal adalah logam. Tetapi karena waktu persiapannya tidak terlalu panjang, saya membuat masternya menggunakan fiberglass," kata dia.

Bambang mengaku, karya tersebut memang sempat mengalami kerusakan ketika dipamerkan.
Material fiberglass yang digunakan membuat karya tersebut tidak sekuat patung berbahan logam.

Apalagi, karya yang dipamerkan di ruang publik dapat berinteraksi langsung dengan pengunjung, termasuk anak-anak yang terkadang penasaran dan menyentuh bagian patung.

Meski demikian, Bambang memandang hal tersebut sebagai bagian dari pengalaman dalam menampilkan karya seni kepada masyarakat.

Perdana Tampil di Jakarta Provoke!

Jakarta Provoke menjadi ruang pertama bagi Bambang untuk menampilkan karya Beyond Regeneration kepada publik.

Ia mengatakan, sebelumnya karya tersebut belum pernah dipamerkan di ajang serupa.

Bambang tertarik mengikuti Jakarta Provoke karena acara tersebut melibatkan banyak seniman dengan karya-karya yang memiliki pendekatan masing-masing.

Dalam gelaran tersebut, terdapat 25 perupa yang terlibat, dengan 15 karya ditempatkan di area outdoor dan 10 karya lainnya berada di dalam ruangan.

"Di sini ada 25 perupa. Sebanyak 15 karya berada di outdoor dan 10 lainnya di indoor. Masing-masing seniman juga memiliki kurator yang mengkurasi karya mereka," ujarnya.

Menurut Bambang, konsep Jakarta Provoke seperti menghadirkan banyak pameran tunggal dalam satu ruang yang sama.

Setiap seniman datang dengan karya dan pesan yang ingin disampaikan masing-masing.

"Seolah-olah ini seperti pameran tunggal, tetapi dilakukan bersama-sama. Semua seniman hadir dengan karya yang memprovokasi atau mengajak orang untuk melihat persoalan dari sudut pandang masing-masing," katanya.

Bambang berharap, Jakarta Provoke! dapat terus berkembang dan memiliki jangkauan yang lebih luas pada penyelenggaraan berikutnya.

Ia juga menyambut baik rencana penyelenggaraan pameran yang lebih panjang di ruang publik Jakarta.
Berharap Eksposur Lebih Besar

Bambang juga menyambut baik gagasan agar Jakarta Provoke! dapat digelar dengan cakupan yang lebih luas pada masa mendatang.

Menurutnya, semakin luas ruang pamer yang diberikan, semakin besar pula kesempatan masyarakat untuk mengenal karya para seniman.

Ia berharap rencana tersebut tidak berhenti hanya pada kegiatan pameran.

Lebih jauh, Bambang ingin karya-karya yang memiliki nilai artistik dan pesan sosial dapat benar-benar menjadi bagian dari ruang publik Jakarta.

"Kalau eksposurnya lebih besar tentu bagus. Tetapi jangan hanya berhenti sebagai kegiatan pajang karya. Harapannya, ada tindak lanjut secara nyata sehingga karya yang memang bagus bisa ditempatkan secara permanen di ruang-ruang kota," pungkasnya.

Berita terkait

  • Baca juga: Sulap Jalanan Cikini Jadi Panggung Seni, Festival Kali Pasir 2026 Ajak Warga Berkesenian
  • Baca juga: Jakarta Provoke! 2026 Hadir di Taman Menteng, Pameran Seni Gratis Sarat Kritik Sosial
  • Baca juga: Suarakan Kemanusiaan Lewat Seni, Ratusan Kerajinan Tangan Bertema Palestina Terkumpul di Jakarta

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.