SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Ada pemandangan berbeda di kawasan Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman hingga pangkal Jembatan Ampera, Palembang, Minggu (26/7/2026). Dua anjing pelacak milik Unit K9 Direktorat Samapta Polda Sumatera Selatan, Jengger dan Milox, menjadi magnet bagi ratusan warga yang berolahraga pagi.
Berdasarkan pantauan Tribunsumsel.com dan Sripoku.com di kawasan Bundaran Air Mancur (BAM), kedua anjing pelacak tersebut dikerumuni pengunjung dari berbagai kalangan. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias mendekat untuk melihat lebih dekat kemampuan satwa yang selama ini identik dengan berbagai operasi kepolisian.
Meski memiliki postur yang gagah, Jengger dan Milox terlihat tenang saat berinteraksi dengan masyarakat. Di bawah pengawasan pawangnya, warga dipersilakan menyapa, mengelus, hingga berfoto bersama kedua anjing pelacak tersebut.
Salah seorang personel Unit K9 Polda Sumsel, Aipda Asep Sarip, yang menangani Jengger, mengatakan anjing pelacak telah menjalani pelatihan khusus sehingga mampu membedakan situasi saat bertugas maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat.
"Kalau saat bertugas, dia sangat tangkas dan sigap, terutama dalam mengendus barang bukti seperti narkotika. Kami juga sering diterjunkan dalam berbagai operasi kepolisian," ujarnya di sela-sela melayani warga yang ingin berfoto.
Unit K9 Direktorat Samapta Polda Sumsel memiliki sejumlah tugas, mulai dari membantu pengamanan kegiatan masyarakat, mensterilisasi lokasi dari ancaman bahan peledak, hingga membantu olah tempat kejadian perkara (TKP) dalam pengungkapan berbagai tindak pidana, seperti pencurian dan pembunuhan.
Kehadiran Jengger dan Milox di kawasan CFD menjadi pengalaman baru bagi banyak warga, terutama anak-anak.
Angga Pratama (12), warga Kelurahan 5 Ulu, mengaku sempat takut saat pertama kali melihat anjing pelacak dari dekat. Namun, setelah mendapat penjelasan dari petugas, ia memberanikan diri memegang tali Jengger dan berfoto bersama.
"Awalnya ngeri juga. Tapi ternyata jinak sekali. Tadi saya sempat mengelus kepalanya," kata Angga.
Hal serupa disampaikan Radit. Ia mengaku kagum karena akhirnya dapat melihat secara langsung anjing pelacak kepolisian yang selama ini hanya disaksikannya melalui televisi maupun media sosial.
"Biasanya cuma lihat di TV atau media sosial saat mereka melacak barang bukti. Ternyata bisa lihat langsung, keren sekali," ujarnya.
Selain menjadi daya tarik di CFD, kehadiran Unit K9 juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kepada masyarakat mengenai peran satwa kepolisian dalam mendukung tugas penegakan hukum.
Petugas menjelaskan, anjing pelacak tidak hanya digunakan untuk pencarian barang bukti narkotika, tetapi juga membantu pelacakan jejak pelaku kejahatan, pencarian orang hilang, pengamanan objek vital, serta sterilisasi lokasi sebelum kegiatan berskala besar digelar.
Masyarakat yang membutuhkan bantuan Unit K9 dalam penanganan suatu perkara tidak dapat mengajukan permintaan secara langsung. Penerjunan satwa K9 harus melalui prosedur resmi kepolisian setelah adanya laporan polisi dan penilaian dari penyidik bahwa pelacakan dengan bantuan satwa diperlukan.
Melalui kehadiran di tengah masyarakat dalam kegiatan CFD, Unit K9 Polda Sumsel tidak hanya memperkenalkan kemampuan anjing pelacak kepada publik, tetapi juga membangun kedekatan antara kepolisian dan masyarakat melalui pendekatan yang edukatif dan humanis.