TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kasus kematian tragis yang menimpa seorang siswi kelas 3 sekolah dasar negeri (SDN) berinisial NA (10) di Kota Padang membuka lembaran hitam yang memprihatinkan dalam dunia pendidikan dasar.
Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memicu desakan kuat agar institusi pendidikan dan pemerintah daerah melakukan evaluasi total terhadap sistem pengawasan di lingkungan sekolah.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, peristiwa pilu ini bermula ketika korban pulang dari sekolah dengan kondisi fisik dan psikis yang tidak biasa pada Senin pekan lalu.
Bocah malang tersebut tampak murung, ketakutan, dan mengeluhkan badan yang tidak nyaman setibanya di rumah, yang kemudian berlanjut pada penurunan kondisi kesehatan secara drastis.
Baca juga: Update Kematian Siswi SD di Padang: Diduga Dibully Sejak Kelas 2, Korban Sempat Sebut Nama Pelaku
Keesokan harinya pada hari Selasa, korban sudah tidak mampu lagi berangkat ke sekolah akibat rasa sakit yang teramat sangat di bagian pinggang.
Puncak penderitaan tersebut membawa NA ke rumah sakit, hingga akhirnya ia mengembuskan napas terakhirnya tepat di hari ulang tahunnya yang ke-10 pada Kamis (23/7/2026).
Pemeriksaan medis yang diterima pihak keluarga mengungkap fakta mengejutkan bahwa tidak ditemukan luka benturan pada bagian luar tubuh korban.
Namun, hasil medis mendeteksi adanya cedera serius di bagian dalam, yakni pergeseran tulang pada area pinggang yang diduga kuat akibat insiden didorong atau dipukul saat berada di sekolah.
Ayah korban, Wahid Al Amin, saat ditemui TribunPadang.com, Minggu (26/7/2026) menyatakan bahwa penderitaan putrinya bukan sekadar insiden tunggal, melainkan akumulasi dari dugaan tindakan perundungan yang telah dialami sejak duduk di bangku kelas 2 SD.
Meskipun sempat dilaporkan ke pihak sekolah pada masa lalu, tindakan intimidasi tersebut diduga kembali terulang saat korban naik ke kelas 3.
Sebelum berpulang, korban sempat menunjukkan keberanian dengan memberikan informasi penting berupa nama-nama pelaku yang diduga melakukan perundungan terhadap dirinya.
Fakta ini memperkuat keyakinan keluarga bahwa ada korelasi langsung antara aksi bullying dan cedera fatal yang merenggut nyawa anak mereka.
Baca juga: Siswi SD di Padang Diduga Meninggal Usai Alami Perundungan, Bertepatan dengan Hari Ulang Tahunnya
Menghadapi kenyataan pahit ini, pihak keluarga telah berupaya melakukan konfirmasi resmi kepada Dinas Pendidikan setempat.
Kendati demikian, hingga saat ini pihak keluarga masih berada dalam posisi menunggu tanggapan serta langkah konkret dari instansi berwenang tersebut.
Wahid Al Amin menyampaikan harapan yang sangat besar agar kasus yang menimpa putrinya dapat ditindaklanjuti secara serius oleh aparat penegak hukum.
Ia menegaskan bahwa keadilan bagi putrinya adalah harga mati agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali pada anak-anak lainnya.
Lebih lanjut, keluarga secara khusus memberikan sorotan tajam kepada pihak sekolah tempat korban menimba ilmu.
Sekolah dinilai memiliki tanggung jawab penuh untuk menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan steril dari segala bentuk kekerasan bagi para siswanya.
Pihak keluarga mendesak pihak sekolah agar lebih proaktif dalam mengawasi gerak-gerik serta interaksi antar-murid di lingkungan institusi pendidikan.
Pengawasan yang ketat dan responsif terhadap laporan perundungan dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.
Tragedi ini semestinya menjadi alarm keras bagi para pemangku kepentingan di bidang pendidikan, baik tingkat sekolah maupun dinas terkait.
Sistem pencegahan perundungan di lingkungan satuan pendidikan dasar harus segera dibenahi secara komprehensif, bukan sekadar ditanggapi setelah jatuhnya korban jiwa.
Keluarga berharap kepergian NA yang begitu cepat dan penuh kejanggalan ini dapat membuka mata semua pihak bahwa perundungan bukanlah masalah sepele.
Dengan pengusutan tuntas dan pengawasan yang lebih ketat, cita-cita menciptakan sekolah yang ramah anak di Kota Padang dapat benar-benar terwujud nyata.
Baca juga: Rayakan HJK Kota Padang ke-357, Naik Trans Padang Cuma Bayar Rp1 pada 7 Agustus 2026
Sebelumnya, suasana duka yang mendalam masih menyelimuti kediaman keluarga Wahid Al Amin di Kota Padang, Sumatera Barat.
Harapan sederhana seorang anak perempuan yang hendak merayakan hari ulang tahunnya yang ke-10, berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang menyayat hati keluarga dan publik.
Putri ketiga dari empat bersaudara yang memiliki saudara kembar, seorang siswi kelas 3 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di kawasan Kecamatan Padang Selatan, berinisial NA (10), menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit pada Kamis (23/7/2026).
Ironisnya, hari kepergian sang buah hati bertepatan persis dengan hari ulang tahunnya yang ke-10. Di balik kepergian bocah yang dikenal baik dan tidak pernah mengganggu orang lain tersebut, keluarga menyimpan kecurigaan besar.
NA diduga kuat menjadi korban tindakan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah hingga berujung pada cedera fatal yang merenggut nyawanya.
Tragedi ini bermula pada Senin pekan lalu, ketika korban pulang dari sekolah. Menurut keterangan keluarga, bocah malang tersebut menunjukkan gelagat yang tidak biasa setibanya di rumah setelah jam pelajaran berakhir.
Wahid Al Amin, ayah korban, menceritakan bahwa putrinya terlihat murung dan mengeluhkan kondisi badan yang tidak nyaman sepulang dari sekolah.
Rasa tidak nyaman itu perlahan berubah menjadi keluhan fisik yang serius menjelang malam hari.
Keesokan harinya pada Selasa, kondisi kesehatan NA semakin memburuk secara drastis. Korban bahkan tidak mampu lagi pergi ke sekolah karena merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, khususnya di area pinggang.
Puncak kecemasan keluarga terjadi ketika rasa sakit tersebut membuat korban mengalami kesulitan bergerak dan demam tinggi.
Keluarga sempat berencana membawa korban ke fasilitas kesehatan, namun proses evakuasi terkendala karena korban menjerit kesakitan setiap kali hendak dipindahkan.
Setelah berhasil mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, nyawa bocah kelas tiga SD tersebut tidak berhasil diselamatkan.
NA akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di ruang perawatan rumah sakit pada Kamis, 23 Juli 2026.
Baca juga: Nekat Curi Komponen Listrik Ruko di Padang demi Baju Baru, Pemuda 20 Tahun Diciduk Polisi
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang diterima keluarga, tidak ditemukan adanya luka lebam atau tanda-tanda benturan pada bagian luar tubuh korban.
Kendati demikian, tim medis mendeteksi adanya cedera serius pada organ bagian dalam tubuh NA.
Pemeriksaan tersebut mengungkapkan adanya pergeseran tulang pada area pinggang korban.
Temuan inilah yang kemudian memicu dugaan kuat dari pihak keluarga bahwa cedera tersebut diakibatkan oleh kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
Wahid menduga putrinya sempat mengalami kekerasan fisik, seperti didorong atau dipukul oleh pihak lain, meskipun ia mengaku tidak mengetahui secara pasti bentuk insiden yang menimpa anaknya.
Dugaan tersebut semakin diperkuat oleh pengakuan korban sebelum meninggal dunia.
“Sebelum berpulang, NA sempat memberikan informasi penting kepada keluarganya mengenai nama-nama rekan sekolah yang diduga menjadi pelaku perundungan terhadap dirinya,” ucap Wahid saat ditemui TribunPadang.com, Minggu (26/7/2026).
Tindakan perundungan tersebut ternyata bukan kali pertama dialami oleh korban.
Keluarga mengungkapkan bahwa NA sejatinya telah menjadi sasaran perundungan sejak duduk di bangku kelas 2 SD.
Pihak keluarga bahkan sempat melaporkan perbuatan tersebut kepada pihak sekolah, namun tindakan intimidasi diduga kembali berulang saat korban naik ke kelas 3.
Kenangan manis bersama sang buah hati kini tinggal kenangan yang menyakitkan bagi Wahid dan keluarga.
Sebelum berpulang dan merayakan hari lahirnya, NA sempat menyampaikan keinginan sederhana kepada keluarganya untuk dibuatkan kue bolu cokelat sebagai kado ulang tahun.
Keinginan terakhir bocah perempuan tersebut kini selamanya tidak akan pernah terwujud.
Kue bolu cokelat yang diimpikannya hadir bersamaan dengan kepergiannya untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta.
Baca juga: Hilang Keseimbangan di Tikungan, Pengendara CBR Tewas Usai Tabrak Pembatas Jalan di Dharmasraya
Terkait langkah hukum dan administratif, pihak keluarga menyatakan telah mencoba melakukan konfirmasi dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat.
Hingga saat ini, pihak keluarga masih menunggu tanggapan resmi dari instansi terkait sembari mempertimbangkan langkah laporan formal ke pihak kepolisian.
Wahid Al Amin menyampaikan harapan yang besar agar kasus ini dapat diusut secara tuntas dan transparan oleh pihak berwenang.
Ia tidak ingin ada lagi anak-anak lain yang menjadi korban kekerasan serupa di lingkungan pendidikan.
Selain itu, pihak keluarga mendesak pihak sekolah untuk lebih proaktif dalam mengawasi, melindungi, dan menjaga para murid selama berada di lingkungan sekolah.
Pengawasan yang ketat dinilai sangat krusial agar insiden perundungan berujung maut seperti yang merenggut nyawa NA tidak terulang kembali di masa mendatang.(*)