Liputan6.com, Jakarta - Psikolog Anak, Remaja & Keluarga, Ayoe Sutomo menekankan bahwa stimulasi saja tidak cukup untuk mendukung tumbuh kembang anak. Ada satu fondasi penting yang sering kali terlewat, yaitu rasa aman secara emosi.
Menurut Ayoe, anak yang merasa aman secara emosional akan lebih berani mengeksplorasi lingkungan, mencoba pengalaman baru, dan tidak takut melakukan kesalahan.
Sebaliknya, jika anak merasa dihakimi atau takut dimarahi, dia cenderung enggan keluar dari zona nyamannya.
Ayoe menjelaskan bahwa rasa aman secara emosi dibentuk melalui interaksi sehari-hari antara anak dan orang tua. Ketika anak merasa diterima, didengarkan, dan tidak dihakimi saat melakukan kesalahan, dia akan menganggap proses belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan.
"Rasa aman secara emosi itu dapatnya dari mana sih? Dari interaksi antara Si Kecil dengan orang tuanya. Kalau pada saat interaksi Si Kecil merasa aman, merasa enggak di-judge, kalau salah ya sudah, enggak kenapa-kenapa. Ini adalah proses, ya sudah jalan saja," katanya.
Dengan lingkungan yang suportif, anak tidak takut gagal. Justru, dia akan lebih percaya diri untuk mencoba berbagai hal baru karena memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.
Menurut Ayoe, rasa aman secara emosi membuat anak lebih antusias saat menghadapi pengalaman baru. Anak pun tidak ragu untuk belajar karena merasa mendapat dukungan penuh dari orang tua.
"Ketika dia dipaparkan dengan banyak pengalaman baru, Si Kecil dengan senang hati mau mencoba. 'Oh, ini menyenangkan. Oh, ini oke. Oh, papa-mamanya enggak marah, enggak apa-apa.' Jadi sesuatu yang seperti bermain," ujarnya.
Oleh sebab itu, orang tua tidak harus selalu menyediakan permainan edukatif atau stimulasi yang rumit. Aktivitas sederhana sehari-hari, seperti memasak bersama, berkebun, atau merapikan rumah, juga dapat menjadi sarana belajar yang efektif selama anak merasa aman dan nyaman.
Meski menekankan pentingnya rasa aman secara emosi, Ayoe mengingatkan bahwa stimulasi dan nutrisi tetap tidak boleh diabaikan. Ketiganya saling melengkapi dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
"Simulasi penting, relasi emosinya penting, tapi satu lagi yang enggak kalah penting itu adalah nutrisi," ujar Ayoe.
Dia, menambahkan, nutrisi berperan mendukung perkembangan otak dan tubuh anak, stimulasi mengasah kemampuan kognitif maupun motorik, sedangkan rasa aman secara emosi menjadi fondasi yang mendorong anak berani belajar, bereksplorasi, dan berkembang sesuai tahapan usianya.