TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA – Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menunjukkan dampaknya di kawasan sekitar Bandara Internasional Supadio Pontianak. Fenomena ini paling terasa pada pagi dan malam hari, ketika kabut asap mulai menyelimuti area sekitar bandara.
Sejumlah titik kebakaran lahan juga dilaporkan terjadi di Jalan Angkasa Pura 2, yang lokasinya tidak jauh dari landasan pacu Bandara Internasional Supadio.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi gangguan terhadap aktivitas penerbangan.
Meski demikian, hingga saat ini operasional penerbangan di Bandara Supadio masih berlangsung normal.
General Manager (GM) Angkasa Pura Indonesia KC Bandara Internasional Supadio Pontianak, Maya, memastikan belum ada dampak signifikan yang memengaruhi jadwal maupun aktivitas penerbangan.
• Karhutla Ancam Bandara Supadio dan Permukiman Warga, Bupati Kubu Raya Ikut Padamkan Api
"Kondisi penerbangan masih normal," ujar Maya saat dikonfirmasi TribunPontianak.co.id, Minggu 26 Juni 2026.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi bandara pada siang hari masih tampak seperti biasa. Jarak pandang masih tergolong aman sehingga aktivitas penerbangan dapat berjalan tanpa kendala. Atap bangunan bandara pun masih terlihat jelas dari kejauhan.
Namun, situasi berbeda mulai terlihat pada pagi dan malam hari. Asap tipis perlahan muncul dan menyelimuti kawasan sekitar bandara. Meski demikian, tingkat visibilitas masih berada dalam kategori aman untuk mendukung operasional penerbangan.
Maya menegaskan hingga saat ini belum ada pesawat yang mengalami keterlambatan (delay), gagal mendarat (landing), maupun gangguan lepas landas akibat asap karhutla di sekitar Bandara Supadio.
"Belum ada penerbangan yang terganggu landing ataupun delay karena gangguan asap karhutla di sekitar bandara," jelasnya.
Pihak Angkasa Pura Indonesia terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan kondisi cuaca, jarak pandang, serta sebaran asap di sekitar kawasan bandara. Koordinasi juga dilakukan bersama pihak terkait untuk memastikan seluruh aktivitas penerbangan tetap berjalan aman.
Ia menegaskan, keselamatan penumpang dan operasional penerbangan menjadi prioritas utama. Apabila kondisi asap semakin pekat dan dinilai dapat membahayakan keselamatan penerbangan, pihak bandara akan mengambil langkah sesuai prosedur, termasuk melakukan penundaan (delay) maupun pembatalan penerbangan apabila diperlukan.
Dengan kondisi yang masih terkendali saat ini, masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari maskapai maupun pengelola bandara terkait perkembangan operasional penerbangan, terutama apabila aktivitas karhutla di sekitar Bandara Supadio meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Kondisi cuaca ekstrem yang sangat kering memicu lonjakan signifikan titik api (karhutla) di berbagai wilayah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).
Berdasarkan data terbaru dari BMKG Kalbar per Sabtu 25 Juli 2026, terdeteksi sebanyak 1.317 titik panas (hotspot) yang tersebar di 14 kabupaten/kota se-Kalbar.
Merespons potensi ancaman kabut asap dan gangguan kesehatan masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalbar bergerak cepat mengusulkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan kepada pemerintah pusat.
"Sudah kami usulkan, tinggal bagaimana hasilnya masih menunggu," ungkap Ketua Satgas Informasi BPBD Kalbar, Daniel, saat dikonfirmasi TribunPontianak.co.id, Minggu 26 Juli 2026.
Daniel menjelaskan, seluruh potensi personel gabungan di darat maupun udara telah dikerahkan.
Untuk titik lokasi yang sulit dijangkau jalur darat, helikopter waterbombing disiagakan melakukan pemadaman dari udara.
• Geram Karhutla Diduga Sengaja Dibakar, Bupati Sujiwo Minta Polisi Usut Tuntas dan Tangkap Pelaku!
Namun, tingginya angka hotspot harian terus meningkatkan risiko munculnya titik api baru.
Oleh karena itu, BPBD Kalbar terus berkoordinasi secara intensif dengan BPBD kabupaten/kota untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Di antara wilayah terdampak, Kabupaten Kubu Raya menjadi salah satu area dengan kondisi karhutla terparah dan paling menyita perhatian.
Sebelumnya, perjuangan tim pemadam kebakaran gabungan di Kubu Raya diwarnai aksi dramatis pada Sabtu 25 Juli 2026 malam.
Dua unit armada mobil pemadam kebakaran (damkar) dilaporkan terperosok dan amblas saat mencoba menembus medan sulit menuju titik api utama di Parit Seruat, Jalan Angkasa Pura 2, Kecamatan Sungai Raya.
Di tengah gelapnya malam, asap tebal, serta minimnya sumber air, para petugas terpaksa menyambung puluhan gulung selang menembus kawasan pemukiman warga demi memadamkan sisa-sisa bara api tanah gambut.
Kondisi karhutla yang kian meluas dan meresahkan ini turut memicu kemarahan Bupati Kubu Raya, Sujiwo.
Saat meninjau lokasi kebakaran di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Sujiwo menduga kuat maraknya titik api di wilayahnya merupakan hasil ulah oknum tak bertanggung jawab yang sengaja membakar lahan.
Atas kondisi yang dinilainya sudah sangat parah tersebut, Sujiwo secara tegas mendesak Polres Kubu Raya dan Polda Kalimantan Barat untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh.
Ia bahkan meminta kepolisian memanggil para pemilik lahan di sekitar lokasi kebakaran guna membongkar dalang di balik bencana asap ini. (*)