Jalan Sawah di Kepanjen Malang Awalnya Arena Balap Liar, Kini Berubah Jadi Destinasi Wisata Senja
Eko Darmoko July 26, 2026 04:35 PM

SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Dahulu, jalan sawah di Dusun Krajan, Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang dikenal sebagai jalan yang digunakan untuk arena balap liar.

Namun siapa sangka, jalan tersebut kini berubah menjadi spot nyore bagi kalangan muda-mudi hingga keluarga untuk menikmati senja di sore hari.

Akses menuju ke sana bisa dari perempatan Yon Zipur 5 ke arah selatan atau bisa melewati perempatan Desa Kedungpedaringan di sebelah timur Stadion Kanjuruhan.

Kawasan ini hanya buka di sore hari. Mulai pukul 16.00 WIB hingga paling malam pukul 19.00 WIB.

Memang tidak lama. Sebab, pengunjung hanya menikmati tempat ini ketika menjelang matahari terbenam karena pemandangannya yang memukau.

Baca juga: Ngopi Sore Syahdu di Puthuk Tritih Kota Batu, Dimanjakan Indahnya View Senja di Antara Tiga Gunung

Selain menyajikan pemandangan senja, lokasi ini juga menyuguhkan pemandangan Gunung Kawi di sebelah utara dan Gunung Semeru di sebelah timur serta hamparan sawah.

Oleh karena itu, tempat ini cocok digunakan untuk swafoto.

Sembari menikmati pemandangan, di sepanjang jalan sawah ini juga tersedia penjual minuman panas dan dingin.

Pengunjung bisa menikmati makanan atau minuman itu sambil duduk lesehan di bahu jalan yang beralaskan tikar.

Bahkan, sebagian penjual ada yang menyediakan kursi lipat.

Angga Kusuma, pemuda asal Kecamatan Pakisaji itu bersama temannya sedang duduk santai menghadap jalan raya ditemani segelas es cokelat.

Ini bukan pertama kalinya ia mengunjungi spot nyore tersebut.

"Ya biasanya memang ke sini pas sore-sore gitu," kata Angga kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (26/7/2026).

Sebelumnya, ia mengetahui lokasi ini dari for your page (FYP) di TikTok.

Kemudian, ia pun mencoba mendatanginya karena tertarik dengan pemandangan sawah serta gunung, terutama sunsetnya.

Di sisi lain, kopi atau es yang dijual oleh pedagangnya pun tidak menguras kantong. Harganya cukup terjangkau.

Meskipun sederhana, akan tetapi Angga cukup menikmatinya untuk menghilangkan penat.

"Enak aja suasananya, adem karena anginnya. Terus kalau pas nggak mendung bisa lihat sunset di sini."

"Ya cukup bikin tenang aja di sini," sambung pemuda berusia 23 tahun itu.

Sementara itu, Su'ud, penjual kopi di lokasi tersebut sudah berjualan sejak 2021 silam.

Ia hanya menggunakan sepeda motor maticnya untuk membawa perkakas seperti kompor, elpiji, minuman saset, hingga mie.

Ia mengaku sebelum dijadikan sebagai spot nyore, kawasan ini dulunya dikenal sebagai tempat untuk arena balap liar.

Namun, kegiatan negatif itu mulai berubah menjadi kawasan untuk nyore sejak 2021 silam.

"Iya, dulu sini ramenya itu karena buat balapan. Tapi ya sama pihak kepolisian sering ada razia, akhirnya sekarang berubah jadi tempat nongkrong anak-anak muda," imbuh Su'ud.

Dia menjelaskan, lokasi tersebut memang ramai ketika sore hari.

Perkiraan pengunjung mulai berdatangan di pukul 16.30 WIB. Kemudian ketika azan magrib, pengunjung akan pulang.

"Ya mungkin paling malem sampe jam 7 ya. Soalnya sini gelap nggak ada lampu sama sekali."

"Terus pemandangan juga udah nggak kelihatan," tutur warga Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

Pengunjung yang datang tak hanya berasal di sekitar Kecamatan Kepanjen.

Menurut penuturannya, pengunjung dari Blitar, Kota Malang, hingga Pasuruan juga ada yang penasaran dengan tempat ini.

Ketika ramai pengunjung, Su'ud mampu memperoleh uang ratusan ribu dalam sehari.

Namun, ketika musim hujan, pendapatannya akan turun. Sebab, pengunjung tak banyak yang berdatangan.

Di sisi lain, ia pun berharap, Alun-alun Kepanjen yang rencananya dibangun di belakang Stadion Kanjuruhan bisa segera terealisasi.

Karena hal ini akan membuat kawasan spot nyore tersebut semakin ramai dan banyak dikunjungi masyarakat.

Baca juga: Letak Calon Alun-Alun Kepanjen Jadi Polemik Anggota DPRD, Bupati Malang Sedang Matangkan Proyek

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.