Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sa’dul Bahri | Aceh Barat
SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Warga Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, masih mengingat pahitnya bencana banjir bandang yang melanda wilayah mereka akhir November 2025.
Bencana tersebut memutus akses jalan menuju desa sehingga masyarakat terisolasi selama hampir satu bulan tanpa bisa keluar untuk membeli kebutuhan pokok.
Tokoh masyarakat Sikundo, Jailani (47), yang akrab disapa Bang Joni, mengatakan kondisi saat itu membuat warga dilanda kepanikan.
Jalan yang terputus membuat pasokan beras dan kebutuhan sehari-hari tidak dapat masuk ke desa.
"Kala itu kami panik dan mulai pasrah karena benar-benar terkurung, tidak bisa keluar dari desa.
Setelah bantuan datang, kami kembali bersemangat," ujar mantan Ketua Tuha Peut Gampong Sikundo tersebut kepada Serambinews.com, Kamis (23/7/2026).
Baca juga: Menjaga Mimpi di Ujung Pegunungan Sikundo Aceh Barat, Kisah Dewi yang Harap Bisa Lanjut Pendidikan
Menurut Jailani, bantuan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, yang dipimpin bupati Tarmizi menerobos hutan menuju Ssikudo datang beberapa minggu setelahnya.
Terus disusul dari berbagai pihak dan baru dapat disalurkan setelah hampir satu bulan warga terisolasi. Bantuan tersebut menjadi penyelamat bagi masyarakat yang mulai kehabisan persediaan pangan.
Ia mengaku situasi saat itu juga berdampak pada kondisi psikologis anak-anak. Banyak di antara mereka terlihat murung dan kehilangan keceriaan karena harus bertahan di tengah keterbatasan.
"Sebelumnya kami sangat sedih. Anak-anak hanya termenung di sana-sini. Setelah bantuan datang, semangat mereka mulai kembali," katanya.
Jailani mengungkapkan, pasca konflik Aceh, Gampong Sikundo perlahan mulai bangkit. Jika saat konflik hanya sekitar dua keluarga yang bertahan di desa, kini masyarakat mulai kembali membangun kehidupan.
Infrastruktur jalan dan jembatan yang sempat dibangun juga telah membuka akses kendaraan roda empat menuju desa saat itu.
Namun, bencana banjir bandang kembali merusak infrastruktur yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat.
Baca juga: Derita Warga Sikundo Menyeruak, Harapkan Perbaikan Jalan dan Bantuan Modal Usaha
Karena itu, warga berharap pemerintah segera membangun jalan yang lebih layak serta jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Durian dengan Dusun Sarah Saree.
Jembatan tersebut dinilai sangat penting untuk menunjang akses pendidikan anak-anak serta mengangkut hasil pertanian dari Dusun Sarah Saree yang menjadi kawasan perkebunan utama masyarakat.
"Jadi kami mohon kepada pemerintah agar membantu pembangunan jalan yang layak beserta jembatan," harap Jailani.
Sementara itu, seorang ibu rumah tangga, Ema Malini (23), mengatakan keluarganya saat musibah banjir bandang harus bertahan hidup dengan memanfaatkan buah durian yang saat itu sedang musim.
Buah tersebut menjadi salah satu sumber makanan ketika pasokan kebutuhan pokok tidak dapat masuk ke Gampong Sikundo akibat akses jalan yang terputus. (sb)