Jakarta (ANTARA) - Ahli gizi Kara Hochreiter, M.S., RDN, LD menyampaikan bahwa mengonsumsi gula tambahan terlalu banyak secara reguler dapat mempengaruhi keseimbangan mikrobioma di dalam usus, yang mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Menurut siaran Eating Well pada Sabtu (25/7), gula tambahan adalah gula yang ditambahkan ke dalam makanan selama proses pengolahan.

Gula tambahan bisa berupa gula tebu, dekstrosa, madu, sirup mapel, sirup beras merah, dan sirup jagung.

Hochreiter menyampaikan bahwa konsisten mengonsumsi gula tambahan secara berlebihan bisa mengganggu keseimbangan mikrobioma di dalam usus, memungkinkan mikroba yang kurang bermanfaat berkembang dan mengalahkan "mikroba baik."

Menurut dia, ketidakseimbangan mikrobioma di dalam usus seiring waktu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan, peradangan, disfungsi metabolisme, sampai perubahan suasana hati.

Ahli gizi Jessie Wong, M.Acc., RDN, LD menyampaikan bahwa asupan gula tambahan yang konsisten tinggi bisa mengubah lingkungan di dalam usus.

"Penelitian menunjukkan gula tambahan dapat memperkaya bakteri yang memanfaatkan gula sekaligus mengurangi bakteri yang menghasilkan asam lemak rantai pendek yang bermanfaat seperti butirat," ia menjelaskan.

Asam lemak rantai pendek membantu menyehatkan sel-sel yang melapisi usus.

Jenis asam lemak ini juga dikaitkan dengan tingkat peradangan yang lebih rendah serta kekebalan tubuh dan kesehatan jantung yang lebih baik.

Wong menjelaskan bahwa ketika asupan gula tambahan tinggi maka produksi asam lemak rantai pendek akan lebih sedikit. Kondisi ini berkontribusi pada disbiosis dan peningkatan permeabilitas usus.

Hasil riset juga menunjukkan bahwa diet tinggi makanan ultra-olahan, yang biasanya memiliki kadar gula tambahan tinggi dan rendah serat, dapat berdampak negatif pada mikrobioma usus.

"Gula tambahan berlebih dari makanan, terutama minuman manis dan makanan ultra-olahan, seringkali kekurangan serat, air, mikronutrien, dan senyawa protektif dari tumbuhan yang membantu menyehatkan mikrobioma usus," kata Wong.

Ketika makanan dengan gula tambahan tinggi secara perlahan menggantikan buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, bakteri baik di dalam usus memiliki lebih sedikit nutrisi untuk dimakan.

Akibatnya, keanekaragaman mikroba dalam usus bisa berkurang dan keseimbangan mikrobioma usus dapat terganggu.

Wong menyampaikan bahwa mikrobioma usus setiap orang unik, sehingga respons individu terhadap gula tambahan dan faktor diet lainnya dapat bervariasi.

Kendati demikian, membatasi konsumsi makanan dengan kadar gula tambahan tinggi dan menerapkan pola makan bergizi seimbang akan lebih baik bagi kesehatan usus maupun kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Jadi, sebaiknya mengutamakan penerapan pola makan yang mencakup buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan makanan berserat lain.

Makanan manis dapat dikonsumsi sesekali. Makanan manis alami seperti buah segar atau buah beku yang menawarkan serat, vitamin, dan antioksidan bisa jadi pilihan makanan penutup yang lebih baik.