Kadisdik Tulangbawang Lampung Buka Suara soal Dua Kasus Bullying Siswa di SMPN 5 Dente Teladas
soni yuntavia July 26, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Tulangbawang - Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Tulangbawang, M. Ami Ismet Balau, memberikan penjelasan terkait dua insiden perkelahian yang melibatkan siswa kelas VII di SMP Negeri 5 Dente Teladas.

Baca juga: Selang Kompor Gas Picu Perkelahian Antar Saudara Ipar hingga Bersimbah Darah

Ami menegaskan meski terjadi di waktu dan tempat yang berbeda, kedua perkelahian tersebut dipicu oleh persoalan lama yang terbawa dari sekolah dasar.

"Ada dua kasus perkelahian yang melibatkan siswa kelas VII, yaitu murid yang baru saja diterima di SMP Negeri 5 Dente Teladas. Walaupun tempat kejadian dan empat pelakunya berbeda, akar permasalahannya sama. Bibit permusuhan itu sudah dibawa sejak mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang sama," ujar Ami Ismet Balau, Minggu (26/7/2026).

Kadisdik menjelaskan, insiden pertama terjadi pada Sabtu (18/7/2026) di dalam ruang kelas VII B sekitar pukul 09.25 WIB. 

Perkelahian bermula saat guru mata pelajaran matematika, Trilia Jugennita, keluar kelas sejenak untuk mengisi tinta spidol.

Perkelahian melibatkan dua siswa, yakni Muhammad Noval Azmi dan Arya Saputra. 

Berdasarkan pendataan pihak sekolah, insiden diawali oleh aksi seorang siswa bernama Fajar yang menjitak kepala Noval. 

Melihat hal itu, Arya tertawa. Fajar bersama temannya, Rama, kemudian mengancam akan memukul Noval kembali jika Noval tidak memukul Arya. 

Tertekan oleh ancaman tersebut, Noval akhirnya memukul Arya hingga memicu perkelahian balasan. Aksi ini langsung dihentikan saat guru kembali ke kelas.

Tak berhenti di situ, sekitar pukul 14.00 WIB, video perkelahian tersebut disebarkan oleh Fajar kepada siswa lain hingga diunggah menjadi status WhatsApp.

Mengetahui kejadian tersebut, orang tua Noval mendatangi rumah orang tua Arya pada Sabtu malam untuk meminta maaf. Pihak sekolah kemudian memediasi kedua belah pihak pada Senin (20/7/2026).

"Permasalahan selesai secara damai dan penuh kekeluargaan, karena kedua belah pihak ini memang bertetangga dan sudah kenal lama," jelas Kadisdik.

Dia menjelaskan, perdamaian ditandai dengan penandatanganan Surat Perjanjian Damai bermaterai yang disaksikan oleh Kepala Sekolah dan Kepala Kampung. 

Sanksi tegas serta surat pernyataan juga diberikan kepada para provokator (Fajar dan Rama) serta Noval selaku pelaku pemukulan.

Kasus kedua terjadi pada Jumat (24/7/2026) usai jam sekolah, melibatkan Muhammad Andika Rohman dan Diki Fahreza.

Perkelahian dipicu oleh aksi saling ejek nama orang tua di dalam kelas yang berlanjut pada tindakan Diki mencekik Andika. 

Meski sempat dipisahkan oleh siswa bernama Reyhan Zaqi, Diki tetap menantang Andika untuk berduel di luar area sekolah, tepatnya di sebuah kebun karet di Jalan Jahe, Desa Dente Makmur.

Sekitar 20 siswa menyaksikan perkelahian tersebut dan sempat berusaha memisahkan, namun Diki menolak. 

Dalam duel tersebut, Andika membanting Diki yang mengakibatkan lengan tangan Diki mengalami patah tulang.

Setelah menerima laporan dari ibu korban sekitar pukul 14.00 WIB, pihak sekolah langsung menghubungkan kedua keluarga. 

Orang tua Andika datang langsung ke rumah Diki untuk meminta maaf dan bertanggung jawab atas biaya pengobatan.

Mediasi resmi digelar pada Sabtu (25/7/2026) pukul 15.00 WIB dengan pendampingan pihak sekolah serta dimediasi oleh Kepala Desa Dente Makmur dan Kepala Desa Way Dente. 

Kesepakatan damai pun berhasil dicapai secara kekeluargaan.

Sebagai langkah antisipasi hukum dan menjaga kondusivitas di wilayah tersebut, kasus ini juga telah diteruskan ke kepolisian setempat.

"Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, pengawas sekolah sudah melaporkan kedua kejadian tersebut beserta kronologinya ke pihak Polsek Dente Teladas," pungkas Ami.

Beredar di Medsos 

Kasus dugaan perundungan dan kekerasan fisik antar siswa terjadi di SMPN Satap 5 Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang. Peristiwa tersebut menjadi perhatian setelah rekaman kejadian beredar di sejumlah platform media sosial.

Seorang siswa berinisial DF dilaporkan mengalami cedera serius berupa patah tulang pada bagian tangan serta luka di beberapa bagian tubuh setelah diduga terlibat kekerasan fisik dengan siswa lain di lingkungan sekolah.

Orangtua korban, Solekan, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan kejadian bermula dari aksi saling ejek antar siswa di dalam ruang kelas yang kemudian berujung pada perkelahian.

"Iya benar anak saya mengalami patah pada bagian tangan. Kejadiannya bermula dari saling ejek di dalam kelas hingga terjadi perkelahian. Saat itu sempat dilerai oleh guru," ujar Solekan, Minggu (26/7/2026).

Menurut Solekan, setelah kejadian tersebut, konflik kembali terjadi saat jam pulang sekolah. Siswa yang diduga terlibat dalam peristiwa itu kembali mendatangi korban di area parkiran sepeda motor.

Dalam kejadian tersebut, korban diduga mengalami tindakan kekerasan fisik hingga menyebabkan cedera pada bagian tangannya.

Peristiwa ini semakin menjadi perhatian setelah beredar video berdurasi sekitar 25 detik yang memperlihatkan dugaan aksi kekerasan antar siswa di lingkungan sekolah.

Dalam rekaman tersebut, terlihat dua siswa terlibat kontak fisik di bagian belakang ruang kelas. Salah satu siswa yang mengenakan kaus olahraga merah-hitam tampak berhadapan dengan siswa lainnya hingga terjadi aksi saling dorong dan bantingan yang menyebabkan salah satu siswa terjatuh.

Sejumlah siswa lain yang berada di lokasi terlihat menyaksikan kejadian tersebut. Beberapa di antaranya juga terlihat merekam peristiwa menggunakan telepon seluler.

Warga Kampung Dente Makmur, Ponirin, mengatakan dugaan aksi perundungan dan perkelahian antar siswa di SMPN Satap 5 Dente Teladas disebut pernah terjadi sebelumnya.

"Iya, kejadian seperti perkelahian dan dugaan bullying sudah beberapa kali terjadi. Seperti pada Sabtu (18/7/2026), ada kejadian seorang siswa yang diduga menjadi korban perundungan di ruang kelas dan videonya tersebar," ujar Ponirin.

Ia berharap pihak terkait dapat melakukan evaluasi dan mengambil langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan sekolah.

"Kami berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Tulang Bawang dan pihak sekolah dapat memberikan perhatian serius serta melakukan pembenahan agar lingkungan belajar tetap aman bagi seluruh siswa," kata Ponirin.

( Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq )

 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.