Liputan6.com, Jakarta - Sebuah hasil studi terbaru mengungkap, mengganti kompor gas ke listrik ternyata bisa mengurangi gejala asma, terutama untuk orang yang mengalami kondisi asma yang sulit terkontrol.
Disitat dari cnet, Minggu, (26/7/2026), penelitian yang dilakukan MetroHealth System bersama enam organisasi komunitas yang melibatkan 85 orang dewasa, dan anak-anak di Northeast Ohio, Amerika Serikat, yang mengalami asma tidak terkontrol dengan baik.
Para peserta menggunakan kompor gas sebelum penelitian, dan kemudian kompor diganti secara gratis dengan listrik induksi. Kondisi kesehatan peserta dipantau selama satu hingga empat minggu sebelum penggantian, dan kembali diperiksa dua hingga tiga bulan setelahnya.
Para peneliti juga memantau kualitas udara di dalam rumah menggunakan alat pengukur selama tujuh hari, sebelum dan sesudah pergantian kompor. Salah satu perhatian utama adalah nitrogen dioksida (NO2), polutan udara yang dihasilkan dari pembakaran pada kompor gas dan dapat berdampak buruk terhadap paru-paru.
Hasilnya menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Setelah kompor gas diganti dengan kompor listrik, kadar nitrogen dioksida di dalam rumah turun sekitar 70 persen.
Pada saat yang sama, gejala asma yang dialami peserta rata-rata berubah dari tingkat sedang menjadi ringan. Menurut peneliti, peningkatan pengendalian asma tersebut serupa atau bahkan lebih besar dibandingkan hasil yang dilaporkan dalam sejumlah uji klinis obat asma yang umum digunakan.
Dampak positif lainnya juga terlihat dari berkurangnya kunjungan ke ruang gawat darurat dan rawat inap akibat asma, yang turun sekitar 70 persen. Sementara itu, jumlah hari ketika peserta harus absen dari pekerjaan atau sekolah karena asma berkurang sekitar 80 persen setelah mereka beralih menggunakan kompor listrik.
Para peserta dalam penelitian ini menggunakan kompor induksi karena perangkat tersebut dapat memanaskan dan mendinginkan dengan cepat. Kompor induksi juga dinilai lebih aman dan lebih mudah dibersihkan dibandingkan kompor listrik, dengan elemen pemanas berbentuk kumparan.
Berbeda dari kompor listrik biasa yang memanaskan permukaan secara langsung, kompor induksi menggunakan medan elektromagnetik untuk memanaskan peralatan masak.
Meski demikian, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Studi hanya melibatkan 85 peserta dan dilakukan dalam periode beberapa bulan. Penelitian tersebut juga tidak memiliki kelompok pembanding yang tetap menggunakan kompor gas.
Selain itu, penilaian kondisi asma didasarkan pada kuesioner yang diisi sendiri oleh peserta, bukan rekam medis. Karena itu, para peneliti menilai diperlukan uji klinis terkontrol dengan cakupan lebih besar untuk memastikan temuan tersebut sekaligus melihat dampak jangka panjangnya.