TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) akan segera menggelar Muktamar ke-35 pada 1-5 Agustus 2026 mendatang. Kegiatan akan berpusat di Jawa Timur yang merupakan basis dari salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini.
Informasi yang dihimpun, Muktamar ke-35 NU akan sekaligus membahas dan menentukan Ketua Umum yang baru. Sejumlah nama pun telah muncul ke publik yang menjadi figur potensial.
Seperti Kyai Haji (KH) Cholil Staquf alias (Gus Yahya) yang merupakan petahana Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU). Lalu ada KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin yang kini sebagai Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng.
Kemudian ada Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar yang saat ini merupakan Menteri Agama RI dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Lalu Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Haji dan Umrah RI, dan KH Marzuki Mustamar, tokoh ulama senior Jatim dan mantan Ketua PWNU Jatim.
Lima nama potensial ini pun juga akan menjadi pertimbangan dari tiap pengurus NU di daerah untuk menentukan nama yang tepat. Meski begitu, Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kulon Progo, Kyai Luqman Arifin Fathul Huda mengatakan belum ada pembahasan soal itu.
"Memang sudah ada peta dukungan terhadap kandidat yang muncul, namun kami belum membahas hal itu," kata pria yang akrab disapa Gus Luqman ini saat dihubungi pada Minggu (26/07/2026).
Ia mengatakan baru akan membahas arah dukungan dalam diskusi secara internal PCNU Kulon Progo. Diskusi akan dilakukan dalam waktu dekat, menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jatim.
Gus Luqman mengatakan sudah ada kriteria kepemimpinan yang dinilai layak dan sesuai dengan kebutuhan NU saat ini. Pemimpin yang dibutuhkan adalah figur yang berpandangan egaliter untuk menata organisasi.
"Pandangan egaliter diperlukan dalam menata kemandirian organisasi, moderasi, manajerial, hingga kedekatan dengan pesantren," ujarnya.
Gus Luqman pun menilai semua nama potensial yang disebutkan rata-rata sudah layak untuk memimpin PBNU ke depan. Mereka dinilai sudah memenuhi kriteria kepemimpinan yang diinginkan.
Saat ini, di Kulon Progo terdapat lebih dari 45 ribu warga NU yang bisa diperhitungkan sebagai suara dukungan untuk kandidat Ketua Umum PBNU yang baru. Namun dipastikan tidak ada upaya mobilisasi warga NU di Kulon Progo untuk memberikan dukungan ke salah satu calon.
"Tidak ada mobilisasi terhadap warga untuk mempengaruhi dukungan terhadap kandidat siapapun," kata Gus Luqman secara tegas.(alx)