TRIBUNMANADO.CO.ID, MINAHASA – Aroma aneka masakan memenuhi rumah-rumah warga di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara pada Minggu (26/7/2026).
Meja-meja dipenuhi hidangan, pintu rumah terbuka menyambut siapa saja yang datang.
Suasana seperti itu menjadi pemandangan yang selalu hadir setiap Hari Pengucapan Syukur.
Baca juga: Pengucapan Syukur di Minahasa, Warga Tetap Bersukacita Meski Hadapi Macet
Di balik tradisi makan bersama yang masih bertahan hingga kini, tersimpan kisah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu cerita itu disampaikan Eddy Londah (85), warga Desa Amongena, Kecamatan Langowan Timur.
Di usianya yang telah senja, ia masih mengingat cerita yang dahulu sering disampaikan orang-orang tua mengenai asal mula tradisi tersebut.
Menurut Eddy, tradisi itu awalnya belum dikenal sebagai Pengucapan Syukur.
Masyarakat kala itu menyebutnya pungutan.
"Setahu saya dari cerita orang tua dulu, awalnya bukan disebut Pengucapan Syukur, tapi pungutan.
Itu hasil panen dari para petani yang dikumpulkan lalu dibawa ke gereja," kata Eddy saat ditemui di Desa Tumaratas, Minggu sore.
Hasil panen berupa padi, jagung, ubi, hingga berbagai hasil kebun lainnya kemudian diserahkan kepada gereja.
Selanjutnya, hasil tersebut dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Seperti panti asuhan, para janda, hingga warga kurang mampu.
"Jadi hasil panen itu dikumpulkan untuk membantu sesama. Itu yang saya dengar sejak dulu," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, tradisi itu mengalami perkembangan.
Masyarakat yang telah menikmati hasil panen mulai menggelar makan bersama di rumah dan mengundang keluarga maupun tetangga untuk ikut bersyukur.
Edy mengaku tidak lagi mengingat kapan istilah pungutan berganti menjadi Pengucapan Syukur.
Namun baginya, makna yang terkandung di dalamnya tetap sama, yakni mengucapkan syukur kepada Tuhan atas berkat yang diterima.
"Pengucapan itu sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang Tuhan berikan.
Sekarang bukan hanya soal panen, tapi juga bersyukur atas kasih karunia dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan," katanya.
Cerita serupa disampaikan Fritz Jhon Watuseke (80), warga Langowan.
Ia mengenang masa ketika beras masih menjadi bahan pangan yang mahal dan tidak mudah dimiliki setiap keluarga.
Saat itu, sebagian besar masyarakat masih mengonsumsi jagung tumbuk maupun umbi-umbian sebagai makanan pokok.
Karena itu, musim panen padi yang biasanya berlangsung pada Juni hingga Juli menjadi momen yang paling dinantikan.
"Dulu beras itu mahal dan langka. Banyak masyarakat lebih sering makan jagung yang ditumbuk atau ubi. Jadi kalau sudah panen padi, itu menjadi sukacita besar," ujar Fritz.
Usai panen, para petani membawa sebagian hasil panen ke gereja sebagai tanda syukur.
Setelah itu, mereka menggelar makan bersama dengan keluarga dan warga sekitar.
"Biasanya satu kompleks makan bersama. Semua datang, berkumpul dan bersyukur karena hasil panen sudah diterima," katanya.
Kini, tradisi tersebut tak lagi hanya menjadi milik para petani.
Pengucapan Syukur telah tumbuh menjadi budaya masyarakat Minahasa, di mana setiap rumah mempersiapkan hidangan terbaik sebagai ungkapan syukur dan sukacita.
"Kalau sekarang, setiap rumah sudah bersiap. Makanan diatur dan siapa saja yang datang dipersilakan makan bersama. Itu sudah menjadi tradisi masyarakat Minahasa sampai sekarang," tuturnya. (Pet)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini