Iran Klaim Hancurkan 11 Pesawat Militer AS Selama Dua Pekan Konflik, IRGC: Dari F-15 hingga P-8 Poseidon
TRIBUNNEWS.COM - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan berbagai aset militer Amerika Serikat selama dua pekan operasi balasan di Timur Tengah.
Berbagai aset militer AS yang diklaim IRGC dihancurkan itu termasuk 11 pesawat militer, 17 pesawat nirawak (drone), sejumlah sistem pertahanan udara Patriot, hingga fasilitas komando dan logistik di beberapa negara kawasan.
Baca juga: Iran Sebut Amerika Alami Kelelahan Strategis, IRGC Ancam Inggris Jika Bantu Serangan AS
Pernyataan tersebut disampaikan IRGC menyusul meredanya operasi udara Amerika Serikat terhadap Iran, setelah Washington menghentikan sementara serangan yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Mohsen Mohebi, mengatakan operasi yang berlangsung pada 8–22 Juli menargetkan kemampuan operasional militer Amerika di kawasan.
Menurutnya, aset militer AS yang dihancurkan meliputi:
IRGC juga mengklaim berhasil menembak jatuh 17 drone pengintai dan tempur, delapan di antaranya disebut merupakan sistem generasi baru.
Selain pesawat, Iran menyatakan telah menyerang tujuh pusat komando dan kendali, tiga sistem komunikasi satelit, enam sistem pertahanan udara Patriot, serta puluhan radar, termasuk radar peringatan dini, radar pertahanan udara, radar jarak jauh, dan radar pengawasan maritim.
Dalam aspek logistik, IRGC mengklaim menghancurkan enam fasilitas perawatan pesawat, tiga pusat logistik, 12 depot bahan bakar, 17 gudang senjata dan suku cadang, serta enam depot rudal.
Iran juga menyebut serangannya menghantam enam hanggar drone, area penempatan jet tempur F-15, hanggar pesawat P-8, empat peluncur HIMARS, empat sistem Patriot, lima hanggar pesawat tempur, enam area parkir pesawat, dua pusat komando, stasiun pengisian bahan bakar, serta dermaga distribusi bahan bakar.
Dalam pernyataan terpisah, Mayor Jenderal Mohammad Reza Akraminia mengatakan operasi Iran difokuskan pada pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, yang disebut sebagai pusat operasi utama Washington di kawasan Teluk.
Menurut Iran, serangan tersebut merupakan respons atas operasi udara Amerika Serikat yang dipicu oleh perselisihan mengenai keamanan dan pengendalian jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Teheran juga menuduh Washington melanggar komitmen dalam nota kesepahaman mengenai aktivitas maritim yang disebut telah disepakati pada Juni lalu.
Selain sasaran militer konvensional, IRGC mengklaim telah menghancurkan sebuah pusat pemrosesan data kecerdasan buatan milik Amazon, dua pusat komunikasi sinyal, serta satu pusat data intelijen. Hingga kini, tidak ada konfirmasi independen mengenai klaim tersebut.
Di sisi lain, sejumlah media Amerika melaporkan Presiden Donald Trump menghentikan sementara operasi udara terhadap Iran pada 24 Juli.
Keputusan itu disebut dipengaruhi kekhawatiran terhadap menipisnya persediaan rudal pencegat serta untuk membuka ruang bagi upaya diplomatik.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim kerusakan yang disampaikan Iran maupun jumlah aset yang disebut telah dihancurkan.
Klaim-klaim yang disampaikan Teheran belum dapat diverifikasi secara independen oleh lembaga pemantau konflik maupun sumber terbuka lainnya.