Hasto Sorot Beda Nasib Terduga Maling Ayam Tewas di Bali dengan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Adi Suhendi July 27, 2026 12:38 AM

Hasto Soroti Beda Nasib Terduga Maling Ayam Tewas di Bali dengan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyoroti beda nasib antara terduga maling ayam yang tewas dikeroyok massa di  Kabupaten Tabanan, Bali dengan eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah yang tak mengenakan rompi dan borgol ketika ditahan Kejaksaan Agung.

Hasto mengatakan saat ini banyak yang melupakan bahwa Indonesia dibangun untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Sehingga, kata dia, tidak boleh ada suatu ketidakadilan.

Apalagi, lanjut Hasto, hal itu ditunjukkan secara ekstrem kepada rakyat yang mungkin menghadapi kesulitan kehidupan ekonomi akibat tantangan tidak ringan saat ini.

Hal itu disampaikan Hasto setelah menghadiri peringatan 30 tahun peristiwa serangan ke kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 atau dikenal dengan Kudatuli di kantor DPP PDIP Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).

"Ini sangat kontras dengan proses penegakan hukum yang terjadi yang berkaitan dengan Bapak mantan Jampidsus, Bapak Febrie," ujar Hasto.

Baca juga: Pakar Sebut Sejak Awal Penanganan Kasus Febrie Janggal: Ada Privilege Ditahan Tanpa Rompi & Borgol 

"Di mana, tadi kami katakan di dalam sambutan bagaimana warga negara yang oleh konstitusi memiliki kedudukan yang sama di mata hukum, ternyata tidak sama di hadapan penegak hukum," imbuhnya.

Ia pun lantas mengingatkan pada pengalamannya saat menjadi tahanan KPK.

Saat itu, kata dia, dia harus mengenakan rompi tahanan oranye KPK dengan tangan diborgol.

Baca juga: Febrie Adriansyah Ditahan tanpa Rompi Tahanan, Eks Wakil Ketua KPK Soroti Keistimewaan Eks Jampidsus

"Sehingga saya pun pernah mengalami ketika mengenakan rompi oranye, diborgol, saya taat, meskipun saya tahu itu bagian dari suatu kriminalisasi akibat sikap keras di dalam menyikapi pemilu tahun 2024 yang lalu. Itu saya terima," ujar dia.

Ia pun mengingatkan tidak boleh ada perlakuan yang berbeda, hanya karena seorang pejabat di bidang hukum sehingga bisa mendapatkan suatu keistimewaan.

Menurutnya, hal-hal semacam itu yang akan mempercepat ketidakpuasan. 

"Kudatuli, mengapa rakyat mendukung? Karena saat itu ketidakpuasan di mana hukum hanya berpihak pada elit, di mana kekuasaan ekonomi hanya dikelola pada kroni-kroni Pak Harto," kata Hasto.

"Jangan sampai pengalaman pahit itu terjadi kembali, dan kondisi yang ekstrem tersebut menunjukkan bahwa hukum betul-betul tidak berkeadilan," ujar dia.

Maling Ayam dan Kasus Febrie

Pria berinisial KD menjadi sasaran amuk massa setelah kepergok mencuri ayam aduan milik warga di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali  pada Jumat (24/7/2026) dini hari.

KD tewas di lokasi kejadian sebelum petugas kepolisian datang.

Peristiwa tersebut menjadi ironi di tengah publik sedang menyoroti kasus eks Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.

Febrie yang terjerat kasus korupsi dengan barang bukti mencapai ratusan miliar rupiah pada saat dilakukan penahanan pada Jumat (24/7/2026) malam tak dikenakan baju tahanan. Bahkan tangannya pun tidak diborgol.

Ini menjadi sorotan karena biasanya Kejaksaan Agung akan memborgol tangan tersangka serta dikenakan rompi tahanan ketika seseorang digiring menuju tahanan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.