Adu Murah Biaya Hidup Dua Lumbung Pangan Nasional: Banyuasin vs Bone, Mana Lebih Ramah Kantong?
Yandi Triansyah July 27, 2026 08:27 AM

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kabupaten Banyuasin di Sumatera Selatan dan Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan punya satu benang merah yang sama, keduanya adalah raksasa lumbung pangan nasional.

Banyuasin secara konsisten mendominasi produksi padi di Sumatra dengan capaian menembus 1 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

Di seberang pulau, Bone menjadi benteng ketahanan pangan utama Sulawesi Selatan dengan panen padi yang saban tahun mendekati angka satu juta ton.

Sama-sama menyokong piring nasi jutaan rakyat Indonesia, lantas bagaimana dengan urusan dapur dan dompet penduduk lokalnya?

Jika kedua daerah penghasil beras ini diadu dari segi biaya hidup, mana yang ternyata lebih ramah kantong?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru per Senin (27/7/2026), terdapat perbedaan struktur pengeluaran yang cukup menarik antara kedua wilayah ini.

Banyuasin: Terkatut Megapolitan Palembang, Pengeluaran Makanan Lebih Tinggi

Secara geografis, posisi Banyuasin terbilang unik. Wilayahnya yang luas mengepung langsung Kota Palembang sebagai ibu kota provinsi.

Kedekatan akses dengan pusat perekonomian utama ini tak dimungkiri memberi daya tekan tersendiri terhadap harga barang dan jasa di lapangan.

Tak heran jika rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di Banyuasin berada di angka Rp 1.170.249.

Jika dibedah lebih dalam, porsi terbesar pengeluaran warga Banyuasin masih didominasi oleh kelompok makanan, yakni mencapai Rp 697.950 per bulan.

Sementara itu, untuk kebutuhan bukan makanan (seperti perumahan, energi, pendidikan, dan transportasi), warga menghabiskan rata-rata Rp 472.299.

Tingginya porsi konsumsi makanan ini menunjukkan bahwa meski berstatus sebagai produsen beras raksasa, dinamika pasar wilayah penyangga (hinterland) Palembang tetap memengaruhi laju harga kebutuhan pokok sehari-hari.

Bone: Jawara Biaya Hidup Murah di Sulawesi Selatan

Bergeser ke Sulawesi Selatan, Kabupaten Bone justru mencatatkan predikat sebagai salah satu daerah dengan biaya hidup terjangkau.

Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Bone berada di angka Rp 949.278  atau sekitar Rp 220 ribu lebih rendah ketimbang Banyuasin.

Satu hal yang menonjol dari Bone adalah efisiensi pengeluaran untuk bahan pangan. Warga Bone rata-rata hanya mengeluarkan Rp 443.325 per bulan untuk makanan.

Angka ini jauh lebih hemat dibandingkan Banyuasin, yang mengindikasikan pasokan pangan lokal di kawasan tersebut terdistribusi dengan harga yang relatif sangat terjangkau.

Namun, uniknya, pengeluaran bukan makanan di Bone justru sedikit lebih tinggi dari Banyuasin, yakni mencapai Rp 505.952 per bulan.

Ini menandakan bahwa lebih dari separuh alokasi anggaran rumah tangga di Bone justru terserap untuk kebutuhan non-pangan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Kabupaten Bone keluar sebagai pemenang dalam urusan biaya hidup yang lebih murah.

Akses bahan makanan yang sangat terjangkau menjadi faktor kunci rendahnya beban pengeluaran harian masyarakat di Bone.

Di sisi lain, Banyuasin memiliki tantangan biaya hidup yang sedikit lebih tinggi akibat dampaknya sebagai kawasan aglomerasi Palembang, meskipun alokasi untuk kebutuhan non-makanannya relatif lebih efisien.

Kedua daerah ini membuktikan bahwa status sebagai produsen pangan besar tidak selalu berbanding lurus dengan struktur biaya hidup yang identik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.