Hasto PDIP Tanggapi Pernyataan Prabowo soal Londo Ireng: Suara Kritis Seharusnya Diberi Ruang
Dewi Agustina July 27, 2026 08:36 AM


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menanggapi ucapan Londo Ireng yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto saat acara peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Puncak Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Hasto mengatakan PDIP berpegang pada pernyataan Presiden Prabowo ketika menghadiri forum resmi di DPR dan juga dihadiri perwakilan DPD RI yang mengatakan bahwa demokrasi memerlukan check and balances dan kritik.

Baca juga: Membaca Pesan Politik di Balik Istilah ‘Londo Ireng’ Presiden Prabowo

Rakyat, kata Hasto, menuntut agar apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo juga dinyatakan melalui suatu tindakan-tindakan konkret. 

Karena menurutnya, pengalaman dari peristiwa serangan ke kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 atau dikenal dengan Kudatuli, bila suara kritis dibungkam, maka akan terjadi letupan yang tidak diinginkan. 

Hal itu disampaikan Hasto usai menghadiri peringatan 30 tahun peristiwa serangan ke kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 atau dikenal dengan Kudatuli di kantor DPP PDIP Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).

"Di Nepal sudah terjadi, di beberapa wilayah, Bangladesh, sehingga suara-suara kritis yang mereka bersuara itu juga dengan rasa patriotik, dengan cinta terhadap tanah air, itu seharusnya diberikan ruang," pungkas Hasto.

 

 

Londo Ireng

Ucapan itu kini memicu kritik dari sejumlah pihak.

Presiden awalnya mempertanyakan sumber pendanaan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pengamat yang kerap melontarkan kritik pesimistis terhadap negara. 

Dia lalu menegaskan, sebagai negara demokrasi, Indonesia tidak pernah anti terhadap kritik. 

Namun, ia menyayangkan pihak-pihak yang menurutnya sengaja mengabdi pada kepentingan asing dan melemahkan bangsa sendiri.

Ia menganalogikan kelompok itu dengan istilah "Londo Ireng".

"Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain," ujar Prabowo.

"Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada," ucapnya.

Dia lalu mempertanyakan sosok penyandang dana di balik pihak-pihak yang kerap tampil dengan narasi negatif tersebut. 

Ia pun menyinggung soal sulitnya mencari kerja saat ini.

"Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan," cecarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.