Trump Baru Gertak Iran Harus Bayar Mahal Kematian Prajurit AS, Kini Ajak Rundingan, Teheran Menolak
Agung Budi Santoso July 27, 2026 09:08 AM

Donald Trump belum lama gertak Iran harus bayar mahal kematian Prajurit AS di Timur Tengah, kini ajak rundingan, Teheran sudah tak percaya

TRIBUNSTYLE.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Iran setelah seorang tentara AS dilaporkan tewas dalam pertempuran akhir pekan lalu. Trump menegaskan Teheran akan membayar mahal atas kematian personel militernya.

“Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar atas pembunuhan itu berkali-kali lipat!” tulis Trump di media sosial pada Senin (20/7/2026).

Trump juga mengaku telah menginstruksikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Daniel Caine, serta seluruh jajaran militer AS untuk menindaklanjuti arahannya.

Iran Sudah Kebal Tekanan Psikologis Trump

Pernyataan bernada ultimatum itu memicu spekulasi bahwa Washington tengah menyiapkan respons besar terhadap Iran. Namun, sejumlah pengamat menilai ancaman Trump lebih merupakan bagian dari strategi menekan Teheran ketimbang sinyal invasi darat.

Dalam wawancara di KompasTV yang tayang Sabtu (25/7/2026), Atase Pertahanan Indonesia di Iran periode 2009–2012, Mayjen TNI (Purn.) Budi Pramono, mengatakan pernyataan Trump mencerminkan kemarahan yang luar biasa karena untuk pertama kalinya korban di pihak militer Amerika menjadi sorotan.

"Ini adalah kemarahan yang amat sangat yang menggelitik hati Trump, karena selama ini tidak terekspos seberapa besar korban-korban tersebut," ujar Budi.

"Tapi sekali korban ini ternyata ada, ini bagi Trump kan sangat mengganggu, irritating."

Menurut Budi, kematian tentara Amerika berpotensi memengaruhi citra Trump di mata publik AS sehingga Presiden dari Partai Republik itu diperkirakan akan menunjukkan respons yang tegas.

"Trump pastinya marah dan dia akan benar-benar memberikan pelajaran," katanya.

Meski begitu, Budi menilai kemarahan Trump belum tentu berujung pada operasi militer darat. Ia justru memperkirakan Washington akan lebih mengandalkan tekanan psikologis untuk melemahkan Iran.

"Kemarahan yang memuncak pun bukan berarti ini akan menuju serangan darat. Lagi-lagi psychological warfare," ujarnya.

Namun, menurutnya, strategi tersebut kini tidak lagi terlalu efektif karena Iran sudah terbiasa menghadapi tekanan serupa.

"Iran sudah terbiasa sehingga semakin imun untuk menghadapi tekanan-tekanan psikologi seperti itu," tambahnya.

Dukungan Perang di AS Mulai Melemah

Dalam kesempatan yang sama, dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, Evata Filomeno Borromeu Duarte, menilai setiap langkah militer Amerika tetap akan bergantung pada hasil analisis intelijen dan situasi politik domestik.

Ia menyoroti mulai melemahnya dukungan publik terhadap perang, termasuk dari basis pendukung Trump sendiri.

"Pendukung MAGA itu, 1 dari 5 orang, mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mendukung perang tersebut."

Karena itu, Evata menilai Trump masih memiliki berbagai pilihan untuk menekan Iran tanpa harus membuka front perang baru, termasuk melalui kebijakan ekonomi.

"Donald Trump mencoba semaksimal mungkin untuk mengambil pundi-pundi keuangan dari dunia," ujarnya.

Evata juga menilai Iran tetap menunjukkan sikap keras dengan menolak tambahan mediator dalam proses negosiasi karena menganggap Amerika Serikat tidak memiliki itikad baik.

"Amerika Serikat disebut sangat delusional, tidak mampu memiliki satu etiket baik dalam perundingan jenis apa pun."

Kekuatan Utama Iran Bukan Teknologi, tetapi Daya Tahan

Budi menilai keunggulan terbesar Iran bukan terletak pada teknologi persenjataan, melainkan kemampuannya bertahan dalam konflik berkepanjangan.

Menurutnya, Iran masih memiliki kemampuan perang asimetris yang menyulitkan Amerika Serikat.

"The power of endurance. Inilah yang sebetulnya kelebihan dari Iran."

Ia juga menyebut Iran masih menyimpan ribuan rudal di fasilitas bawah tanah yang sulit dijangkau serangan musuh.

"Sampai sekarang Iran masih diakui mampu mengunci Hormuz," ujarnya.

Kemampuan mengancam Selat Hormuz, lanjut Budi, menjadi kartu strategis Iran karena jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Sementara itu, Evata memperkirakan Iran tidak akan melancarkan serangan langsung dalam skala besar terhadap Amerika Serikat. Teheran diperkirakan lebih memilih menjaga eskalasi tetap terkendali sambil terus memberi tekanan.

"Kita juga melihat serangan dari Iran tidak menyasar langsung ke Israel," ujarnya.

"Ada diplomasi back channel yang bocor bahwa dari kedua negara juga berharap nanti ke depannya ada satu langkah yang baru ya terkait dengan konsolidasi ke depan."

Menurut Evata, justru Amerika Serikat yang terlihat terus mencari alasan untuk meningkatkan eskalasi militer.

Skenario Terburuk: Perang Meluas ke Negara-Negara Teluk

Budi mengatakan skenario paling berbahaya adalah jika konflik meluas dan menyeret negara-negara Teluk ke dalam perang terbuka.

Namun, ia menilai kemungkinan tersebut masih kecil karena negara-negara di kawasan itu sejauh ini memilih menahan diri demi menjaga kepentingan nasional masing-masing.

"Regional total warfare ini yang paling jelek, skenario yang paling buruk. Dan saya kira ini juga tidak mungkin terjadi," ujar Budi.

"Terbukti dari ada beberapa negara Teluk yang dia tidak membalas ke Iran. Kenapa? Karena dia yakin benar apabila dia membalas, negara-negara Teluk ini kan masuk dalam covernya Sejjil-nya Iran."

Adapun terkait Israel, Evata menilai Tel Aviv masih berhitung sebelum mengambil langkah yang dapat memperluas perang. Peluang keterlibatan Israel, menurutnya, baru akan meningkat apabila Iran lebih dulu melancarkan serangan langsung.

"Kalau Iran tidak menyerang Israel sampai saat ini dalam diplomasi back channel yang bocor tadi, mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin melakukan serangan apapun dan mereka tidak ingin terlibat dalam eskalasi konflik yang diciptakan oleh dari Iran dan juga Amerika," ungkap Evata.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.