Ringkasan Materi dan 5 Soal HOTS Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Bab 1 Teks Narasi dan Deskripsi
Siti Umnah July 27, 2026 09:27 AM

SRIPOKU.COM - Memasuki tahun terakhir di bangku sekolah, materi pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Merdeka dirancang untuk memperkuat kemampuan literasi tingkat lanjut, baik dalam konteks ilmiah maupun sastra kreatif.

Pada Bab 1, siswa kelas 12 akan diajak mengeksplorasi kembali kekuatan penulisan melalui kombinasi Teks Narasi dan Teks Deskripsi.

Di tingkat Fase F ini, fokus pembelajaran bukan lagi sekadar menulis cerita biasa, melainkan bagaimana menyusun rangkaian peristiwa yang kronologis sekaligus menghidupkan suasana objek secara sensorik (melibatkan pancaindra) sehingga tulisan terasa nyata, meyakinkan, dan memiliki kedalaman makna.

Baca juga: Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP Materi Bab 1 Demi Keluarga Kurikulum Merdeka

Bagi adik-adik kelas 12 yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan, maupun Bapak/Ibu guru yang sedang melengkapi modul ajar harian, berikut kami sajikan Ringkasan Materi Esensial Bab 1 Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA beserta 5 Contoh Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) dan Kunci Jawabannya:

RINGKASAN MATERI BAB 1: TEKS NARASI DAN DESKRIPSI

1. Karakteristik dan Sinergi Dua Teks

Di kelas 12, siswa belajar memadukan dua corak karangan agar sebuah tulisan menjadi lebih berbobot:

Teks Narasi: Teks yang menyajikan rangkaian peristiwa atau kejadian secara kronologis (berdasarkan urutan waktu). Unsur utamanya meliputi tokoh, alur (plot), konflik, dan latar tempat/waktu.
Teks Deskripsi: Teks yang menggambarkan suatu objek, tempat, atau suasana secara terperinci. Karakteristik utamanya menggunakan citraan pancaindra (penglihatan, pendengaran, perabaan) agar pembaca seolah-olah melihat atau merasakannya sendiri.
Sinergi: Dalam karya sastra modern maupun teks jurnalistik, teks deskripsi sering disisipkan di tengah-tengah teks narasi  untuk memperkuat atmosfer cerita saat konflik terjadi.

2. Kaidah Kebahasaan Tingkat Lanjut

Kata Sifat (Adjektiva) Deskriptif: Menggunakan kata sifat yang spesifik untuk memperjelas impresi objek (contoh: senja yang temaram, aroma tanah yang pekat).
Kata Kerja Tindakan (Verba Material): Menunjukkan aktivitas fisik yang dilakukan tokoh dalam alur narasi (contoh: melangkah, mendekap, menghempaskan).
Majas/Gaya Bahasa: Menggunakan metafora, personifikasi, atau hiperbola untuk meningkatkan estetika dan kedalaman rasa tulisan.

CONTOH SOAL HOTS BAHASA INDONESIA KELAS 12 SMA

Soal HOTS kelas 12 SMA menuntut siswa mampu menganalisis perpaduan jenis teks, menafsirkan makna tersirat dari gaya bahasa, serta mengevaluasi efektivitas deskripsi sensorik.

Soal 1 (Menganalisis Perpaduan Narasi dan Deskripsi)
Bacalah kutipan teks berikut!

Lelaki tua itu melangkah tertatih menembus pekatnya malam. Angin dingin menusuk hingga ke tulang, sementara rintik hujan mulai membasahi jaket kusamnya yang sudah robek di bagian siku. Ia berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu yang sunyi, menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu dengan tangan yang bergetar.

Analisis yang paling tepat mengenai struktur perpaduan teks di atas adalah...

A. Teks tersebut murni teks narasi karena hanya menceritakan urutan kejadian tokoh mengetuk pintu.

B. Teks tersebut adalah teks narasi yang diperkuat oleh teks deskripsi suasana dan fisik untuk membangun emosi dan memperjelas kondisi tokoh serta latar waktu.

C. Teks tersebut adalah teks deskripsi ekspositoris yang bertujuan menjelaskan cara mengetuk pintu rumah kayu secara detail.

Kunci Jawaban : B. Teks tersebut adalah teks narasi yang diperkuat oleh teks deskripsi suasana dan fisik untuk membangun emosi dan memperjelas kondisi tokoh serta latar waktu.

Pembahasan: Teks di atas memiliki alur peristiwa (narasi) seperti melangkah, berhenti, mengetuk. Namun, kalimat-kalimat di dalamnya dipadukan dengan deskripsi detail ("jaket kusam yang robek", "tangan yang bergetar", "angin dingin menusuk") untuk menghidupkan suasana secara sensorik kepada pembaca.

Soal 2 (Menafsirkan Citraan Pancaindra/Deskripsi Sensorik)
“Bau gurih bawang goreng bercampur aroma kuah kaldu yang mengepul hangat langsung menyergap hidungku begitu melangkah masuk ke dapur nenek. Sayup-sayup terdengar gemercik minyak panas dari wajan baja tua tempat nenek menggoreng emping.”

Citraan pancaindra (sensorik) yang paling dominan digunakan dalam kutipan deskripsi di atas adalah...

A. Penglihatan dan perabaan

B. Penciuman dan pendengaran

C. Pencecapan dan penglihatan

Kunci Jawaban : B. Penciuman dan pendengaran

Pembahasan: Frasa "bau gurih... aroma kuah... menyergap hidungku" menggunakan citraan penciuman (penciuman). Frasa "sayup-sayup terdengar gemercik minyak panas" menggunakan citraan pendengaran (auditif).

Soal 3 (Mengevaluasi Fungsi Konflik dalam Alur Narasi)
“Selama sepuluh tahun bekerja sebagai akuntan di perusahaan itu, Haris dikenal sebagai pria yang sangat jujur. Namun sore ini, ketika ia melihat tumpukan uang tunai tak bertuan di meja direktur yang terbuka lebar dan mengingat biaya operasi anaknya yang kurang sepuluh juta rupiah, jemarinya mulai gemetar dan keringat dingin membasahi dahinya.”

Fungsi dari penyisipan detail deskripsi fisik ("jemarinya mulai gemetar dan keringat dingin membasahi dahi") pada alur narasi konflik di atas adalah...

A. Untuk memperlambat jalan cerita agar pembaca merasa bosan.

B. Untuk menggambarkan secara visual pergulatan batin dan ketegangan psikologis yang sedang dialami tokoh secara dramatis tanpa harus ditulis eksplisit.

C. Untuk menjelaskan bahwa tokoh sedang mengalami gejala demam berdarah di tempat kerja.

Kunci Jawaban : B. Untuk menggambarkan secara visual pergulatan batin dan ketegangan psikologis yang sedang dialami tokoh secara dramatis tanpa harus ditulis eksplisit.

Pembahasan: Dalam teknik penulisan narasi tingkat lanjut (show, don't tell), deskripsi respons fisik seperti tangan gemetar dan keringat dingin digunakan untuk menggambarkan ketegangan psikologis atau konflik batin tokoh secara dramatis agar pembaca dapat merasakan emosinya.

Soal 4 (Mengkritisi Efektivitas Penggunaan Majas)
“Mentari pagi menyapa penduduk desa dengan senyuman hangatnya, membangunkan pepohonan yang masih malas bergerak berselimut kabut tipis.”

Penggunaan majas personifikasi dalam teks deskripsi latar di atas memberikan efek berupa...

A. Membuat suasana latar pagi hari terkesan menyeramkan dan mistis.

B. Menghidupkan benda-benda mati di alam (mentari dan pepohonan) seolah-olah memiliki perilaku seperti manusia sehingga deskripsi latar terasa lebih dinamis dan puitis.

C. Mengaburkan informasi waktu sehingga pembaca bingung apakah cerita terjadi siang atau malam hari.

Kunci Jawaban : B. Menghidupkan benda-benda mati di alam (mentari dan pepohonan) seolah-olah memiliki perilaku seperti manusia sehingga deskripsi latar terasa lebih dinamis dan puitis.

Pembahasan: Majas personifikasi melekatkan sifat manusia ("menyapa", "tersenyum", "malas bergerak") pada benda mati atau alam. Efeknya adalah membuat deskripsi latar alam menjadi hidup, berjiwa, dan lebih estetik bagi pembaca.

Soal 5 (Menyusun Urutan Alur Narasi yang Logis)
Perhatikan acakan peristiwa berikut!

Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengayuh sepedanya mendaki bukit terjal tersebut.
Roda sepedanya tiba-tiba terhenti karena rantainya putus di tengah jalan yang sepi.
Tepat saat matahari terbenam, ia berhasil sampai di puncak dan melihat cahaya lampu rumahnya dari kejauhan.
Fajar baru saja menyingsing ketika Dani bersiap meninggalkan rumah dengan sepedanya.
Urutan kronologis alur narasi yang paling padu dan logis adalah...

A. 4) – 1) – 2) – 3)

B. 4) – 2) – 1) – 3)

C. 1) – 4) – 2) – 3)

Kunci Jawaban : B. 4) – 2) – 1) – 3)

Pembahasan: Urutan kronologis mengikuti perjalanan waktu: Dimulai dari pagi hari (Fajar menyingsing - 4), lalu terjadi hambatan di perjalanan (rantai putus - 2), dilanjutkan perjuangan tokoh (mengayuh dengan sisa tenaga - 1), dan diakhiri dengan pencapaian tujuan pada sore hari (matahari terbenam - 3). Jadi urutan yang logis adalah 4-2-1-3.

Kesimpulan
Pembelajaran perpaduan Teks Narasi dan Deskripsi di kelas 12 SMA Kurikulum Merdeka bukan sekadar melatih keterampilan teknis menulis, melainkan mengasah kepekaan rasa dan ketajaman observasi siswa terhadap realitas kehidupan.

Kemampuan merangkai kronologi peristiwa yang hidup dengan detail deskripsi sensorik yang kuat akan menjadi modal berharga bagi siswa, baik untuk penulisan kreatif, komunikasi profesional, maupun analisis jurnalistik di masa depan.***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.