SRIPOKU.COM, MARTAPURA – Kesabaran masyarakat Desa Karang Negara, Kecamatan Madang Suku II, Kabupaten OKU Timur, mulai mencapai batas.
Setelah lebih dari satu abad hidup tanpa jembatan penghubung menuju Desa Riang Bandung sebagai akses utama ke jalan raya, warga kini bersiap menggelar aksi damai untuk menuntut pemerintah segera merealisasikan pembangunan infrastruktur yang telah lama dinantikan.
Ratusan warga berencana mendatangi Kantor DPRD dan Kantor Bupati OKU Timur dalam waktu dekat.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi agar pemerintah memberikan kepastian terkait pembangunan jembatan yang selama ini hanya sebatas usulan.
Bagi masyarakat Karang Negara, jembatan bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan kebutuhan mendasar yang menentukan kelancaran aktivitas sehari-hari.
Seluruh kegiatan ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga pelayanan pemerintahan masih bergantung pada perahu ketek untuk menyeberangi Sungai Komering.
Salah seorang warga, Veraningsing (27), mengaku sejak lahir hingga kini belum pernah merasakan adanya jembatan yang menghubungkan desanya dengan jalan utama.
"Pak Bupati, kami minta dibangunkan jembatan. Pak Gubernur, Pak Presiden Prabowo, kami hanya ingin menyampaikan isi hati masyarakat Desa Karang Negara. Kami menderita karena desa kami belum memiliki jembatan penghubung.
Sudah ratusan tahun desa ini berdiri, tetapi kami masih terisolasi. Kami hanya ingin jembatan," ujar Veraningsing kepada Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, masyarakat berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai rencana pembangunan jembatan tersebut.
Jika tidak ada tindak lanjut, warga akan menyampaikan aspirasi secara langsung ke pemerintah daerah.
"Kalau memang belum ada tindakan, kami akan datang ke Kantor Bupati untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Tolong bantu kami, Pak," katanya.
Senada disampaikan Sekretaris Desa Karang Negara, Najamuddin. Ia mengatakan masyarakat sudah terlalu lama menunggu realisasi pembangunan jembatan yang menjadi harapan seluruh warga.
Menurutnya, hampir seluruh masyarakat mendukung langkah penyampaian aspirasi secara damai apabila dalam waktu dekat belum ada kejelasan dari pemerintah.
"Masyarakat Desa Karang Negara sudah capek menunggu. Kalau dalam waktu dekat belum juga ada informasi mengenai rencana pembangunan jembatan, kami akan mendatangi Kantor Bupati untuk menyampaikan aspirasi masyarakat," tegas Najamuddin.
Ia menjelaskan, berdasarkan sejarah pemerintahan desa, Karang Negara merupakan salah satu desa tertua di Kabupaten OKU Timur yang telah memiliki sistem pemerintahan sejak sekitar tahun 1902.
Saat itu kepala desa masih menggunakan sebutan Kerio dengan pemimpin pertama tercatat bernama Kerio Mantan yang memimpin pada periode 1902 hingga 1914.
Meski telah berdiri lebih dari satu abad, hingga kini desa tersebut belum pernah memiliki jembatan penghubung menuju Desa Riang Bandung sebagai akses utama menuju jalan raya.
Akibatnya, hampir seluruh aktivitas masyarakat masih bergantung pada transportasi sungai. Warga harus menggunakan perahu ketek maupun biduk untuk bekerja, mengangkut hasil pertanian, mengurus administrasi pemerintahan, mendapatkan layanan kesehatan hingga mengantar anak-anak bersekolah ke tingkat SMP dan SMA.
Najamuddin menegaskan, usulan pembangunan jembatan sebenarnya sudah disampaikan berulang kali selama bertahun-tahun, namun hingga kini belum juga terealisasi.
"Sejak desa ini berdiri sampai sekarang belum pernah ada pembangunan jembatan. Dari dulu hingga sekarang masyarakat hanya mengandalkan perahu ketek sebagai akses utama keluar masuk desa. Padahal jembatan ini sudah sangat lama menjadi harapan seluruh masyarakat," ujarnya.
Ia menilai keberadaan jembatan akan membawa perubahan besar bagi Desa Karang Negara. Selain memangkas waktu tempuh dan biaya transportasi, akses yang lebih baik diyakini akan mempercepat distribusi hasil pertanian, meningkatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta memperlancar pelayanan pemerintahan.
Najamuddin juga mengingatkan bahwa lambatnya pembangunan infrastruktur dikhawatirkan memicu semakin banyak warga meninggalkan desa.
"Lama-kelamaan Desa Karang Negara bisa tinggal nama saja. Warga sudah banyak yang pindah ke desa lain. Padahal jembatan ini sangat penting untuk menunjang aktivitas masyarakat sekaligus membangun desa kami," pungkasnya.