Sebelum Mengundurkan Diri, Perry Warjiyo Sempat Didesak Mundur Buntut Nilai Tukar Rupiah Melemah
Rusaidah July 27, 2026 10:03 AM

 

BANGKAPOS.COM -- Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Minggu (26/7/2026). 

Kabar tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Senin (27/6/2026).

Prasetyo menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry pada Minggu (26/7/2026) dan akan segera menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) untuk menerima pengunduran diri tersebut.

Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia, posisi Gubernur BI untuk sementara akan dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti hingga mekanisme pengisian jabatan definitif dilakukan.

Pemerintah juga meminta masyarakat tetap menjaga kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan moneter dan fiskal.

Baca juga: Jejak Karir Perry Warjiyo Bankir yang Mundur dari Jabatan Gubernur Bank Indonesia

Sebelum akhirnya mengundurkan diri, Perry sempat menghadapi desakan agar melepas jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Desakan tersebut muncul ketika nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat.

Permintaan itu disampaikan oleh Primus Yustisio dalam rapat kerja bersama Perry di Komisi XI DPR yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Senin (18/6/2026).

Dalam forum tersebut, Primus menilai terdapat kejanggalan pada kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebut mencapai 5,61 persen tidak sejalan dengan terus merosotnya nilai tukar rupiah.

"Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar," kata Primus dalam ruang rapat.

Selain mengkritik pelemahan rupiah, Primus juga menyoroti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menilai kinerja pasar modal Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain yang telah pulih setelah dampak perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.

"Indeks kita juga habis Pak, merosot turun, di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus, dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen," ucap dia.

Menurut Primus, kondisi tersebut memunculkan sorotan dari dunia internasional terhadap kinerja Bank Indonesia sebagai bank sentral. Ia menilai berbagai indikator ekonomi yang mengalami penurunan menjadi alasan untuk mempertanyakan kualitas kinerja BI.

"Ini kan bagaimana global mempertanyakan, salah satu, ada banyak faktor, tetapi mempertanyakan kualitas Bank Indonesia, Bank Sentral kita ini. Nah, ini yang menurut saya, saya harus secara tajam pertanyakan," ucapnya.

Lebih lanjut, Primus menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap berbagai mata uang asing lainnya, termasuk dolar Singapura dan ringgit Malaysia.

"Faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Real, apalagi Hong Kong Dolar, Euro. Saya masih ingat Pak, Euro tahun waktu awal-awal tahun 2006 itu 7.000 per Euro, sekarang hampir 19.000, hampir 20.000," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Primus juga menyinggung sikap yang menurutnya bersifat gentleman dalam menghadapi situasi tersebut. Ia mengatakan tidak ada yang keliru apabila Perry memilih mengundurkan diri dari posisinya sebagai Gubernur BI.

"Pak Perry yang saya hormati, kadang-kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah, kalau selanjutnya terserah Bapak tentu saja," kata dia.

"Tapi itu bukan sikap penghinaan Pak. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik, seperti itu. Tidak ada salahnya," tegas Primus.

Tak hanya itu, politikus PAN yang juga dikenal berlatar belakang sebagai aktor tersebut turut mengutip hadis Nabi Muhammad yang menurutnya relevan bagi pejabat yang tidak memiliki kompetensi di bidang yang dipimpinnya.

"Terakhir, saya ingin mengutip hadis Pak, dan karena Anda ini adalah saya melihat orang yang saleh, hadis ini sangat familiar, yang artinya dalam Indonesia 'Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya'," tandas dia.

Versi ini mempertahankan seluruh kutipan langsung apa adanya, tetapi mengubah struktur kalimat, pilihan kata, dan alur narasi sehingga berbeda dari naskah asli.

Rekam Jejak Perry Warjiyo

Dilansir website resmi BI bi.go.id, Perry Warjiyo merupakan pria yang lahir di Sukoharjo pada tahun 1959.

Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1982.

Perry Warjiyo kemudian melanjutkan studinya di Iowa State University, di mana ia meraih gelar Master pada tahun 1989 dan gelar Ph.D. pada tahun 1991.

Perry Warjiyo menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2018-2023 dan kembali dipercaya untuk memimpin Bank Indonesia pada periode 2023-2028.

Sebelum menjadi Gubernur BI, Perry Warjiyo adalah Deputi Gubernur BI dari tahun 2013 hingga 2018, dan sebelumnya lagi menjabat Asisten Gubernur serta Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI pada kurun waktu 2009-2013.

Perry Warjiyo juga memiliki pengalaman internasional, menjabat sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF) dari tahun 2007 hingga 2009, mewakili 13 negara di Asia Tenggara.

Karier panjang Perry Warjiyo di Bank Indonesia dimulai sejak tahun 1984, dengan fokus pada riset ekonomi, kebijakan moneter, isu internasional, dan transformasi organisasi.

Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia juga meraih banyak penghargaan, seperti The Best Central Bank of the Year dari Global Islamic Finance Awards pada tahun 2022 dan 2018.

Perry Warjiyo sangat mencintai ilmu pengetahuan dan aktif menulis, telah menerbitkan sejumlah buku, jurnal, dan makalah di bidang ekonomi dan moneter.

Beberapa karya fenomenalnya adalah buku Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (2020), Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik (2016), dan Kebijakan Moneter di Indonesia (2003).

Ia resmi ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode kedua berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 38/P Tahun 2023 tanggal 5 Mei 2023, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 24 Mei 2023.

(Bangkapos.com/Surya.co.id/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.