Komunitas Rimba Manokwari Angkat Suara Alam dan Kemanusiaan di Hari Puisi Indonesia
Hans Arnold Kapisa July 27, 2026 10:44 AM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI – Peringatan Hari Puisi Indonesia ke-14 yang digelar Komunitas Rimba Manokwari menghadirkan ruang refleksi bagi peserta untuk mengenang sejarah, menyuarakan persoalan lingkungan, serta mengangkat isu-isu sosial di Tanah Papua.

Kegiatan berlangsung di Kampung Cigebey, Kelurahan Andai, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Minggu (26/7/2026). diikuti pelajar, pegiat literasi, serta komunitas perempuan.

Pantauan TribunPapuaBarat.com, pembacaan puisi dilakukan bergantian oleh siswa SMP Katolik Villanova Manokwari, perwakilan Perempuan Mahardika, anak-anak dari Komunitas Rimba Manokwari, hingga para pegiat sastra.

Tema yang diangkat mencakup sejarah, identitas, lingkungan hidup, hak masyarakat adat, hingga persoalan kemanusiaan di Papua.

Sejumlah karya yang dibacakan antara lain:

  • Maria Haya dengan puisi Kita Adalah Pemilik Sah Negeri Ini
  • Kondjol Hanasbey dengan puisi Sagu Ambon
  • Erna dengan puisi Papua Bukan Tanah Kosong
  • Ketua Komunitas Rimba Manokwari, Maria Minis, dengan puisi Perampas Hak Masyarakat Adat melalui PSN

Suasana pembacaan puisi berlangsung khidmat. Beberapa peserta tampak larut hingga menitikkan air mata, sementara lainnya memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi.

Baca juga: Komunitas Rimba Manokwari Peringati Hari Puisi Indonesia dengan Pentas Sastra

Adolf Tapilattu Rumaikewi, salah seorang narasumber, mengaku tersentuh dengan karya yang dibawakan.

“Saat pembacaan puisi saya benar-benar merinding, karena tema-tema yang diangkat cukup kuat. Mereka berbicara tentang persoalan masa kini sekaligus mengingatkan kita pada sejarah yang tidak boleh dilupakan,” ujarnya.

Menurut Adolf, puisi memiliki peran penting sebagai media refleksi sosial sekaligus ruang untuk menyampaikan suara masyarakat.

Ia menilai pelibatan generasi muda dalam kegiatan sastra merupakan langkah positif untuk memperluas wawasan mereka terhadap sejarah, budaya, lingkungan, dan realitas sosial.

“Ruang seperti ini sangat penting bagi anak-anak dan generasi muda. Mereka belajar memahami berbagai isu sekaligus mengenal sejarah agar tidak melupakannya,” katanya.

Adolf berharap peringatan Hari Puisi Indonesia tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga wadah lahirnya penyair muda Papua Barat yang mampu menghadirkan karya sastra sebagai media edukasi, kritik sosial, dan pelestarian budaya.

Sebagai informasi, Hari Puisi Indonesia tahun 2026 telah memasuki peringatan ke-14 secara nasional.

Sementara itu, Komunitas Rimba Manokwari baru empat kali menggelar perayaan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya literasi dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia sastra di Papua Barat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.