Polwan Polda Sumbar Ungkap Dugaan Pelecehan, Diminta Tutup Mata Sebelum Kejadian di Ruang Atasan
taryono July 27, 2026 11:39 AM

Tribunlampung.co.id, Sumatera Barat - Seorang Polwan berpangkat Brigadir di Polda Sumatera Barat (Sumbar) mengungkap dugaan pelecehan seksual yang dilakukan atasannya di dalam ruang kerja. 

Baca juga: Kecelakaan Maut di Surabaya, Motor Tabrak Truk Sampah yang Menepi, Bocah 7 Tahun Tewas

Peristiwa itu disebut bermula ketika korban diminta menutup mata dengan alasan akan memilih salah satu dari dua amplop yang disediakan oleh sang atasan.

Korban yang identitasnya disamarkan dengan nama Mawar mengaku kejadian tersebut berlangsung pada Kamis (15/1/2026). Saat itu, ia bersama enam rekan perempuan lainnya tengah mempersiapkan rencana perjalanan liburan.

Dari tujuh orang yang akan berangkat, Mawar menyebut hanya empat orang yang dijanjikan mendapat tambahan uang saku untuk kebutuhan perjalanan.

Sebelum dirinya dipanggil, Mawar mengatakan seorang rekan terlebih dahulu diminta masuk ke ruangan atasannya. Tidak lama berselang, ia kemudian mendapat panggilan serupa.

"Pada hari kejadian ada satu rekan saya dipanggil terlebih dahulu ke ruangannya," ujar Mawar saat memberikan keterangan kepada awak media, Minggu (26/7/2026).

Ketika menerima panggilan tersebut, Mawar mengaku sedang melakukan video call dengan suaminya. Sang suami mengetahui dirinya diminta masuk ke ruangan atasan dan meminta agar sambungan komunikasi tetap berlangsung.

"Saya sedang video call dengan suami. Suami saya tahu saya dipanggil ke ruangan beliau dan berpesan agar jangan mematikan panggilan video," katanya.

Setelah berada di dalam ruangan, Mawar mengaku diminta duduk oleh atasannya. Tidak lama kemudian, ia diperintahkan untuk menutup mata sebelum diminta memilih salah satu dari dua amplop.

Mawar mengaku sempat merasa tidak nyaman dengan instruksi tersebut. Meski demikian, ia tetap mengikuti arahan karena atasannya menyampaikan bahwa terdapat dua amplop yang harus dipilih.

"Beliau bilang, 'Ini ada dua amplop, kamu pilih, tapi kamu tutup mata dulu'," ucapnya.

Korban Mengaku Menolak dan Berusaha Mundur

Mawar menuturkan, saat menutup mata itulah dirinya mengaku mengalami tindakan yang diduga sebagai pelecehan seksual.

Ia mengaku terkejut dan spontan berusaha menjauh dari atasannya.

"Saya langsung refleks mundur. Dalam keadaan syok dan ketakutan saya bilang, 'Pak jangan pak, saya tidak mau kayak gini caranya. Kalau kayak gini caranya saya ada uang pak'," katanya menceritakan sambil menangis.

Menurut Mawar, setelah melihat reaksinya, atasannya langsung meminta maaf dan mengatakan tidak memiliki niat melecehkannya.

"'Saya tidak bermaksud melecehkan kamu. Kamu ambil amplop dua-duanya ya, jangan bilang siapa-siapa'," ujar Mawar menirukan ucapan atasannya.

Meski demikian, ia mengaku tetap menolak mengambil amplop tersebut.

Korban mengatakan perdebatan berlangsung sekitar 15 menit. Karena merasa takut dan melihat atasannya mulai kesal, ia akhirnya mengambil amplop tersebut agar bisa segera keluar dari ruangan.

"Saya mengambil amplop itu supaya cepat bisa keluar dari ruangan," tuturnya.

Suami Datangi Ruangan, Korban Mengaku Masih Trauma hingga Kini

Mawar mengatakan, suaminya yang mendengar percakapan melalui sambungan video call saat itu, setelahnya langsung mendatangi ruangan atasannya.

Menurutnya, sang suami mempertanyakan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.

"Beliau hanya meminta maaf kepada saya dan suami saya," katanya.

Beberapa hari setelah kejadian, tepatnya Senin (19/1/2026), suaminya menghadap Kapolda Sumbar yang saat itu menjabat untuk melaporkan peristiwa tersebut.

Ia mengatakan pimpinan kemudian mengambil langkah dengan memindahkannya ke satuan kerja lain.

"Namun sebenarnya saya masih trauma bertemu dengan beliau. Walaupun sudah pindah satker, masih sama-sama di lingkungan Polda Sumbar, tetapi ruangannya sudah berjauhan," ujarnya.

Mawar mengaku sejak saat itu tidak pernah lagi bertemu secara langsung dengan terduga pelaku, kecuali sesekali berpapasan dari kejauhan.

Korban Mengaku Sempat Diminta Menyelesaikan Secara Kekeluargaan

Selain dipindahkan, Mawar mengaku dirinya bersama keluarga beberapa kali dipanggil oleh pimpinan Polda Sumbar.

Ia menyebut telah tiga kali dipanggil Wakapolda dan juga pernah bertemu Kapolda yang menjabat saat itu.

"Dari awal kejadian kami sudah dipanggil. Kami diminta menyelesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.

Tak hanya itu, Mawar mengaku menerima pesan WhatsApp dari nomor anonim yang berisi ancaman.

Ia menyebut isi pesan tersebut mengarah pada ancaman pemecatan tidak dengan hormat (PTDH) atau mutasi jauh apabila persoalan tersebut terus berlanjut.

Selain tekanan melalui pesan, Mawar mengaku merasakan tekanan sosial di lingkungan kerjanya.

"Saya merasa dipandang hina oleh rekan-rekan saya di kantor. Itu yang menjadi beban bagi saya. Saya berharap ada perlindungan dan keadilan bagi saya," katanya.

Saat ditanya apakah rekan-rekan lain mengalami hal serupa, Mawar mengaku tidak mengetahui secara pasti.

Ia hanya mengingat seorang rekannya juga sempat dipanggil masuk ke ruangan pada hari yang sama. Namun, menurutnya, di antara mereka tidak pernah saling menceritakan apa yang dialami.

"Kami juga tidak ada menceritakan apa pun satu sama lain," ujarnya.

Sumber: TribunPadang.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.