Adu Potensi Ekonomi Dua Kota Budaya: PAD Palembang vs Solo, Mana Lebih Superior?
Yandi Triansyah July 27, 2026 11:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kota Surakarta atau yang akrab disapa Solo terkenal luas sebagai salah satu pusat jantung kebudayaan Jawa.

Kota ini tak pernah sepi dari incaran wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menjadi surga destinasi kuliner tradisional yang legendaris.

Di seberang Pulau Sumatera, Kota Palembang berdiri kokoh sebagai salah satu kota tertua di Indonesia.

Sama halnya dengan Solo, Palembang menyimpan kekayaan sejarah Kerajaan Sriwijaya yang megah, kebudayaan Melayu yang kental, hingga warisan kuliner khasnya yang mendunia.

Baca juga: Adu Gaji Bos dan  Manajer: Sumsel vs Sumut, Mana yang Lebih Makmur?

Sama-sama bertumpu pada pesona budaya, pariwisata, dan industri ekonomi kreatif, lantas bagaimana jika kedua kota ini diadu dari segi daya mandiri keuangannya?

Seberapa besar Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mampu ditangguk oleh Palembang dibandingkan dengan Solo?

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan per Minggu (26/7/2026), terdapat perbedaan skala postur keuangan yang cukup mencolok antara kedua wilayah ini.

Palembang Pasang Target Rp 2,3 Triliun, Realisasi Tembus Rp 906 Miliar

Sebagai metropolitan terbesar di Sumatra Selatan sekaligus pusat jasa dan perdagangan regional, Kota Palembang mematok skala anggaran PAD yang terbilang jumbo.

Pada tahun anggaran 2026, pagu target PAD Kota Palembang ditetapkan mencapai Rp 2,3 triliun.

Hingga kurun pertengahan tahun, yakni per 26 Juli 2026, Kota Palembang tercatat berhasil merealisasikan PAD sebesar Rp 906 miliar.

Jika dibedah, porsi penopang utama PAD Palembang berasal dari penerimaan pajak daerah yang menyumbang angka signifikan sebesar Rp 792,13 miliar.

Selanjutnya, sektor retribusi daerah memberikan kontribusi sebesar Rp 83,11 miliar.

Adapun dari pos hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan menyetor Rp 14,70 miliar, serta pos lain-lain PAD yang sah mencatatkan realisasi sebesar Rp 16,27 miliar.

Solo Targetkan PAD Rp 1 Triliun, Realisasi Capai Rp 440,87 Miliar

Sementara itu, Kota Solo bergerak dengan skala anggaran yang lebih kompak namun efisien.

Pagu target PAD Kota Solo untuk tahun anggaran 2026 dipatok berada di angka Rp 1 triliun.

Memasuki paruh kedua tahun 2026, realisasi PAD Kota Solo per 26 Juli 2026 telah menyentuh angka Rp 440,87 miliar.

Sektor pajak daerah masih menjadi tulang punggung utama Kota Solo dengan realisasi mencapai Rp 313,57 miliar.

Uniknya, untuk kota bertipe compact city seperti Solo, penerimaan dari sektor retribusi daerah terbilang cukup menonjol, yakni menyumbang Rp 85,17 miliar angka yang bahkan sedikit melampaui raihan retribusi Kota Palembang.

Untuk pos hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, Solo mencatatkan realisasi Rp 13,34 miliar, serta pos lain-lain PAD yang sah menyumbangkan penerimaan sebesar Rp 28,80 miliar.

Dari perbandingan angka tersebut, Kota Palembang secara volume keluar sebagai unggulan dengan target anggaran dan total realisasi PAD yang mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding Kota Solo.

Hal ini terbilang wajar mengingat cakupan wilayah geografis Palembang yang jauh lebih luas, jumlah penduduk yang lebih banyak, serta posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi bagi kabupaten/kota di sekitarnya.

Aktivitas bisnis hotel, restoran, hiburan, dan pajak penerangan jalan di Palembang menyokong penerimaan pajak daerah hingga mendekati angka Rp 800 miliar pertengahan tahun ini.

Di sisi lain, Kota Solo menunjukkan performa pengumpulan retribusi dan pengelolaan PAD yang sangat efektif untuk ukuran kota otonom berwilayah padat.

Sektor retribusi jasa umum, usaha, dan perizinan terbukti mampu memberikan kontribusi besar bagi pundi-pundi daerahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.