Pesan Tegas Maman Imanulhaq untuk NU: Fokus Layani Umat, Bukan Sibuk dengan Elite
Muhammad Zulfikar July 27, 2026 01:20 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanulhaq mengingatkan Nahdlatul Ulama (NU), agar kembali memperkuat perannya sebagai organisasi sosial-keagamaan yang berorientasi pada pelayanan umat menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU pada Agustus 2026 mendatang.

Menurut Maman, kepemimpinan NU ke depan perlu lebih memprioritaskan penguatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, serta menjawab kebutuhan warga nahdliyin di tingkat akar rumput.

Baca juga: Otoritas Keulamaan Nahdlatul Ulama: Menimbang Rais Aam Menjelang Muktamar Ke-35 NU

Dia menilai ukuran keberhasilan organisasi tidak ditentukan oleh dinamika elite maupun kedekatan dengan kekuasaan, melainkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

"Nahdlatul Ulama didirikan bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai gerakan sosial-keagamaan yang menjaga agama sekaligus memperjuangkan kemaslahatan umat. Sejak didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, NU memiliki tiga pilar utama, yaitu menjaga tradisi keilmuan Islam, membela kepentingan rakyat kecil, dan mengawal kebangsaan," kata Maman kepada Tribunnews.com, Senin (27/7/2026).

Baca juga: Jelang Muktamar PBNU, Cak Imin: Bongkar Praktik Politik Uang, Kembalikan NU ke Ulama

Maman mengakui dalam lima tahun terakhir NU mencatat sejumlah capaian, khususnya dalam memperkuat diplomasi internasional dan menyuarakan perdamaian dunia. 

Namun, ia menilai masih terdapat jarak antara kepemimpinan organisasi dengan kebutuhan warga nahdliyin di tingkat bawah.

"Dalam lima tahun terakhir, saya melihat ada sejumlah capaian, terutama dalam penguatan diplomasi internasional dan narasi perdamaian dunia. Namun, harus diakui pula bahwa banyak warga NU di tingkat akar rumput merasakan semakin lebarnya jarak antara kepemimpinan organisasi dengan kebutuhan riil jamaah," kata legislator berlatar belakang NU tersebut.

Di bidang pendidikan, Maman menilai NU memiliki kekuatan besar melalui ribuan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi. 

Menurutnya, potensi tersebut perlu diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat kemandirian lembaga pendidikan.

"Di bidang pendidikan misalnya, NU memiliki ribuan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi. Sayangnya, energi organisasi belum sepenuhnya diarahkan untuk memperkuat kualitas pendidikan, meningkatkan kesejahteraan guru, mempercepat digitalisasi pesantren, ataupun membangun kemandirian ekonomi lembaga pendidikan NU. Padahal, di sinilah basis kekuatan NU yang sesungguhnya," katanya.

Selain sektor pendidikan, Maman juga menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi umat. Ia berharap NU mampu menjadi motor penggerak ekonomi melalui penguatan koperasi, UMKM, pertanian, dan industri halal.

"Begitu pula dalam bidang pemberdayaan ekonomi. NU seharusnya menjadi lokomotif ekonomi umat melalui penguatan koperasi, UMKM, pertanian, dan industri halal. Tetapi yang lebih banyak terlihat justru dinamika politik elite dan berbagai kontroversi yang menguras perhatian publik," ucapnya.

Maman menyebut hasil Ijtima Ulama PKB menjadi refleksi bagi NU untuk kembali meneguhkan khittah perjuangannya sebagai organisasi yang berorientasi pada pelayanan umat.

"Hasil Ijtima Ulama PKB menjadi salah satu refleksi penting bahwa NU perlu kembali pada khittah perjuangannya, yaitu melayani umat, bukan sekadar menjadi panggung elite organisasi. Ukuran keberhasilan NU bukan banyaknya pertemuan internasional atau kedekatan dengan pusat kekuasaan, melainkan sejauh mana warga nahdliyin merasakan manfaat nyata dalam pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan keadilan sosial," katanya.

Maman menambahkan, masa depan dan kebesaran NU akan sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi mendengar aspirasi para kiai kampung, pesantren, majelis taklim, serta warga nahdliyin di tingkat akar rumput.

"NU akan kembali besar apabila kepemimpinannya lebih banyak mendengar suara para kiai kampung, pesantren, majelis taklim, dan warga di akar rumput daripada sekadar membangun citra di tingkat nasional maupun global," pungkas Maman.

Baca juga: Jelang Muktamar PBNU, Guru Besar UGM Ungkap Potensi Tarik Menarik Kekuasaan

Diketahui, Panitia Muktamar ke-35 PBNU memutuskan bahwa Muktamar ke-35 NU bakal digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026.

Keputusan itu disahkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/7/2026).

"Akhirnya Rapat Gabungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menetapkan Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, yang didirikan oleh Kiai Wahab Chasbullah, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan diselenggarakan pada 27 Agustus 2026," kata Ketua Panitia OC Muktamar Ke-35 NU H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) usai rapat. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.