Purwokerto (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banyumas masih menunggu hasil investigasi Polresta Banyumas terkait penyebab ambruknya tribun VIP saat ajang Drift Speed Fest di Gelanggang Olahraga Satria, Purwokerto, Minggu (26/7) yang mengakibatkan puluhan orang menjadi korban.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono di Purwokerto, Senin, mengatakan pemerintah daerah bersama kepolisian telah membentuk dua tim untuk menangani insiden tersebut.
Menurut dia, tim pertama dipimpin Polresta Banyumas untuk menyelidiki penyebab ambruknya tribun, sedangkan tim kedua dipimpin pemerintah daerah bersama penyelenggara untuk menangani para korban.
"Tim satu tentunya dari Polres akan melakukan investigasi. Sudah dilakukan dan belum selesai. Jadi, nanti kesimpulannya apa, menunggu hasil dari Polres," katanya.
Sadewo mengatakan seluruh korban yang masih menjalani perawatan telah dikunjungi bersama pihak penyelenggara sebagai bentuk tanggung jawab terhadap para korban.
Sementara itu, lokasi tribun yang ambruk telah dipasang garis polisi guna mendukung proses penyelidikan oleh Polresta Banyumas.
Ia menyebut berdasarkan data sementara jumlah korban mencapai sekitar 90 orang.
Sebelumnya, pemerintah daerah melaporkan 75 korban, namun pendataan terus diperbarui seiring proses verifikasi terhadap korban yang telah dipulangkan, masih menjalani rawat inap, maupun dalam observasi.
Menurut dia, kondisi korban bervariasi, mulai dari luka ringan, pingsan, hingga patah tulang. Seorang ibu hamil dengan usia kandungan delapan bulan juga menjadi korban, namun kondisi ibu dan janinnya dipastikan aman.
Sadewo menegaskan penanganan korban tetap menjadi prioritas pemerintah daerah sembari mendukung proses investigasi yang dilakukan kepolisian.
"Yang jelas tidak ada yang menghendaki ini terjadi. Namanya musibah," katanya.
Sementara itu, tim yang dia pimpin mendatangi korban di RST Wijayakusuma, RS Elisabeth, Unit Geriatri RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, RS Ananda, RS Dadi Keluarga, RS Wiradadi Husada, RS Orthopaedi, RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, RS Sinar Kasih, RS JIH Purwokerto, dan RSUD Banyumas.
Khusus korban yang menjalani perawatan di RSUD Banyumas, kata dia, dilakukan dengan cara menyapa melalui panggilan video karena kunjungan dilakukan hingga larut malam.
"Semua saya kunjungi satu per satu dan saya mengajak pihak penyelenggara. Mereka bertanggung jawab dan cukup kooperatif," katanya.





