Minum Jus Jambu Saat DBD? Dokter Ungkap Fakta yang Masih Sering Disalahpahami
Wiwit Purwanto July 27, 2026 01:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Jus jambu biji merah maupun minuman isotonik kerap menjadi pilihan masyarakat ketika anggota keluarga terserang demam berdarah dengue (DBD). Namun, keduanya bukan obat untuk menyembuhkan infeksi virus dengue.

Dokter Spesialis Anak RSIA Kendangsari Surabaya, dr. Adelia Lavenialita, menjelaskan jus jambu maupun minuman isotonik hanya berfungsi sebagai terapi pendukung untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan tubuh.

Manfaat tersebut terutama dirasakan pada pasien DBD dengan gejala ringan yang belum mengalami tanda bahaya (warning signs).

"Yang bermanfaat bukan jusnya sebagai obat, tetapi kandungan nutrisi di bijinya. Itu pun hanya sebagai penunjang, bukan untuk menyembuhkan demam berdarah. Begitu pula cairan isotonik, itu untuk hidrasi awal," ujar dr. Adelia kepada SURYA.CO.ID saat ditemui di acara Hari Anak Nasional di Tunjungan Plaza Surabaya, Minggu (26/7/2026).

Ia juga meluruskan anggapan bahwa jus jambu mampu meningkatkan trombosit pasien DBD.

Baca juga: Tanaman Lokal Jadi Senjata Baru Cegah DBD, Mahasiswa UNUSA Libatkan Warga Secara Langsung

Menurutnya, penanganan demam berdarah tidak hanya bergantung pada jumlah trombosit, tetapi juga mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan hasil pemeriksaan lain, seperti kadar hematokrit.

"Demam berdarah tidak hanya dinilai dari trombosit. Ada parameter lain seperti hematokrit dan yang paling penting adalah kondisi klinis pasien. Jika ingin mengonsumsi jambu, buah utuh lebih baik daripada hanya dibuat jus, tetapi bukan berarti bisa menggantikan pengobatan," katanya.

DBD Berat Harus Ditangani Tenaga Medis

Dr. Adelia menjelaskan hal serupa berlaku pada minuman isotonik atau cairan elektrolit. Minuman tersebut memang dapat membantu mencegah dehidrasi pada fase awal penyakit, tetapi tidak dapat menggantikan terapi medis ketika kondisi pasien memburuk.

Menurutnya, pada kasus DBD berat terjadi kebocoran plasma yang menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah sehingga penanganannya harus dilakukan secara ketat oleh tenaga kesehatan.

"Kalau cairan diberikan berlebihan, justru bisa masuk ke paru-paru dan menimbulkan komplikasi. Karena itu pasien yang sudah mengalami DBD berat memerlukan pemantauan ketat dan terapi cairan melalui infus sesuai kondisi klinis," jelasnya.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak mengandalkan jus jambu maupun minuman isotonik sebagai satu-satunya cara mengatasi DBD.

Baca juga: Waspadai Lonjakan Kasus DBD di Mojokerto sudah Renggut Nyawa Bocah 5 tahun

Apabila demam tinggi tidak kunjung turun, tubuh semakin lemas, mengalami dehidrasi, atau muncul tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, maupun perdarahan, pasien harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

"Segera konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat," tegasnya.

Pencegahan Jadi Cara Paling Efektif

Dr. Adelia menambahkan, hingga kini belum ada obat yang secara spesifik dapat menyembuhkan ataupun mencegah infeksi virus dengue. Karena itu, pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kasus dan komplikasi DBD.

Selain menjalankan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, masyarakat juga dapat mempertimbangkan vaksinasi dengue sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Vaksin dengue dapat diberikan kepada anak maupun orang dewasa sesuai indikasi dengan jadwal dua dosis yang diberikan dalam interval tiga bulan.

Terkait keamanannya, dr. Adelia mengatakan efek samping vaksin dengue umumnya ringan, seperti nyeri atau sedikit bengkak pada lokasi suntikan.

"Sejauh ini belum ada laporan efek samping serius yang signifikan. Efek yang muncul umumnya hanya nyeri atau bengkak ringan pada bekas suntikan," pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.