TRIBUNJOGJA.COM - Bagi pencinta musik, terutama musik Barat dan K-Pop, pasti sudah tidak asing dengan istilah Chart Billboard atau Billboard Charts.
Setiap kali penyanyi atau grup idola berhasil masuk ke dalam chart ini, para penggemarnya biasanya langsung merayakannya.
Bahkan, tidak sedikit artis yang menjadikan Billboard sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan karier mereka.
Hal tersebut bukan tanpa alasan. Bagi musisi yang berasal dari luar Amerika Serikat, termasuk artis K-Pop, masuk ke Chart Billboard bukanlah perkara mudah.
Mereka harus bersaing dengan musisi-musisi dunia yang memiliki pasar besar di Amerika Serikat, yang hingga kini masih menjadi salah satu pusat industri musik global.
Lantas, sebenarnya apa itu Chart Billboard? Bagaimana sejarahnya, mengapa dianggap sangat bergengsi, apa perbedaan Billboard Hot 100 dan Billboard 200, serta bagaimana cara perhitungannya? Berikut penjelasannya.
Secara sederhana, Chart Billboard adalah daftar peringkat lagu dan album paling populer di Amerika Serikat yang diterbitkan setiap minggu oleh Billboard, sebuah media yang telah lama menjadi acuan industri musik dunia.
Peringkat ini menunjukkan lagu atau album mana yang sedang paling banyak didengarkan, dibeli, maupun diputar oleh masyarakat dalam periode tertentu.
Karena menggunakan data konsumsi musik secara nyata, Chart Billboard sering dijadikan tolok ukur kesuksesan seorang musisi di tingkat internasional.
Berdasarkan arsip resmi Billboard dan Penske Media Corporation (PMC), perjalanan Billboard dimulai jauh sebelum menjadi tangga lagu musik seperti sekarang.
Pada 1 November 1894, William H. Donaldson dan James H. Hennegan mendirikan majalah Billboard Advertising di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat.
Saat itu, majalah tersebut belum membahas musik, melainkan berfokus pada industri periklanan seperti poster, sirkus, karnaval, dan pertunjukan keliling.
Seiring berkembangnya industri hiburan, Billboard mulai memperhatikan dunia musik. Pada 1913, mereka menerbitkan daftar musik terlaris berdasarkan penjualan lembar notasi atau sheet music.
Kemudian pada 1936, Billboard mulai merilis tangga lagu berdasarkan penjualan piringan hitam yang populer di mesin jukebox.
Perkembangan berikutnya terjadi pada 1940, ketika Billboard mulai menghitung penjualan musik secara nasional di berbagai toko musik di Amerika Serikat.
Lalu pada 1945, Billboard meluncurkan daftar album terlaris yang menjadi cikal bakal Billboard 200.
Tonggak sejarah terpenting terjadi pada 4 Agustus 1958, saat Billboard resmi meluncurkan Billboard Hot 100, yaitu tangga lagu yang menggabungkan data penjualan lagu, pemutaran radio, dan popularitas lagu secara nasional.
Memasuki era digital, Billboard terus memperbarui sistemnya. Pada 1991, pencatatan manual digantikan oleh sistem elektronik SoundScan, yang kini dikenal sebagai Luminate.
Kemudian sejak 2005, Billboard mulai memasukkan data unduhan digital dari platform seperti iTunes. Seiring berkembangnya layanan streaming, data dari Spotify, Apple Music, YouTube Music, hingga Amazon Music juga ikut dihitung dalam penentuan peringkat.
Baca juga: Tren Y2K Ramai Lagi, Ternyata Ini yang Membuat Banyak Gen Z Menyukainya
Ada beberapa alasan mengapa Chart Billboard menjadi salah satu pencapaian paling bergengsi bagi musisi di seluruh dunia.
Pertama, Billboard tidak menggunakan sistem voting penggemar. Posisi lagu maupun album ditentukan berdasarkan data konsumsi musik yang benar-benar terjadi di masyarakat.
Kedua, seluruh data tersebut dikumpulkan dan diverifikasi oleh Luminate, perusahaan riset data yang menjadi mitra resmi Billboard. Data berasal dari berbagai sumber, mulai dari penjualan album, layanan streaming, hingga pemutaran lagu di ribuan stasiun radio.
Ketiga, posisi di Billboard sering dijadikan indikator kesuksesan komersial seorang artis. Prestasi tersebut dapat mempengaruhi nilai kontrak rekaman hingga reputasi mereka di industri musik internasional.
Baca juga: Apa Dampaknya Bagi Kita Bila AI Dibatasi oleh Pemerintah AS?
Meski sama-sama diterbitkan oleh Billboard, kedua chart ini memiliki fungsi yang berbeda.
Billboard Hot 100 merupakan tangga lagu yang mengukur popularitas lagu atau single.
Setiap minggu, Billboard menyusun daftar 100 lagu yang paling populer berdasarkan gabungan data penjualan lagu, jumlah streaming, dan pemutaran di radio.
Karena hanya berfokus pada lagu, satu artis dapat memiliki beberapa lagu sekaligus di dalam Billboard Hot 100.
Sementara itu, Billboard 200 digunakan untuk mengukur popularitas album secara keseluruhan.
Chart ini berisi 200 album dengan konsumsi tertinggi setiap minggunya.
Penilaiannya tidak hanya berasal dari penjualan album fisik maupun digital, tetapi juga menghitung total streaming seluruh lagu yang terdapat di dalam album tersebut.
Menurut metodologi resmi Billboard dan Luminate, peringkat chart dihitung menggunakan kombinasi dari beberapa komponen utama.
1. Penjualan Musik
Komponen pertama adalah penjualan, baik dalam bentuk album fisik seperti CD dan vinyl maupun pembelian lagu secara digital.
Semakin banyak penjualan yang tercatat, semakin besar peluang lagu atau album memperoleh posisi tinggi.
2. Streaming
Komponen berikutnya adalah jumlah pemutaran lagu di platform streaming seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Amazon Music.
Billboard juga memberikan bobot yang berbeda pada jenis layanan streaming. Pemutaran dari akun berbayar (premium) memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan akun gratis yang didukung iklan.
3. Radio Airplay
Selain penjualan dan streaming, Billboard juga memperhitungkan seberapa sering lagu diputar di berbagai stasiun radio di Amerika Serikat.
Yang dihitung bukan hanya jumlah pemutarannya, tetapi juga estimasi jumlah pendengar yang mendengarkan lagu tersebut ketika diputar.
Karena saat ini semakin sedikit orang membeli album fisik, Billboard menggunakan sistem yang disebut Album Equivalent Units.
Artinya, konsumsi album tidak hanya dihitung dari jumlah album yang terjual, tetapi juga dari aktivitas mendengarkan lagu-lagu di dalam album tersebut.
Sebagai contoh:
Streaming lagu-lagu dalam album juga dikonversi menjadi satuan album melalui sistem Streaming Equivalent Album (SEA), dengan jumlah stream tertentu yang ditetapkan oleh Billboard dan Luminate.
Sistem ini membuat penilaian Billboard tetap relevan dengan kebiasaan masyarakat modern yang lebih banyak mendengarkan musik melalui layanan streaming dibanding membeli album fisik.
(MG ABIL PRAMUDYA)