Trauma Kehilangan Ayah Secara Mendadak, Dua Anak KD Alami Gangguan Kecemasan dan Sulit Tidur
Ida Ayu Suryantini Putri July 27, 2026 02:41 PM

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Psikolog Dinas Sosial P3A Buleleng mulai memberikan pendampingan psikologis kepada istri dan dua anak KD.

Berdasarkan hasil asesmen awal, kedua anak korban masih mengalami trauma psikis yang memicu gangguan kecemasan hingga gangguan tidur setelah kehilangan ayah mereka secara mendadak.

Psikolog Dinas Sosial P3A Buleleng, Tasya Yumika, mengatakan pendampingan dilakukan sejak sekitar pukul 10.00 Wita dan berlangsung hampir dua jam.

Selain kedua anak korban, pihaknya juga melakukan wawancara mendalam terhadap ibu korban untuk mengetahui kondisi psikologis keluarga setelah peristiwa tersebut.

Baca juga: 5 Tersangka Pengeroyokan Terduga Pencuri Ayam di Baturiti Bali Terancam Pasal 262, Ini Hukumannya!

"Anaknya sedang menghadapi peristiwa kehilangan yang sangat berat. Respons emosionalnya cukup besar. Dari hasil wawancara, mereka sudah mulai bisa bercerita, tetapi masih ada dampak berupa gangguan kecemasan dan gangguan tidur," ujar Tasya, Senin (27/7/2026).

Dalam proses pendampingan, psikolog menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan usia anak.

Untuk anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, pendampingan dilakukan melalui media menggambar agar mereka lebih mudah mengekspresikan perasaan dibandingkan dengan wawancara mendalam.

Menurut Tasya, seluruh anggota keluarga yang didampingi sama-sama merasakan trauma akibat kehilangan orang tua secara tiba-tiba.

Baca juga: Soroti Kasus Terduga Maling Ayam Tewas di Bali, Menteri HAM Peringatkan Ancaman Main Hakim Sendiri

Karena itu, fokus utama pendampingan saat ini adalah membangun kembali rasa aman dan memberikan dukungan emosional melalui pendekatan konseling.

"Kami lebih fokus melindungi rasa aman mereka terlebih dahulu dan memastikan kondisinya lebih baik dari sebelumnya melalui pendampingan emosional," katanya.

Ia menegaskan pendampingan tidak berhenti dalam satu kali pertemuan.

Dinas Sosial P3A Buleleng akan terus memantau perkembangan kondisi psikologis anak serta menyesuaikan bentuk pendampingan dengan situasi keluarga dan lingkungan sekitar.

Selain kehilangan ayah, anak-anak korban juga berpotensi terdampak oleh masifnya informasi yang beredar di media sosial.

Tasya mengakui kondisi tersebut dapat menambah beban psikologis anak, terlebih jika mereka melihat video maupun menerima berbagai pertanyaan dari lingkungan sekitar.

Meski demikian, ia enggan memaparkan hasil asesmen secara lebih rinci karena berkaitan dengan perlindungan terhadap anak.

Pihaknya memilih memprioritaskan pemulihan psikologis agar anak dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara bertahap.

"Kami berfokus pada rasa aman anak dan bagaimana nantinya mereka bisa kembali menjalani aktivitas setelah peristiwa ini," pungkasnya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.