Diskominfo Loteng Sambangi SMAN 1 Praya Barat Daya, Edukasi Bahaya Judol dan Pinjol
Laelatunniam July 27, 2026 04:05 PM

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Di tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi yang kian pesat, sebuah benteng pertahanan bagi generasi muda mulai dibangun di SMA Negeri 1 Praya Barat Daya, Senin (28/7/2026).

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Lombok Tengah hadir dengan misi khusus melalui Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik.

Berkolaborasi dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mataram, mereka mengusung tema “Cerdas Digital, Masa Depan Aman: Membentengi Generasi Muda dari Jeratan Judi Online dan Pinjaman Online Ilegal”.

Kepala SMAN 1 Praya Barat Daya, Baiq Budiati, menyambut hangat inisiatif ini sebagai langkah antisipatif terhadap penyalahgunaan aplikasi digital. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa kemudahan akses teknologi saat ini ibarat pisau bermata dua yang memerlukan kehati-hatian ekstra.

“Di era digital, berbagai aplikasi dan media sosial dapat diakses dengan sangat cepat,” ucap Baiq Budiati di hadapan para siswanya.

Ia juga menegaskan bahwa kecepatan tersebut harus dibarengi dengan kemampuan memilah mana yang bermanfaat dan mana yang membawa dampak negatif.

Suasana semakin serius namun menarik ketika Iswandy Khairy Ramen, Kepala Bidang PIKP Diskominfo Lombok Tengah, naik ke podium sebagai narasumber utama. Ia memulai paparannya dengan membedah rahasia di balik algoritma media sosial yang sering kali tidak disadari oleh para remaja.

“Apabila kita sering membuka konten tertentu, konten serupa akan terus muncul di beranda,” jelas Iswandy.

Oleh karena itu, ia mengajak para siswa untuk secara sadar memilih konten positif agar ekosistem digital mereka tetap sehat dan bermanfaat.

Iswandy kemudian memaparkan data yang cukup mencengangkan mengenai penetrasi judi online di kalangan anak muda. Berdasarkan data Komdigi, terindikasi sekitar 200 ribu anak muda telah mengakses judi online secara nasional, di mana lebih dari 80 ribu di antaranya masih berstatus anak di bawah umur.

Kekhawatiran semakin mendalam ketika ia menyebutkan bahwa pada tahun 2026 ini, kerugian akibat judi online diperkirakan hampir menyentuh angka fantastis Rp1.000 triliun.

Angka ini menunjukkan betapa masifnya dampak ekonomi yang menghantam masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang paling rentan.

Dengan nada tegas, Iswandy meminta para siswa untuk tidak sekalipun mencoba-coba masuk ke dunia perjudian digital tersebut.

Ia membongkar rahasia bahwa kemenangan dalam judi online hanyalah sebuah umpan yang telah diatur oleh sistem untuk menjerat pemain agar terus merasa penasaran.

“Sekali menang, bisa sepuluh kali kalah karena sistemnya sudah diatur agar pemain tidak pernah benar-benar menang,” tegas Iswandy.

Bahaya tidak berhenti di sana, karena kecanduan judi online sering kali menjadi pintu masuk bagi masalah baru yang tak kalah pelik: pinjaman online ilegal.

Ketika uang habis dan rasa penasaran memuncak, pelaku judi kerap kali nekat meminjam uang secara instan melalui aplikasi yang justru menambah beban utang serta tekanan bagi keluarga.

Fenomena yang lebih memprihatinkan juga diungkap, di mana remaja yang belum memiliki KTP sering kali menggunakan identitas orang tua mereka tanpa izin untuk mengakses layanan pinjaman online.

Akibatnya, banyak orang tua yang terkejut karena tiba-tiba harus menghadapi tagihan pinjaman yang tidak pernah mereka lakukan.

Sebagai langkah praktis, Iswandy menyarankan para siswa untuk segera menutup atau melewati setiap iklan judi dan pinjaman online yang muncul di layar ponsel mereka. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya perlindungan data pribadi agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ITE.

“Jangan mudah memberikan data pribadi kepada pihak lain,” pungkas Iswandy.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.