Maraknya Begal Tak hanya Soal Keamanan, Guru Besar UIN Bandung: Komunikasi Jadi Kunci Penyelesaian
Seli Andina Miranti July 27, 2026 04:33 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Maraknya aksi begal dan geng motor di berbagai daerah di Jawa Barat belakangan ini tidak hanya memunculkan rasa takut di tengah masyarakat, tetapi juga memicu berbagai respons yang berujung pada tindakan main hakim sendiri. 

Seruan “Awas Ada Begal” yang beredar luas di media sosial dan grup percakapan, aksi pengeroyokan terhadap terduga pelaku, hingga bentrokan antarkelompok menjadi gambaran bahwa persoalan begal telah berkembang menjadi persoalan sosial yang kompleks.

Guru Besar Ilmu Komunikasi sekaligus Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Enjang, M.Ag., M.Si., menilai persoalan begal tidak bisa dipandang semata-mata sebagai masalah kriminalitas atau keamanan. 

Baca juga: DPRD Jabar Soroti Sayembara Begal, Aten Munajat: Penegakan Hukum Harus Sesuai Koridor

Di balik maraknya aksi tersebut terdapat pola komunikasi yang turut membentuk, memperkuat, bahkan memperluas fenomena begal.

GURU BESAR - Guru Besar Ilmu Komunikasi sekaligus Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Enjang, M.Ag., M.Si.
GURU BESAR - Guru Besar Ilmu Komunikasi sekaligus Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Enjang, M.Ag., M.Si. (Istimewa/Dok UIN SGD)

“Persoalan begal bukan perkara keamanan semata, melainkan juga persoalan komunikasi. Para begal berkomunikasi sebagai bentuk koordinasi antaranggota kelompoknya. Media membingkai berbagai kejadian sebagai ulah begal. Masyarakat memberikan respons atas rasa tidak amannya, dan aparat juga berkomunikasi dengan masyarakat. Semua itu merupakan bagian dari komunikasi yang dapat menjadi solusi dalam menyelesaikan persoalan begal,” ujar Prof Enjang, Senin (27/7/2026).

Enjang menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam berkembangnya kelompok begal.

“Artinya, untuk memutus mata rantai begal, aparat juga perlu memahami jaringan simbol komunikasi yang digunakan para pelaku sehingga langkah pencegahan maupun razia bisa dilakukan secara lebih tepat sasaran,” katanya.

Enjang juga menyoroti peran media massa dan media sosial dalam membentuk persepsi publik terhadap fenomena begal.

Ia menilai narasi yang terus-menerus membesar-besarkan ancaman begal dapat memunculkan rasa takut berlebihan hingga mendorong masyarakat mengambil tindakan sendiri.

Baca juga: Video Viral Ojol Bekuk Begal di Bandung Ternyata Tanpa Bukti, Hadiah Dedi Mulyadi Terancam Batal

Akibatnya, muncul aksi pengeroyokan terhadap orang yang dicurigai sebagai begal atau tindakan balas dendam yang justru memperkeruh situasi keamanan.

Enjang mengatakan cara media membingkai sebuah peristiwa juga sangat menentukan bagaimana masyarakat memahami dan merespons informasi tersebut.

“Apabila begal terus digambarkan sebagai musuh bersama tanpa disertai informasi yang berimbang, masyarakat akan semakin mudah memberikan stigma negatif dan menganggap tindakan main hakim sendiri sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan,” kata dia.

Menurutnya, media maupun netizen dapat menjadi pengingat agar masyarakat lebih berhati-hati ketika berada di wilayah rawan kejahatan, sekaligus menyebarkan informasi mengenai lokasi dan waktu yang berpotensi menjadi titik rawan aksi begal.

Selain itu, media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk mengingatkan keluarga agar lebih memperhatikan aktivitas anak-anak sehingga tidak terjerumus ke dalam kelompok yang kerap membuat keresahan.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang lebih kuat antara aparat keamanan dan masyarakat.

Menurut Enjang, jumlah personel kepolisian yang terbatas membuat kolaborasi dengan masyarakat menjadi sangat penting dalam mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan.

Selain aparat dan masyarakat, Enjang juga mendorong dibangunnya jaringan komunikasi dengan tokoh agama dan lembaga keagamaan.

“Jaringan komunikasi antara aparat dengan pemuka agama dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat dalam mencegah kejahatan begal karena ikatan komunikasi yang dimiliki tokoh agama sangat personal, kuat, dan melekat,” katanya.

Baca juga: Video Viral Ojol Bekuk Begal di Bandung Ternyata Tanpa Bukti, Hadiah Dedi Mulyadi Terancam Batal

Enjang menambahkan, aksi begal pada dasarnya sering kali berawal dari kelompok pergaulan atau tongkrongan yang kemudian berkembang menjadi tindak kriminal. Perkembangan tersebut terjadi melalui proses komunikasi yang terus berlangsung di dalam kelompok.

“Kalau begal bisa berkembang melalui berbagai bentuk komunikasi, maka penyelesaiannya juga harus melibatkan perbaikan komunikasi di semua lini. Mulai dari keluarga, masyarakat, media, aparat keamanan, hingga tokoh agama harus membangun komunikasi yang kuat agar mata rantai kejahatan ini dapat diputus,” ucapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.