Seorang pejabat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan kekalahan telak Amerika Serikat (AS).
Sekaligus, diklaim gagal mencapai satu pun tujuannya di Iran meskipun disokong oleh sekutunya, Zionis.
Mengutip Tasnim pada (27/7), hal ini diutarakan oleh Kepala Pusat Dokumen Pertahanan Suci IRGC, Jenderal Ramezan Sharif pada Minggu (26/7/2026) malam waktu setempat.
Lebih tepatnya, dia menyatakan bahwa pengerahan seluruh kekuatan militer, politik, ekonomi, dan budaya musuh tetap tidak mampu menundukkan kehendak bangsa Iran.
Washington beserta koalisinya dinilai mengalami kegagalan strategis di setiap tahap pertempuran dalam upaya merealisasikan tujuan jahat mereka.
Keberhasilan Iran meruntuhkan konspirasi kompleks ini merupakan hasil dari pengorbanan para syuhada, kepemimpinan bijaksana Revolusi Islam, serta kesadaran rakyat.
Blok terkoordinasi yang melibatkan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan rezim Zionis gagal total mencapai target operasi mereka.
“(Musuh) menghadapi kegagalan strategis di setiap tahap. Prestasi ini adalah hasil dari darah suci para syuhada, pedoman bijaksana dari Pemimpin yang gugur dan Pemimpin Revolusi Islam yang bijaksana (saat ini), serta kesadaran dan wawasan rakyat yang, dengan mengandalkan identitas keagamaan dan revolusioner mereka, telah menetralisir konspirasi kompleks musuh,” ujarnya.
Seluruh kemampuan spionase, intelijen modern, hingga propaganda masif yang dikerahkan koalisi musuh tidak sanggup meretakkan pertahanan Iran.
Prediksi keliru pihak musuh mengenai runtuhnya sistem pemerintahan Iran pada hari-hari awal perang terbukti tidak berdasar di mata dunia.
Konspirasi paling berbahaya Washington dan Zionis untuk memecah belah wilayah geografis barat dan timur Iran berhasil digagalkan sepenuhnya.
Keteguhan perlawanan rakyat beserta bimbingan strategis Pemimpin Revolusi menjadi kunci utama musnahnya ambisi pemisahan wilayah tersebut.
Pengakuan kekalahan dari Presiden AS menjadi bukti nyata ketidakmampuan musuh dalam mematahkan semangat perjuangan bangsa Iran.
Keberhasilan menumbangkan agenda musuh ini juga tidak lepas dari jasa para komandan pemberani seperti mendiang Letnan Jenderal Mohammad Pakpour.
Jenderal Sharif menekankan bahwa selama empat dekade terakhir, Republik Islam Iran tidak pernah mengalami kekosongan intelektual dalam pengambilan keputusan strategis.
Iran terus berdiri kokoh berkat fondasi pemikiran revolusioner yang murni, teori ilmiah yang mendalam, serta pengalaman pertahanan dan keamanan yang sangat matang.