TRIBUN-TIMUR.COM, SINJAI- Sosok Setiawan (33), warga Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan tewas usai dikeroyok massa di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Setiawan merupakan warga Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah.
Ia dikenal sebagai pribadi yang baik oleh warga di kampung halamannya.
Pria kelahiran Sinjai, 24 Januari 1993 itu meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali.
Peristiwa itu terjadi Sabtu (25/7/2026) sekitar pukul 23.05 Wita.
Ia meninggalkan seorang istri.
Baca juga: Kronologi Warga Sinjai Tewas Dikeroyok di Morowali Menurut Himas
Kepala Desa Kompang, Ansar, mengatakan Setiawan merupakan anak kedua dari lima bersaudara dan menjadi tulang punggung keluarga.
“Beliau (Setiawan) tulang punggung keluarga kasian,” kata Ansar kepada Tribun-Timur.com saat dihubungi melalui WhatsApp, Senin (27/7/2026).
Menurut Ansar, Setiawan selama ini turut membiayai kebutuhan adik-adiknya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.
“Ibunya meninggal pada 2011, sedangkan ayahnya meninggal pada Januari 2026,” ujarnya.
Ansar menuturkan, Setiawan dikenal sebagai sosok yang sabar dan tidak pernah memiliki riwayat melakukan tindak pencurian selama tinggal di Desa Kompang.
Ia juga dikenal rajin beribadah dan kerap melaksanakan salat berjamaah di masjid.
“Setiawan itu orangnya sabar. Sepanjang yang kami tahu, tidak pernah ada riwayatnya mencuri,” ujarnya.
“Dia juga sering ke masjid untuk salat berjamaah. Bukan kami membela, tetapi sejak kecil memang tidak ada riwayatnya mencuri,” lanjutnya.
Jenazah Anzar dimakamkan di samping kuburan ayahnya di Desa Kompang.
“Sudah tadi setelah shalat duhur dimakamkan di samping kuburan ayahnya,” katanya.
Ketua Umum Himpunan Masyarakat Sinjai (Himas) DPC Morowali, Abdul Rahman Masruhim, menjelaskan kronologi pengeroyokan tersebut.
Menurut Abdul Rahman, peristiwa bermula ketika korban datang ke sebuah Indomaret untuk membeli kanebo.
Setelah berbelanja, korban sempat duduk di depan Indomaret.
“Pada saat itu ada seorang ibu yang hendak berbelanja dan meninggalkan sepeda motornya dalam kondisi kunci masih tergantung,” katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com melalui WhatsApp, Senin (27/72026).
“Korban kemudian menaiki motor tersebut, mendorong dan memutarnya serta mencoba menyalakan mesin, tetapi motor itu tidak bisa menyala,” lanjutnya.
Korban kemudian mendorong sepeda motor tersebut.
Tak lama berselang, pemilik kendaraan keluar dari dalam Indomaret dan berteriak histeris sehingga mengundang perhatian warga.
“Awalnya hanya sekitar empat orang yang datang, tetapi karena lokasi Indomaret berada di pertigaan jalan, semakin banyak orang yang berkumpul,” katanya.
Melihat situasi tersebut, korban berlari masuk ke dalam Indomaret untuk menyelamatkan diri dan berlindung di area kasir.
“Di dalam Indomaret korban sudah dipiting lehernya sambil dipukul. Setelah itu korban dibawa keluar dan kembali dipukuli. Massa sudah sangat banyak hingga memenuhi area depan Indomaret dan badan jalan,” ujarnya.
Usai kejadian, korban sempat diamankan dan dibawa ke Klinik IMIP. Namun karena kondisinya tidak dapat ditangani, korban kemudian dirujuk ke RSUD.
“Korban akhirnya meninggal dunia pada malam itu,” katanya.
Abdul Rahman minta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia.
“Kami berharap pihak kepolisian mengusut tuntas kasus penganiayaan ini. Pelaku harus diproses sesuai hukum yang berlaku karena tindakan tersebut telah menghilangkan nyawa seseorang dan tidak mencerminkan rasa kemanusiaan,” ujarnya. (*)